ultah bandung

Hot News


Inspirasi


    Enam Nelayan Hilang, Satu Warga Tewas Tertimpa Pohon  di Aceh Selatan      
    (bnpb.go.id) Pohon tumbang diterjang angin kencang

    Enam Nelayan Hilang, Satu Warga Tewas Tertimpa Pohon di Aceh Selatan    

    • Selasa, 4 Agustus 2020 | 11:10:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Jakarta - Bencana hidrometeorologi masih terjadi hingga awal Agustus 2020. Kali ini angin kencan mengakibatkan satu warga meninggal dunia di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. 

     

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, menyebutkan, warga meninggal setelah tertimpa pohon yang tumbang akibat angin kencang.

    Kejadian tersebut, menurut dia, bersamaan dengan hujan berintensitas sedang. Peristiwa terjadi  Senin (3/8/2020), pukul 10.40 waktu setempat.

     

    Selain satu warga meninggal dunia, lanjut dia, satu wargalainnya mengalami luka ringan. BPBD Kabupaten Aceh Selatan juga melaporkan enam nelayan hilang saat melaut, sedangkan 2 KK mengungsi ke rumah tetangga.

     

    “BPBD setempat masih melakukan pendataan korban terdampak pascakejadian,”  ujarnya.

     

    Kerugian materiil, menurut dia, masih terus didata oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Aceh Selatan. Data sementara rumah rusak berat 8 unit dan rusak ringan 5.

     

    “Pantauan di lapangan menunjukkan pohon tumbang di beberapa titik akses jalan. TRC dan dinas terkait segera melakukan penanganan darurat, seperti kaji cepat, pembersihan pohon tumbang, dan pencarian korban yang hilang,”kata dia.

     

    Ia menuturkan, Angin kencang dirasakan warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan. Sembilan kecamatan tersebut yakni Kecamatan Bakongan, Pasie Raja, Sawang, Meukek, Labuhanhaji, Labuhanhaji Timur, Kluet Utara, Samadua dan Bakongan Timur.

     

    Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap fenomena angin kencang atau angin puting beliung. Fenomena yang biasa terjadi saat pergantian musim ini diidentifikasi dengan tanda-tanda, seperti pertumbuhan awan Cumulus. Sehari sebelumnya, udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah.

     

    “Di antara awan tersebut, ada satu jenis awan yang batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi mirip bunga kol. Awan tiba-tiba berubah warna dari putih menjadi gelap (awan cumulonimbus). Durasi fase pembentukan awan hingga fase awan lenyap berlangsung paling lama sekitar 1 jam,”katanya. (*)

    Oleh: JuaraNews / ayi

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Gus Ahad: Protokol Kesehatan Wajib Diperhatikan di Lokasi Pengungsian Banjir Bandang Sukabumi
    139 Dokter Lulusan FK Unisba Laksanakan Sumpah Dokter Secara Online
    Dampak Pandemi Covid-19, Pendapatan Daerah di Jabar Tekor Rp 3,37 Triliun
    Dua Daerah Tembus Standar WHO, Jabar Intens Tingkatkan Tes PCR
    Ketua DPRD Jabar akan Tinjau Lokasi Banjir Bandang di Sukabumi
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Pos Indonesia kanan

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads