JuaraNews, Jakarta – Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Rahmat Hidayat Djati, menggagas konsep pentingnya pembentukan “Ekoregion Sunda” sekaligus menyuarakan keadilan fiskal bagi daerah-daerah penopang lingkungan nasional.
Gagasan tersebut disampaikan dalam gelaran Pasamoan Inohong Sunda bertajuk “Merawat Warisan, Meneguhkan Masa Depan: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh untuk Indonesia” yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Dalam forum yang dihadiri para sesepuh, inohong (tokoh), dan elemen masyarakat Sunda tersebut, Rahmat menegaskan bahwa tantangan zaman seperti perubahan lingkungan, ketimpangan ekonomi, serta pengelolaan sumber daya alam memerlukan cara pandang baru yang lebih terintegrasi.
Baca Juga: DPRD Jabar Mulai Bahas Usulan Perubahan Nama Jawa Barat Menjadi Provinsi Sunda
“Sunda, Cirebon, Banten, dan Betawi adalah satu ruang sejarah, budaya, dan kehidupan yang saling terhubung. Dari ruang bersama inilah kita membangun masa depan melalui gagasan Ekoregion Sunda bukan sebagai batas pemisah, melainkan ruang kolaborasi untuk menjaga alam, memperkuat ekonomi, dan meningkatkan kualitas SDM,” ujar Rahmat.
Selain keberlanjutan lingkungan, Rahmat juga menyoroti urgensi otonomi daerah, termasuk wacana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di level kabupaten/kota maupun provinsi di masa depan. Menurutnya, pemekaran dan otonomi daerah merupakan jalan strategis untuk mempercepat pelayanan publik serta memajukan potensi lokal.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa efektivitas otonomi daerah harus disokong oleh keadilan fiskal dari pemerintah pusat. Daerah yang konsisten menjaga ekosistem nasional dinilai berhak mendapatkan perhatian dan alokasi anggaran yang sepadan.
Baca Juga: Buky Wibawa: Usulan Nama Provinsi Sunda Baru Tahap Pembahasan, Belum Ada Persetujuan
“Daerah yang merawat hutan, menjaga sumber air, melindungi lingkungan, dan menjadi penopang kehidupan nasional harus memperoleh penghargaan dan manfaat yang lebih berkeadilan. Keadilan bukan hanya soal membagi hasil, tetapi juga menghargai kontribusi,” tegas Politisi Jabar ini.
Menutup keterangannya, Rahmat mengajak seluruh elemen masyarakat Sunda untuk terus memegang teguh filosofi silih asih, silih asah, silih asuh serta amanat karuhun “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak”.
“Nilai-nilai luhur ini diharapkan menjadi fondasi dalam melahirkan gagasan, ilmu, dan karya nyata dari Tatar Sunda untuk Indonesia yang lebih maju, adil, dan bermartabat,” pungkas Rahmat Hidayat Djati. (dsp)







