blog counter

Hot News


Opini


    Tak Hanya Muncul di Keluarga Miskin, Dewi Asmara Minta Semua Waspada Stunting

    • Jumat, 25 November 2022 | 21:27:00 WIB
    • 0 Komentar


    Tak Hanya Muncul di Keluarga Miskin, Dewi Asmara Minta Semua Waspada Stunting

     

    JuaraNews, Sukabumi - Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Dewi Asmara meminta masyarakat lebih mewaspadai potensi kemunculan stunting. Apalagi, stunting tak hanya ditemukan pada keluarga miskin atau prasejahtera. Sejumlah temuan menunjukkan kasus stunting juga muncul di kalangan keluarga kaya.

     

    “Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Ini ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. Gangguan tumbuh dan kembang ini tidak hanya terjadi pada keluarga miskin, melainkan turut ditemukan pada keluarga menengah ke atas,” terang Dewi saat Sosialisasi Ketahanan Keluarga di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, pada 25 November 2022.

     

    Stunting pada keluarga menengah ke atas, terang Dewi, bisa jadi muncul bukan semata-mata kekurangan gizi. Melainkan berkaitan dengan pola asuh kurang optimal, kondisi lingkungan kurang bersih atau mengalami polusi, akses terhadap informasi gizi kesehatan yang tepat, dan lain-lain. Juga terkait kebiasaan dan pola makan yang kurang memerhatikan keseimbangan gizi.

     

    “Kalau di perdesaan memang tidak mampu beli, contohnya. Tetapi kalau orang yang punya uang ini tahu tapi tidak mempraktikkan, lebih kepada behavior. Masalah gizi ini terkadang bersifat tersembunyi, dalam artian banyak orang merasa tidak ada masalah dengan gizi mereka. Padahal, gizi tidak seimbang bisa menyebabkan masalah kesehatan maupun gangguan kognitif," kata Dewi.

     

    Menurutnya, masalah gizi ini hampir sama antara keluarga miskin maupun menengah ke atas. Untuk kalangan menengah ke atas, biasanya faktor tindakan adalah yang utama, karena kebanyakan mereka sudah terinformasi, artinya punya pengetahuan tetapi tidak atau kesulitan melakukan.

     

    "Contohnya, orang tahu alpukat bagus untuk tubuh, tetapi orang yang mampu membeli belum tentu mau memakannya. Faktor perilaku inlah yang sebenarnya lebih personal,” ujarnya.

     

    Untuk itu, Dewi mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pangan di sekitar rumah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Lahan-lahan kosong sudah saatnya dimanfaatkan untuk menanam sayur atau tanaman obat. Jika hal itu dilakukan, Dewi optimistis anak-anak Sukabumi terhindar dari ancaman stunting.

     

    "Ingat, akibat stunting tidak sederhana. Bukan hanya jadi kerdil atau pendek. Pertumbuhan yang terhambat mengkibatkan lambatnya perkembangan otak. Anak stunting mungkin tidak bodoh, tapi lambat dalam menerima informasi. Ini merugikan masa depan Kabupaten Sukabumi. Karena itu, untuk melihat masa depan Sukabumi, lihatlah anak-anak kita sekarang. Mari kira bersama-sama mewaspadai agar anak-anak kita terbebas dari stunting,” ajak Dewi.

     

    Di tempat yang sama, Koordinator Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Barat Elma Triyulianti menjelaskan, paradigma percepatan penurunan stunting kini bergeser ke hulu. Merujuk pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, kini penanganan stunting lebih mengutamakan pendekatan keluarga.

     

    “Sebelumnya, penanganan stunting lebih banyak diberikan dalam bentuk intervensi spesifik kepada anak yang sudah divonis stunting. Kini upaya tersebut ditarik lebih ke hulu. Kita mulai dengan memetakan keluarga berisiko stunting. Keluarga berisiko ini yang kita intervensi agar ketika bayi lahir tidak menjadi stunting,” terang Elma.

     

    Bahkan, sambung Elma, pencegahan stunting dilakukan jauh sebelum kelahiran itu terjadi. Pencegahan stunting dari hulu diawali dengan melakukan pendataan dan pendampingan kepada calon pengantin. Proses ini berlangsung selama tiga bulan sebelum calon pengantin melangsungkan pernikahan.

    "BKKBN mengembangkan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil) untuk mengawal agar setiap pengantin benar-benar memenuhi kesiapan untuk menikah dan kelak hamil. Pendampingan berlanjut saat kehamilan, pasca melahirkan, hingga baduta. Dengan begitu, kami berharap upaya tersebut benar-benar bisa menghindarkan anak dari stunting,” papar Elma. (*)

    ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Anggota DPRD Jabar Minta Aparat Tindak Tegas Pelaku Judi Online dan Togel
    Tinjau Komponen Biaya Haji, Rombongan Komisi VIII DPR Berangkat ke Arab Saudi
    Sebulan Terakhir, WHO Laporkan Kematian Akibat Covid Naik 20 Persen
    Status Darurat Kesehatan Belum Dicabut, WHO Sebut Covid-19 Masih Jadi Ancaman
    Megawati Usul Inggit Garnasih Jadi Pahlawan Nasional, Ridwan Kamil: Kita Proses
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads