Hot News


Inspirasi


    Istri Berjuang Lawan Virus Berhari-hari, Setelah Suami Meninggal Akibat Covid-19

    • Selasa, 27 Oktober 2020 | 16:02:00 WIB
    • 0 Komentar


    Istri Berjuang Lawan Virus Berhari-hari, Setelah Suami Meninggal Akibat Covid-19

     

    TITA Tresnawati adalah mantan pramugari. Ia pernah bekerja di banyak maskapai penerbangan, di antaranya di Sriwijaya Air dan Jatayu Air. Sejak keluar dari SMA Negeri 2 Tasikmalaya, Tita dikenal kalangan teman sekolahnya dalam dunia penerbangan, khususnya sebagai pramugari.

     

    Sangat lama tak mengetahui keberadaannya. Namun, Facebook atau sosial media lainnya menghubungkan orang-orang yang hilang dimana rimbanya.

     

    Entah dimulai dari kapan, tiba tiba nama Tita Tresnawati masuk dalam daftar teman, bersama nama-nama teman SMA lainnya. Kabarnya makin jelas, ia telah pensiun dari dunia pramugari. Mungkin karena ia telah menikah dengan seorang pilot, sehingga tak berkecimpung lagi dalam dunia penerbangan.

     

    Yang membuat kawan kawan SMA nya terhenyak, adalah kabar duka di masa pandemi covid-19. Tiba tiba ia memasang status bahwa suaminya positif Corona, termasuk Tita sendiri. Malangnya, sang suami tak tahan dan berakhir meninggal dunia.

     

    Gejala dimulai dari tak bisa melakukan penciuman, demam, hilang selera makan, batuk, mencret, sesak napas, susah tidur, dan gelisah. Sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit. Dokter lalu membuat diagnosa positif Covid19.

     

    Semua pasti kaget. Tidak hanya Tita dan keluarga, namun juga kawan kawan SMA memberi simpatik dan doa. Memberi kekuatan agar tabah dan kuat menghadapi cobaan.

     

    Ini terjadi dimulai pada 15 Agustus 2020. Hari ini suaminya, Kapten Pilot Andrea Bayuadhi tidak menerbangkan pesawat atau dalam keadaan off. Seperti biasa sang suami saat libur sibuk dengan kegemarannya mengurus ikan koi.

     

    Sore hari Andrea mengajak istri dan anak-anaknya menemui ibunya di rumah adiknya. Saat itu anak laki laki Tita sedang batuk. Ia bertanya apakah semua mau ikut, karena putranya terus batuk. "Nanti ayah tertular," kata Tita, saat menimpali ajakan suaminya.

     

    Semua sepakat berangkat menemui ibunya Andrea. Namun kali ini yang mengendarai mobil anaknya sendiri, bernama Alwan. Biasanya jika pergi bersama sama selalu ayahnya yang menyetir mobil.

     

    Sepulang menjenguk ibunya, Andrea mulai batuk batuk. Ia bilang ke istrinya, "Katanya Ayah mulai ketularan kakak. Greges dan ada batuk," katanya.

     

    Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 22 Agustus 2020, Andrea punya agenda lomba koi. Ia tampak semangat mengikuti acara soal hobinya itu. Acara diselenggarakan di Puncak, Kabupaten Bogor.


    Malam sebelum berangkat ke Bogor, Andrea merasa kurang enak badan. Ia susah tidur. Tibatiba ia beseleoroh kepada istrinya, "Kok aku nggak bisa nyium bau ya? Tanda tanda yang mirip Covid ."

     

    Tita merasa suaminya mulai bicara ngelantur. Ia kemudian meminta agar tak usah berangkat ke puncak. Namun besoknya Andrea tetap berangkat. Tita ikut menemani di acara tersebut.

