web stats service from statcounter

Hot News


Inspirasi


    Jogja Memang Selalu Memberi Kejutan bagi Para Pelancongnya
    Suasana makan di Kopi Klotok, Jogja..

    Catatan Perjalanan (Bagian I)

    Jogja Memang Selalu Memberi Kejutan bagi Para Pelancongnya

    • Sabtu, 25 Januari 2020 | 10:59:00 WIB
    • 0 Komentar

    SETIAP datang ke Kota Jogja, selalu ada kejutan. Apalagi untuk tujuan jalan-jalan. Meskipun terlambat liburannya, namun suasana Jogja selalu memberikan kesegaran saat ban kendaraan yang kami tumpangi masuk perbatasan kota ini.

     

    Sengaja saya menggunakan kata Jogja. Kata itu rasanya lebih memberi arti bagi perjalanan saya dan rekan-rekan di BLK PMI (Balai Latihan Kerja Pekerja Migran Indonesia) Jawa Barat.

     

    Ya, jalan-jalan ke Jogja kali ini saya lakukan bersama dengan staf pegawai di BLK PMI. Sehari-hari balai ini melakukan aktivitas pelatihan bagi calon pekerja migran, yang akan berangkat ke negara-negara seperti Jepang, Singapura, Jerman, dan negara lainnya.

     

    Bulan Januari agenda pelatihan masih kosong, maka para karyawannya refreshing jalan-jalan ke kota Jogja. Saya bergabug dalam perjalanan kali ini dan larut dalam keceriaan yang terbangun sejak berangkat dari Bandung ke kota wisata itu dan kembali lagi ke Bandung.

     

    Berangkat tanggal 17 Januari 2020 pukul 00.01, kami menggunakan dua kendaraan, jenis jetbus dan mobil Pregio. Semua sekitar 24 orang. Kepala BLK PMI Teguh Khasbudi sebelum berangkat mengingatkan untuk memaknai perjalanan malam ke Kota Jogya. Selain keselamatan yang diharapkan, perjalanan malam juga diharapkan memberi makna yang berarti bagi pegawai BLK. “Semoga perjalanan malam ini memberi berkah, memberi hikmah, dan memberi keselamatan sampai kita kembali ke Bandung,” katanya sebelum berangkat.

     

    Meskipun perjalanan malam, tenaga kami di dalam kendaraan masih kencang. Bisa jadi karena senang mau berangkat. Maka candaan dan cerita bermunculan dari penumpang seisi mobil. Driver yang bertugas pertama adalah Pak Kunkun, dibantu pemandu jalur Toya Alfarizi.

     

    Saat perjalanan sudah mulai jauh, Toya mencoba mempertahankan suasana. Maklum sebagian isi mobil jetbus sudah mulai teler. Toya membuat cerita tentang tiga bencong di Jatinangor, kota tempat kampusnya semasa kuliah.

     

    Namun cerita Toya tentang tiga bencong yang tertangkap razia Satpol PP itu tak berhasil membuat Pak Kunkun tertawa, sampai akhirnya berseloroh. “Jadi saya ketawanya di mana?”

     

    Mendapat jawaban yang dihibur Toya malah balik bertanya, semua penumpang yang terkantuk-kantuk tiba-tiba tertawa. Dan kemudian menimpali, “Teu rame... garing...” Semua tertawa. Tapi tak lama sepi. Kecuali Pak Kunkun, semua koor mengeluarkan suara yang sama; “..Zzzz....zzz...”

    ***

    POS pertama perhentian kami adalah Kota Rajapolah. Kota kecil, kota kerajinan, yang masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Dua driver matanya sudah mulai berat. Sebagian peserta tour kebelet juga ingin ke kamar kecil. Istirahat sejenak sekitar pukul 02.30 WIB.

     

    “Nanti kita berhenti lagi di Banjar untuk shalat Shubuh,” kata Toya memberi aba-aba untuk perberhentian berikutnya.

     

    Namun setelah sampai Banjar belum waktu shubuh. Entah perjalanan yang kecepetan, entah jarak yang pendek dari pemberangkatan pos pemberhentian berikutnya. Kami baru berhenti sampai waktu Shubuh di sekitar Mergosari, sudah masuk wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

     

    Udara dingin di waktu Shubuh membuat kami kembali menikmati kopi panas, sebelum berangkat kembali melanjutkan perjalanan ke kota tujuan. Udara kota Jogja sudah semakin terbayang saat memeremkan mata. Tak sabar ingin segera sampai.

     

    Saat matahari muncul dari kaca depan kendaraan, perut kami terasa bersuara. Persoalan kini muncul; dimana mencari sarapan. Perjalanan sudah sampai di sekitar Simpiuh, kota kecil masih di wilayah Kabupaten Cilacap.

