JuaraNews, Bandung – Tantangan mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menuntut ketangguhan serta kreativitas guru dalam menyiasati keterbatasan sarana, akses internet, dan listrik yang belum stabil.
Di tengah kondisi tersebut, para pendidik tetap berinovasi menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Seiring pemerintah memperkuat sarana dan teknologi pembelajaran, proses belajar mengajar di daerah terpencil semakin menunjukkan perkembangan positif.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan di wilayah 3T.
Simak Juga: Anggaran Terbatas, Pembangunan Desa di Jabar Tetap Digenjot
Melalui kebijakan dan fasilitasi pembelajaran, pemerintah memberi ruang bagi para guru untuk terus berinovasi meski berada dalam keterbatasan.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG), Nunuk Suryani, menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional menempatkan guru sebagai aktor utama pembangunan sumber daya manusia.
“Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemerataan akses, tetapi juga pada penguatan kapasitas profesional guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang responsif terhadap tantangan zaman,” ujar Dirjen Nunuk.
Simak Juga: Wali Kota Bandung Dorong Setiap Wilayah Miliki Sarana Olahraga
Kreativitas Guru sebagai Nafas Transformasi Pendidikan
Pengalaman para guru di wilayah 3T menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah, ketulusan, dan kreativitas pendidik di ruang kelas terpencil sama-sama menggerakkan transformasi pendidikan. Salah satunya, Muhammad Fathul Arifin, yang selama lima tahun mengajar di wilayah 3T.
Sejak 2020, Fathul mengabdi di SMA Swasta Bina Ilmu, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Pada Januari 2026, pemerintah memindahkannya ke SMK Negeri 2 Buntok setelah mengangkatnya sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Saya sudah mengajar sejak 2020 di sekolah wilayah 3T dan Januari 2026 pindah ke sekolah non-3T karena pemerintah mengangkat saya menjadi PPPK,” ungkapnya, Kamis (19/2/2026).
Simak Juga: Indosat Luncurkan HiFi Air HKM 127+: Internet Rumah Fleksibel dan Hemat
Selama bertugas, Fathul menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sarana, akses internet, dan listrik yang belum stabil.
“Sarana dan prasarana kurang memadai, internet dan listrik juga terbatas,” tuturnya.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berinovasi. “Saya mengajar melalui PowerPoint atau gim, menggunakan proyektor yang saya nyalakan dengan mesin penghasil listrik,” ujarnya.
Dalam keseharian, ia menerapkan pendekatan humanis dan menyenangkan dalam pembelajaran.
Simak Juga: Raperda PSU Dimatangkan, DPRD Kota Bandung: Pengembang Perumahan Harus Ada Tanggungjawab
“Saya menggunakan pendekatan yang membuat murid merasa nyaman serta terus berinovasi dan kreatif walau sarana terbatas,” katanya.
Ia juga menghadirkan berbagai inovasi agar murid semakin semangat belajar.
“Saya menghadirkan gim edukasi dari laptop, ice breaking yang menyenangkan, serta membuka ruang diskusi dan tanya jawab santai agar suasana kelas tetap hidup dan interaktif,” ucap Fathul.
Selain menyampaikan materi, Fathul juga membangun pola pikir dan motivasi siswa. “Saya menggunakan contoh-contoh riil dan pengalaman pribadi, serta memberi motivasi untuk membangun pola pikir ke depan,” tuturnya.
Simak Juga: Kemendikdasmen Perkuat Perlindungan Guru Non-ASN, Insentif dan TPG Naik di 2026
Teknologi sebagai Jembatan Menuju Pembelajaran Berkualitas
Ia berharap langkah tersebut dapat mendorong murid untuk patuh dan menghargai guru.
Fathul mulai merasakan perkembangan signifikan ketika sekolahnya menerima dukungan teknologi pembelajaran. Pemerintah menghadirkan Papan Interaktif Digital (PID), akses internet melalui Starlink, serta tenaga surya yang berdampak positif bagi proses belajar mengajar.
“Sejak sekolah memiliki Papan Interaktif Digital (PID), Starlink, dan tenaga surya dari pemerintah, pembelajaran serta kegiatan TKA, ulangan sumatif, dan praktik berjalan lebih lancar,” ungkapnya.
Simak Juga: ShopeePay dan SeaBank Apresiasi 36 Mahasiswa Lewat SPARK Awarding Night
Kini, sebagai PPPK di SMKN 2 Buntok, Fathul membawa pengalaman menghadapi tantangan di wilayah 3T sebagai bekal untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.
Ia berharap pemerintah terus memperkuat perhatian terhadap sekolah-sekolah terpencil.
“Saya berharap pemerintah memperhatikan sekolah terpencil dengan bantuan sarana memadai agar desa tidak tertinggal dari kota besar,” pungkasnya.
Melalui penguatan kebijakan dan dukungan nyata di lapangan, Kemendikdasmen terus mendorong pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa, termasuk di wilayah 3T. (dsp)