     

    Pulang dari Puncak sore hari. Sampai di rumah tak banyak aktivitas, selesai mandi langsung tidur. Rasanya badan Tita sendiri meriang, kurang enak badan. Merasa masuk angin Tita minum obat. Namun panas badannya tak turun turun. Bahkan sampai dua hari setelah pulang dari Puncak panas badan tak turun turun.

     


    Tita bahkan sempat mengerok punggung suaminya. Ia pun dikerok tantenya, yang tinggal bersama di rumahnya. Namun tak turun turun suhu tubuhnya. Sampai akhirnya meminum obat penurun panas, agak mulai mendingan.


    Tita berkali kali mengajak suaminya mengajak ke dokter untuk diperiksa. Namun Kapten Andrea selalu menolak. Hingga dua hari kemudian, Tita dan anaknya membawa paksa pilot Lion Air itu.
    Setelah diperiksa, dokter menyatakan positif Covid19 dan paru-parunya sudah berkabut. Mendapat penjelasan dokter, perempuan asal Tasikmalaya ini lemas. Ia meminta kepada dokter untuk memberi perawatan yang terbaik untuk suaminya.

     

    Pihak rumah sakit menyarankan untuk mencari rumah sakit untuk isoloasi. Ini sulit karena saat itu susah mendapatkan kamar kosong di rumah sakit rujukan. Namun akhirnya mendapatkan kamar di Rumah Sakit Penyakit Inspeksi Sulianti Saroso.

     

    Dalam perjalanan ke RSPI Sulianti Saroso, suaminya berkali-kali bilang kepada istri tercintanya, "Ayah harus sembuh. Ayah masih banyak tugas."

     

    Itu rupanya menjadi pertemuan terakhir Tita dan suaminya. Setelah masuk rumah sakit RSPI Sulianti Saroso, padas 2 September 2020 pihak rumah sakit menelpon. Suaminya, Kapten Pilot Andrea Bayuadhi telah menghembuskan napas terakhirnya. Ventilator yang dipasang sebelumnya, tak mampu menahan serangan virus Corona yang telah masuk ke dalam tubuh laki laki asal Semarang itu.

    ***

    DERITA belum selesai. Tita yang sangat dekat dengan Andrea ikut terinpeksi Covid19. Setelah melakukan swab tes, Ia dinyatakan positif. Ia harus menjalani isolasi. Bersyukur, anak dan tantenya dinyatakan negatif setelah tes tersebut.

     

    Seakan-akan ini menjadi babak kedua setelah suaminya meninggal akibat Covid 19. Kali ini Tita Tresnawati harus berjuang melawan virus dan diisolasi selama lebih 12 hari. Waktu yang sangat melelahkan dan menjadi perjuangan hidup dan mati.

     

    Pada posisi seperti ini, Tita pasrah. Ia cuma bisa menangis dan terdiam. Ia berdoa untuk suami, dirinya, dan anak-anaknya. "Ya Allah ampunilah dosa-dosa almarhum suamiku Andrea Bayuadhi bin Ebo Soetaba, terimalah semua amal baiknya, tempatkanlah alm di SURGA MU, ya ALLAH golongkan almarhum beserta kaum syahid, lapangkanlah kuburnya, terangkan alam kuburnya, lindungilah dari azab dan fitnah kubur dan dari api neraka, rahmatilah dia, kasihanilah dia. Amin yaa robbal alamain."

     

    Sementara hasil rongent Tita menunjukkan adanya sedikit kabut pada paru-parunya. Ia merasa sesak. Tita pun menjalani perawatan di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Dokter sempat menyatakan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun Tita meminta untuk dirawat di rumah sakit karena merasa sesak dan tak bisa tidur selama tiga hari. Terlebih lagi ia sudah ditinggal suami untuk selamanya.

     

    Tanggal 5 September 2020 adalah hari pertama dirawat setelah dinyatakan Covid-19. Pukul 02.00 WIB ia diantar ke ruang perawatan. Di kamar sudah ada dua pasien lain, sama terinfeksi Covid. Mereka berbagi cerita.