     

    Tak seperti di Kota Bandung atau kota lainnya di Jawa Barat, masyarakat di pagi hari bisa dimanjakan oleh berbagai dagangan untuk sarapan. Tapi ini kota kecil, tak ada tukang gorengan bala-bala, tak ada tukang bubur, atau tukang dagang lain di pagi hari. “Ini bukan Bandung,” kata salah seorang dari kami.

     

    Maka kami pun kesusahan mencari sarapan. Tukang bubur tak ditemui, demikian pula yang lainnya.

     

    Hal ini membuat Kepala Seksi Tata Usaha BLK PMI Ocang Imid berseloroh, bahwa secara ekonomi di Jawa Barat lebih baik dibandingkan daerah yang sedang dilaluinya. Dari berbagai aspek, katanya, termasuk upah dan kehidupan ekonomi Jawa Barat memang lebih baik. Sulitnya pedagang untuk sarapan, katanya, membuktikan bahwa tingkat kehidupan ekonomi di daerah itu kalah oleh Jawa Barat.

     

    Dalam perbincangan seperti itu, tiba-tiba mobil berhenti. Sang driver yang bertugas, Toya, melihat ada warung nasi yang dinilai layak untuk sarapan. Namun mobil yang depan sudah jauh. “Biarkan saja mobil depan mah, salah sendiri ngebut terus,” kata salah seorang peserta tour.

     

    Namun rupanya ada kontak juga dengan salah seorang penumpang mobil Pregio, sampai akhirnya mereka kembali dalam waktu singkat.

     

    Kami memesan makanan. Menu makanan yang disajikan langsung berat. Nasi ayam kampug, nasi ayam kota, nasi soto, atau yang lainnya. Tapi tak jadi masalah, yang penting bisa sarapan kemudian mengembalikan perjalanan ke Jogja.

     

    Tapi karena masih pagi, warung belum siap. Saat semua memasan nasi ayam kampung, ternyata ayam kampungnya hanya ada tiga. Maka sebagian memilih menu alternatif lain; kalau tidak ayam kota, ya nasi soto.

    ***

    Hasil gambar untuk kopi klotok

    SAMPAI di Kota Jogja jam 11 kurang. Masih ada waktu satu jam lagi untuk shalat Jumat. Maka kami berhenti di sebuah masjid di pinggir Kota Jogja, sebelum Sleman. Setelah menempuh perjalanan jauh, badan kami lengket-lengket. Kami pun membersihkan diri untuk mempersiapkan ibadah shalat Jumat di masjid itu.

     

    Usai jumatan, perut kembali keroncongan. Kami dijadwalkan makan di daerah Kaliurang, di Kopi Klotok. Sebelum ke hotel, kami menuju Kopi Klotok. Di antara kami tak banyak yang tahu tentang kopi klotok. Kami menganggap hanya makan siang biasa, seperti hari-hari sebelumnya.

     

    Namun rupanya perjalanan dari masjid tempat jumatan ke Kopi Klotok memakan waktu lama. Belum lagi macet menghadang perut kami yang sudah lapar. Saat sampai, kami senang karena akan menikmati makan siang. Setidanya yang bahagia perut kami masing-masing.

     

    Setelah memarkir mobil, kami masuk kawasan restoran yang berada di suasana yang teduh dan asri. Akan tetapi kami kaget begitu masuk ruangan restorannya. Ternyata antriannya sangat panjang.

     

    Kalau di Bandung, saya pasti sudah meninggalkan warung atau rumah makan itu. Pasti bersikap begitu karena desakan perut. Namun, kami sadar sedang menikmati perjalanan. Ini mungkin salah satu kejutan perjalanan ke Jogja kali ini.

     

    Kami pun antri bersama yang lain. Ada juga yang berkomentar, “Jauh-jauh ti Bandung makan siang ka Jogja, eh... malah ngantri na panjang.”

     

    Namun akhirnya kami kebagian juga makanan yang disajikan. Meski harus mencari tempat duduk, menu makanan Kopi Koplo bisa dinikmati. Saya memberikan nilai A+ lah, buat makanan di tempat ini. Menu sederhana, rasa luar biasa.

     

    Tak ada menu daging atau ikan segar. Yang ada adalah lodeh-lodehan, goreng telor dadar, dan goreng tempe. Lodehnya pun beraneka ragam, ada lodeh tempe, lodeh terong, lodeh klewih, goreng ikan asin, gudeg ceker. Ada juga makanan tambahan seperti goreng pisang atau kopi hitam. Dalam bahasa host acara kuliner, pasti bilangnya; mak nyoss...**

     

     

    Oleh: ude gunadi / ude

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Ridwan Kamil Hadirkan Jabarano Cafe Pertama di Australia
    Kesenian Benjang Meriahkan Ngabar Mr Jun & Budi Arab
    Jadi Dubber Film Animasi Riki Rhino, Ini Pengalaman Pertama bagi Emil
    Dapat Predikat PG-13, Film Mulan tak Bisa Ditonton Anak-anak

    Editorial