blog counter

Hot News


Opini


    Mantan Mentamben RI, The Wise Minister Subroto, Tutup Usia pada 99 Tahun

    • Rabu, 21 Desember 2022 | 00:01:00 WIB
    • 0 Komentar


    Mantan Mentamben RI, The Wise Minister Subroto, Tutup Usia pada 99 Tahun
    Mantan Menteri Pertambangan dan Energi RI, Subroto meninggal dunia pada Selasa (20/12/2022) dalam usia 99 tahun di Jakarta (istimewa(

    JuaraNews, Jakarta – Mantan Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) Republik Indonesia (RI) periode 1978-1988 Prof Dr Subroto, telah meninggal dunia. Berdasar informasi yang diterima JuaraNews dari lembaga yang didirikan oleh almarhum, Bimasena, Tokoh Minyak Indonesia itu meninggal dunia pada hari Selasa, 20 Desember 2022, pkl. 16.25 WIB dalam usia 99 tahun.


    "Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Selasa, 20 Desember 2022 pukul 16.25. WIB di Jakarta pada usia 99 tahun, Prof Dr Subroto, Pendiri dan Ketua Bimasena, Masyarakat Pertambangan dan Energi," sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Bimasena, Selasa, (20/12/2022).


    "Semoga amal ibadah Almarhum diterima oleh Allah SWT, diberikan tempat yang terbaik dan mulia di sisi-nya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran," lanjut pesan tersebut.


    Saat ini, jenazah disemayamkan di Bimasena, Jalan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rencananya, sebelum dimakamkan di Taman Makan Pahlawan (TMP) Kalibata, pada Rabu (21/12/2022), terlebih dahulu jenazah akan disemayamkan di Kementerian ESDM untuk mendapat penghormatan terakhir, Rabu pagi.


    Perjalanan Sang Begawan Pengawal Energi Indonesia

    Sang Begawan Energi yang dikenal sebagai The Wise Minister ini, dilahirkan pada 19 September 1923 di Kampung Sewu, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Ia merupakan putra dari pasangan Martosuwignyo dan Sinduredjo. Memasuki usia sekolah, orang tuanya memasukan Subroto kecil ke Hollands Inlandsche School (HIS). Seusai HIS, dirinya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Sekolah Menengah Tinggi (SMT).


    Pada masa pendudukan Jepang, Subroto pernah mendaftarkan diri menjadi tentara PETA. Sayang karena badannya yang kurus ia ditolak. Meskipun demikian, selepas kemerdekaan Indonesia, ia diterima sebagai kadet (taruna) di Militer Academie (MA) angkatan pertama di Yogya pada 1 November 1945. Di sekolah militer itu, Subroto berhasil lulus sebagai lulusan terbaik II dengan pangkat letnan II pada 1948. Sepanjang 1948 hingga 1950, Subroto yang telah menjadi tentara itu terlibat dalam Perang Kemerdekaan.


    Pasca Konferensi Meja Bundar dan usainya perang kemerdekaan, Subroto kembali melanjutkan pendidikannya. Subroto yang merupakan keturunan dari Pamenbahan Senopati ini memasuki Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) hingga meraih gelar Sarjana Muda tahun 1952. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mc Gill University, Canada melalui program pertukaran mahasiswa. Dari program itu, Subroto mendapatkan beasiswa untuk program pascasarjana di bidang foreign trade (perdagangan luar negeri). Seusai mendapatkan gelar Master of Arts, putra ke-7 dari 8 bersaudara ini kembali ke Indonesia dan mengambil program doktoral di almamater pertamanya, UI.


    Pada masa orde baru, Subroto menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi selama dua periode kabinet, dari 29 Maret 1978 sampai 21 Maret 1988 setelah sebelumnya menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi sepanjang 1971 – 1978.


    Selain itu, ia pun pernah menduduki jabatan tertinggi dalam organisasi minyak dunia. Pada periode 31 Oktober 1984 sampai 9 Desember 1985, ia terpilih menjadi Presiden Konferensi OPEC. Dan mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Jendral Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang berkedudukan di Wina, Austria itu pada 1988.


    Subroto yang saat kelahirannya diharapkan menjadi seseorang yang mau melakukan pengabdian demi memayu-ayuning bawono atau kemaslahatan banyak orang itu cukup dikenal di dunia internsional. Visinya yang cukup hati-hati dalam pengelolaan minyak di kalangan negara-negara OPEC, menjadikan dirinya digelari sebagai The Wise Minister Subroto from Indonesia. Tatkala menjabat Presiden Konferensi (1985-1985) dan Sekretaris Jenderal pada tahun 1988-1994, Subroto lah yang –dengan kepiawaiannya dalam berdiplomasi— mampu meredam silang pendapat antarnegara OPEC.(*)

    Aep

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Anggota DPRD Jabar Minta Aparat Tindak Tegas Pelaku Judi Online dan Togel
    Tinjau Komponen Biaya Haji, Rombongan Komisi VIII DPR Berangkat ke Arab Saudi
    Sebulan Terakhir, WHO Laporkan Kematian Akibat Covid Naik 20 Persen
    Status Darurat Kesehatan Belum Dicabut, WHO Sebut Covid-19 Masih Jadi Ancaman
    Megawati Usul Inggit Garnasih Jadi Pahlawan Nasional, Ridwan Kamil: Kita Proses
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads