Hot News


Opini


  • Urgensi Perubahan RTRW Jawa Barat
    Urgensi Perubahan RTRW Jawa Barat

    TERKAIT penataan ruang, amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja memang berbeda dengan amanat UU 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

    11 Tahun Angklung Diakui Dunia Dirayakan Masyarakat Global

    • Sabtu, 27 November 2021 | 22:37:00 WIB
    • 0 Komentar


    11 Tahun Angklung Diakui Dunia Dirayakan Masyarakat Global
    Sejumlah warga negara asing memainkan Angklung di Saung Angklung Udjo. (net)

    JuaraNews, Bandung - Masyarakat global merayakan 11 tahun angklung diakui sebagai warisan tak benda dunia dengan menggelar webinar internasional bertajuk Angklung Heal The World diselenggarakan secara virtual dari Kota Bandung, Sabtu (27/11/2021).

     

    Tema yang diangkat adalah ‘Angklung, The Potential Medium to Increase Cultural and Economic Resilience During the Covid-19’. Berbagai komunitas, akademisi, seniman budayawan, pemerhati, serta pencinta angklung dalam dan luar negeri hadir sampai akhir pada acara yang berlangsung empat jam itu.  

     

    Webinar diselenggarakan Pemprov Jabar bersama Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk Unesco didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

     

    Seperti diketahui, 16 November 2010 menjadi tanggal bersejarah bagi dunia dan membanggakan Indonesia, di mana angklung ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco, organisasi PBB yang mengurusi kebudayaan. 

     

    Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan webinar  merupakan perwujudan lanjutan membahas angklung dari sudut pandang yang lain. Selama ini angklung dipandang sebagau alat musik yang erat dengan pertunjukan seni, maupun media atau bahan untuk didiskusi dalam berbagai forum. Namun webinar internasional ini membawa angklung ke level yang berbeda.

     

    “Heal the world melihat sisi lain angklung sebagai healer (penyembuh) baik dari sisi aspek psikologi maupun ekonomi. Hari ini kita akan bahas ekosistem angklung di Jabar,” ujar Ridwan Kamil. 

     

    Menurutnya, angklung punya nilai filosofis seperti kebersamaan, saling menghargai, dan kepatuhan terhadap aturan. Tiga aspek itu menjadi  harmoni dalam sebuah permainan angklung. Katanya, banyak kehidupan secara sosial bidaya dapat diterapkan melalui filosofi angklung.

     

    “Ti iwung nepi ka padung. Mengisyaratkan masyarakat Jabar memiliki keterikatan dengan bambu,” kata Emil.  

     

    Gubernur berharap dengan memperingati 11 tahun angklung diakui dunia maka akan menjadi  media potensial meningkatkan ketahanan budaya dan ekonomi di masa pandemi Covid-19, sesuai tema webinar ini.

     

    “Angklung sebagai healer pendekatan baru dan dapat dimanfaatkan sebesar- besarnya untuk umat manusia,” ucap Emil.

     

    Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Dedi Taufik selaku leading sector mengatakan, webinar ini diselenggarakan untuk memperingati 11 tahun angklung ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Selain tentu saja mempertahankan budaya angklung sebagai milik dunia dari Indonesia.

     

    Acara ini dihadiri komunitas angklung se-Jabar, Jabar Masagi, jejaring dan stakeholders lain, perangkat daerah kabupaten/kota, perguruan tinggi di Bandung Metropolitan, serta masyarakat umum yang diundang melalui sosial media dan jejaring komunitas seni budaya baik dalam dan luar negeri.

     

    “Semoga bisa menumbuhkan semangat dan cinta angklung yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia,” kata Dedi.

     

    Sementara itu, Delegasi Tetap RI untuk Unesco Prof Is Munandar mengingatkan angklung sebagai warisan budaya tak benda pemilik utamanya adalah masyarakat. “Berarti kita semua,” sebut Is.

     

    Tantangan berat mendatang adalah bagaimana masyarakat berperan mewariskan angklung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Angklung bukan museum yang sifatnya statis, tapi budaya tak benda yang dinamis. “Jadi harus kreatif menyesuaikan perkembangan zaman,” katanya. 

     

    Pada 11 tahun pengakuan angkung oleh dunia ini, Unesco merekomendasikan beberapa hal. Pertama, memperkuat mekanisme dukungan pemulihan kepada para pembawa warisan bduaya tak benda ini  baik di tingkat lokal dan internasional. “Webinar ini salah satu bentuk dukungan kita,” sebutnya.

     

    Kedua, memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan fisibilitas dan pemahaman terhadap warisan tak benda ini. Ketiga, memperkuat hubungan angklung dengan masyarakat.

     

    Webinar diisi diskusi para panelis dari dalam dan luar negeri, di antaranya Profesor Henry Spiller peneliti dari Departement of Music University of California, Davis Amerika Serikat. Kemudian, Dr Paphutsorn Koong Wongratanapitak, seorang antropolog musik asal Thailand jebolan Ethnomusicology Shool of Oriental and African Studies University of London.

     

    Kemudian Tricia Sumaryanto, konduktor dari House of Angklung Wahington DC, Ketua Perhimpunan Pegiat Angklung Indonesia Sam Udjo, Dr. Dinda Satya peneliti angklung, serta Taufik Hidayat dari Saung Angklung Udjo. 

      

    Selain diskusi tentang angklung, webinar internasional ini juga diisi oleh banyak pertunjukan angklung berkolaborasi dengan budaya lain di Indonesia seperti Aceh, Batak, serta pertunjukan yang dilakukan virtual dari Amerika Serikat.

     

    Panelis Asing Antusias Lestarikan Angklung

    Sementara itu, dalam webinar tersebut, nada-nada antusias terdengar dari pembicara internasional yang diundang.  Salah satunya datang dari Prof Henry Spiller peneliti dari Departement of Music University of California, Davis Amerika Serikat. Dia sudah bertahun-tahun meneliti angklung di Indonesia, tak heran bahasa Indonesianya lumayan fasih.

     

    Menurut Henry, angklung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jabar sejak era kolonialisme, kapitalisme, dan neoliberalisme. Sebagai orang asing, ia melihat angklung adalah alat musik yang bisa meng-cover semua nada musik dengan nada sunda yang luar biasa indah.

     

    “Mulai dari lagu Indonesia Raya, lagu latih, lagu klasik, sampai global pop musik. Nada diatonik angklung memperkuat masyarakat sunda,” sebut Henry. 

     

    Sebagai orang yang mempelajari tokoh angklung, Henry sangat kagum dengan prinsip 5M yang dicetuskan Daeng Soetigna, penemu angklung modern. “5M adalah murah, mudah, menarik, massal, dan mendidik,” jelasnya.

     

    Untuk keberlanjutan warisan tak benda dunia ini, Henry merekomendasikan lima hal penting. Pertama, fokus pada nilai keberlanjutan yakni mencari dan memperluas bahan mentah bambu. Kedua, keberlanjutan nilai sunda yang menjunjung tinggi nilai HAM dan keadilan.

     

    Ketiga, lebih banyak mempromosikan angklung secara massal ketimbang pertunjukan angklung solo. Keempat, dukungan pemerintah dengan membuat kurikulum di sekolah dan melatih para guru. Kelima, memperkuat organisasi mandiri sebagai simbol nilai masyarakat sunda.

     

    “Seperti Saung Angklung Udjo dan Budi Supardiman Angklung Web Institute, harus disupport,” sebut Henry. 

     

    Sedangkan antropolog musik etnis Dr Paphutsorn Koong Wongratanapitak dari Thailand telah lama mengaplikasikan angklung untuk anak dan remaja di dalam tahanan polisi. Melalui terapi angklung, Koong yang juga lama bergelut dengan angklung di Indonesia, membantu anak- anak menemukan kembali jati dirinya dan pada gilirannya nanti siap berbaur dengan masyarakat.

     

    Tujuan dari terapi angklung di tahanan remaja ini adalah untuk memberi rasa percara diri bahwa hidup belum berakhir, sekaligus menunjukkan kepada orang tua potesi anak sebenarnya. “Saatnya orang tua mendengarkan anaknya melalui angklung,” kata Koong.

     

    Selain di rumah tahanan, Koong juga mempergunakan angklung untuk merehabilitasi para lansia agar di usia senja masih merasa bahagia dan berguna dengan keahlian angklung.

     

    Angklung juga ternyata berkembang pesat di Amerika Serikat. Diawali dengan pencatatan rekor dunia permainan angklung terbanyak yang dilakukan di Washington DC pada 2011, komunitas- komunitas angklung terus bermunculan sejak itu.

     

    House of Angklung Washington DC salah satu komunitas yang konsisten mendorong angklung lebih dikenal lagi masyarakat AS. Diawali dengan inisiatif sendiri, dukungan dari Kedutaan Besar dan stakeholders lain kemudian terus bermunculan hingga kini.

     

    House of Angklung juga memiliki program Angklung Goes to School yang terlah berjalan bertahun-tahun dan mendapat respons posistf dari kalangan pendidik di sana.

     

    “Mereka bilang angklung sangat tepat untuk anak kelas 4 dan 5 SD karena sifatnya yang sangat sophisticated. Di Negara Bagian County Mariland angklung sudah masuk daftar kurikulum pendidikan di sana,” sebut Trizia Sumaryanto, conductor Hous of Angklung Washington DC.

     

    Melalui bantuan Kedutaan Besar RI di Amerika, pada 2021 Angklung Goes to School diperluas menjadi Angklung goes to America dengan kerja sama organsiasi lokal di sana.

     

    “Bantuan rutin yang diberikan adalah angklung interaktif empat set setiap kelompok, pelatihan, buku pandua, partitur, musik MP3 lagu Indonesia dan Amerika,” sebut Tricia.

     

    Saat ini, kata Tricia, makin banyak orang Amerika Serikat ingin tahu angklung bahkan pada yang originalnya yakni angklung tradisional pentatonik.

     

    Angklung pentatonik merupakan angklung asli yang dikembangkan leluhur dan hanya bisa memainkan lagu Sunda dan Jawa. Oleh almarhum Daeng Soetigna, nada angklung diubah dimodifikasi menjadi diatonik sehingga bisa memainkan dana do – re – mi – fa – so – la si – do.

     

    Angklung diatonik berkembang pesat di Kota Bandung dengan Saung Angklung Udjo (SAU) yang didirikan Udjo Ngalagena ayau yang biasa disebut Mang Udjo. SAU menemukan kejayaannya dengan kunjungan wisatawan 2.000 per hari dan pertunjukan 3-4 kali sehari.

     

    Namun saat pandemi Covid-19 datang, semuanya berubah. SAU nyaris bangkrut karena tidak ada wisatawan yang datang akibat pembatasan aktivitas dan mobilitas.

     

    Dengan tekad kuat dan komitmen semua stakeholders mulai dari pemerintah daerah dan pusat, SAU kini perlahan bangkit. Dalam menemukan kebangkitannya, SAU kembali ke filosofi kebersamaan dengan pola pentaheliks merangkul semua stakeholders.

     

    “Kami sudah mulai lagi mengadakan konser bersama di tujuh ruang, virtual pelatihan, virtual angklung for therapy and for motivation. SAU masih tetap ada dan harus lebih bangkit lagi,” kata Direktur Utama PT Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat yang juga anak kesembilan Udjo Ngalagena.

     

    “Keep the old one create the new one,” katanya menuturkan filosofi ayahnya. (*)

    jn

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Film Berbahasa Sunda Before, Now & Then (Nana) Tayang di Berlin International Film Festival
    Bukan untuk Dijual. Mahasiswa Jepang Pamerkan Suzuki Jimny 5 Pintu
    Batagor Bandung, Dulunya Baso Tahu Gagal yang Digoreng. Sekarang Banyak Disukai
    Ini 10 Film yang Bakal Tayang dan Jadi Box Office sepanjang 2022
    Para Musisi Penggiring Iwan fals, dari yang Senior Hingga Anak Muda
    Berita Terdahulu

    Editorial