     

    Dari perbincangan, Tita menarik kesimpulan gejala yang dialami tiap orang berbeda beda. Namun, secara umum gejalanya adalah demam, hilang indra penciuman, selera makan hilang, batuk, mencret, sesak napas, gelisah, dan susah tidur.

     

    Dalam perawatan di rumah sakit, butuh perjuangan dan keikhlasan. Hampir semua cairan infusan terasa sangat sakit tetes demi tetes masuk ke vena. Berkali kali vena bengkak dan perawat segera memindahkan ke vena lain. Kondisi itu berulang sampai enam kali pindah vena.

     

    Di hari ketujuh perawatan, dilakukan tes swab. Namun hasilnya masih positif. Demikian pula di hari kesepuluh, hasil tes menunjukan positif. Dokter mengatakan bisa pulang dan isolasi di rumah. Namun Tita ingin masih ingin dirawat sampai hasil tesnya negatif.

     

    Namun Tita merasa ia tak boleh egois. Di luar banyak pasien yang membutuhkan rumah sakit yang sama. Namun Tita masih penasaran, kenapa ia disuruh pulang sementara hasil tes masih positif?

     

    Perawat mengatakan, ia masih positif namun CT Value 40. Artinya virus sudah melemah dan tak menular lagi. Perawat mengatakan banyak pasien baru yang virusnya masih ganas. Maka Tita pun mau pulang dan melakukan isolasi mandiri.

     

    Di hari ke-12 ia pulang. Ia dipanggil untuk mandi di bathro yang terletak di belakang pintu keluar pasien yang sudah diizinkan pulang. Semua biaya pengobatan selama 12 hari ternyata gratis atau ditanggung pemerintah.


    Setelah isolasi mandiri di rumah, tes swab dilakukan dua kali. Pada tanggal 22 September 2020, tes dilakukan di Puskesmas Serpong. Hasilnya masih positif. Hasil ini tak hanya membuat kaget, tetapi juga mengakibatkan kepasrahan pada puncaknya. Tita merasa harus menerima kenyataan bahwa ia positif Covid-19. Kemudian Ia benar-benar pasrah dan ikhlas. Menyerahkan semuanya kepada Allah Swt.

     

    Pada tes swab tanggal 29 September 2020, hasilnya diterima esok harinya. Hasilnya sama, sampai akhirnya muncul dugaan bahwa alat tes nya rusak. Sebagai pembanding, akhirnya dilakukan tes di rumah sakit yang berbayar. Pada 1 Oktober 2020, dengan bantuan seorang Teman Tita, dites kembali dan dinyatakan negatif. 

     

    ***

     

    SEMANGAT Tita Tresnawati dalam melawan Covid-19 adalah bukti virus itu bisa dilawan. Semangat dan tak pernah putus asa menjadi imun yang sangat kuat untuk menghalahkan serangan virus. Tak hanya itu, semangat ini juga perlu untuk mencegah serangan virus dengan memperhatikan kesehatan dan perilaku 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Terakhir, iman menjadi hal yang menentukan daya tahan tubuh dari serangan covid-19. (Ude D. Gunadi) 

     

    Oleh: ude gunadi / ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Gubernur Jabar Deklarasikan Pilkada Serentak 2020 di Delapan Daerah Aman dari Covid-19
    Anggota DPRD Jabar Nur Suprianto Meninggal  Dunia, Diduga Terpapar Covid-19
    Uu Ruzhanul: Jangan Lengah Terapkan Protokol Kesehatan
    Forum Zakat Mendorong Empat Agenda Strategis Untuk Menguatkan Gerakan Zakat Nasional
    Bapera Jabar Hadir untuk Mengelola Kepemimpinan Pemuda
    Berita Terdahulu

    Editorial


      Pos Indonesia kanan

      Data Statik Covid-19


      DATA COVID-19 INDONESIA

      😷 Positif:

      😊 Sembuh:

      😭 Meninggal:

      (Data: kawalcorona.com)

      Ads