Berdamai atau Hidup Tanpa Corona - JuaraNews Inspirasi Semangat Muda

Hot News


JN-TAM

Inspirasi


  • Dirgahayu Sat Linmas ke-58
    Dirgahayu Sat Linmas ke-58

    NEGARA Republik Indonesia lahir melalui perjuangan bangsa dan pahlawannya yang melepaskan diri dari penjajahan dan sejajar dengan bangsa di dunia.

    Berdamai atau Hidup Tanpa Corona
    ilustrasi

    Berdamai atau Hidup Tanpa Corona

    SEPERTI tubuh kita yang sedang sakit, wabah Corona virus disease (Covid-19) masih sulit disembuhkan di negeri ini.  Seperti saat sedang sakit parah, berbagai cara telah dicoba. Aneka obat telah diminum. Ramuan telah diteguk. Namun Kondisi tak berubah. Walaupun ada perubahan, namun sakit masih terasa.

     

    Seperti itulah wabah pandemi covid-19 saat ini. Kita merasa ada perubahan, namun masih tetap merasakan sakit parah. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Munardo bahkan mengatakan, masyarakat harus siap menghadapi tantangan hidup dengan Covid-19 karena belum diketahui kapan wabah ini berakhir.

     

    Badan kesehatan dunia WHO pun meminta masyarakat untuk hidup berdamai dengan virus corona karena alasan yang sama. Dalam arti masyarakat harus siap hidup menggunakan protokol kesehatan untuk mencegah atau menghindar dari virus corona tersebut.

     

    Tapi anehnya, banyak pemimpin di negeri ini yang merasa berhasil dan telah menaklukan virus Corona. Ia mengklaim Corona sudah dikenalikan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar  (PSBB). Katanya jumlah penderita turun, asalnya 40 an per hari, sekarang 20 per hari. PSBB pun dianggap telah mengendalikan pergerakan masyarakat sebanyak 30 %.

     

    Tetapi kenyataannya, hari ini masyarakat seperti jenuh dengan pembatasan yang dianggap pengekangan. Masyarakat kembali mendatangi tempat-tempat perniagaan untuk kebutuhan lebaran yang akan datang dalam hitungan hari. Jalan-jalan kembali macet. Pertokoan penuh sesak. Mereka tak takut lagi tertulari virus yang mematikan itu. Psysical Distancing tinggal omongan. Bahkan muncul hastag #terserahsaja untuk merekam suasana kejenuhan masyarakat itu.

     

    Ini yang sangat aneh, menjelang Hari Raya Idul Fitri para elit justru sedang berwacana shalat ied di rumah atau di masjid. Bahkan ada larangan dari pemerintah untuk tak shalat ied di Masjid dan menyarankan untuk shalat ied secara munfarid atau di rumah.

     

    Pertanyaannya sekarang; apakah pemerintah sebagai representasi negara tak melindungi rakyatnya saat wabah pandemi saat ini? Mengapa membiarkan rakyatnya berdesakan dipertokoan dan berpotensi menjadi penularan Covid-19. Lebih sederhana lagi begini; kenapa dalam PSBB ini pemerintah lebih mampu menutup masjid dan tak mampu menutup pusat-pusat pertokoan?

     

    Pemerintah bisa menghentikan aktivitas masjid, terminal, ataupun angkutan umum. Namun pasar tradisional dan pasar modern dibiarkan jadi tempat berdesak-desakan untuk berbelanja. Oke, pertimbangannya karena pasar menjual kebutuhan dasar masyarakat, tetapi kenapa tak diberlakukan protokol kesehatan?  Tak bisa kan petugas pemerintah menjaga dan mengawasai pertokoan sehingga tak berdesakan? Di mana negara hadir saat harus melindungi warganya?

     

    Turunnya masyarakat menyerbu pertokoan adalah salah satu bukti pemerintah telah gagal memberi bantuan sosial. Data yang tak pasti, tak semua mendapat jaminan sosial, buruknya kualitas sembako, dan terlambatnya distribusi, membuat rakyat merasa jenuh dan harus keluar rumah.

     

    Jadinya, PSBB dinilai gagal dan rakyat kembali ke luar rumah. Virus Covid-19 mungkin bisa dikendalikan pasca PSBB, namun 14 hari ke depan kita harus siap dengan kasus Covid-19 baru akibat kerumunan di pertokoan dan jalanan.

     

    Pemerintah harus memperbarui gaya komunikasi dengan rakyatnya, terkait kasus covid-19 ini. Pemerintah membiarkan juru bicara untuk mengkomunikasikan persoalan dan perkembangan virus, namun ada speaker lain yang subtansinya berbeda. Ada juru bicara, tapi ada gubernur, bupati, wali kota, berbicara beda dengan jubir tadi. Bahkan pembicaraan presiden pun berbeda dengan jurun bicara Covid-19.

     

    Belum lagi kebijakan yang tak konsisten dan berubah-ubah. Kendaraan diperbolehkan beroperasi, dengan ketentuan dan protokol kesehatan. Namun rakyat yang mudik diuber-uber jangan pulang kampung. Akibatnya, terminal sepi karena tak ada penumpang. Armada pun tak bisa beroperasi karena tak ada muatan.

     

    Terus sampai kapan pandemi Covid-19 ini berakhir? Pemerintah sendiri tak bisa menjawab dan malah mengajak hidup berdamai. Dalam kondisi seperti ini, yang perlu diwaspadai adalah gejolak sosial. Jika ini terjadi pemerintah benar-benar telah gagal.

     

    Semua harus instrospeksi. Di tengah kegalauan dan pandemi seperti saat ini, harus ada semangat dan harapan bahwa pandemi covid-19 ini harus berakhir? Pemerintah harus mengevaluasi dan mengkoreksi apa yang telah dilakukannya. Hari Raya Idul Fitri harus menjadi titik nadir untuk menyembuhkan Indonesia dari wabah penyakit ini. Kita yakin bisa.  (Ude D Gunadi)

    Oleh: ude gunadi / ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Berdamai atau Hidup Tanpa Corona
    Jadi Pribadi yang Lebih Baik di Tahun Baru 2020
    Teloransi, Kebersamaan dalam Perbedaan
    Teladani Semangat Pahlawan
    Tahun Baru Hijriah, Pererat Silaturahmi Toleransi
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Klasemen Liga Dunia

      Tim M Point
      1. Liverpool 12 34
      2. Leicester City 12 26
      3. Chelsea 12 26
      4. Manchester City 12 25
      Tampilkan Detail

      Klasemen Liga Indonesia

      Tim M Point
      1 Persib Bandung 3 9
      2 Bali United 3 7
      3 PSIS Semarang 3 6