blog counter
PT POS

Hot News


Opini


    Karinding: Tradisi Budaya Karuhun, Filosofi Kehidupan, Ketuhanan dan Lingkungan

    • Jumat, 30 September 2022 | 16:09:00 WIB
    • 0 Komentar


    Karinding: Tradisi Budaya Karuhun, Filosofi Kehidupan, Ketuhanan dan Lingkungan
    Karinding Attack (Foto: ist)

    Bandung, Juaranews - FILOSOFI dan budaya sejatinya adalah sesuatu yang saling keterkaitan, tidak dapat dipisahkan. Tidak terkecuali pada salah satu budaya musik tradisional yang ada di Jawa Barat, Karinding.

    Dikutip dari Wikipedia.com, Menurut bahasa sunda, Karinding terdiri dari kata “Ka Ra Da Hyang” yang artinya dengan diiringi oleh doa sang Maha Kuasa. Atau ada juga yang mengartikan Ka=sumber dan Rinding= bunyi artinya sumber bunyi.

    Karinding adalah alat musik terbuat dari bambu atau pelepah aren. Dimainkan dengan cara ditepuk bagian ujungnya oleh ujung jari sambil ditempelkan di bibir.

    Konon, karinding merupakan salah satu alat yang telah digunakan karuhun 'nenek moyang' sejak sebelum ditemukannya alat musik tradisional kacapi . Usia kacapi sendiri sudah mencapai lebih dari 500 tahun yang lalu. Jadi, usia alat musik tradisional karinding sudah lebih tua dari 600 tahun

    Pada umumnya, bentuk karinding cukup kecil. Hanya memiliki 10 cm dan lebar 2cm. Ukuran berbeda berpengaruh terhadap suara. Cara menepuknya pun dapat memengaruhi suara yang dihasilkan. Tetapi bisa disesuaikan dengan pemakaian dan kebutuhan.

    Awalnya, Karinding digunakan oleh para petani untuk mengusir hama serangga atau burung di sawah. Suara yang dihasilkan oleh Karinding ini adalah suara yang desibelnya kecil atau Ultrasonik yang hanya dapat didengar oleh hama serangga untuk mengusir.

    Dikutip dari Ayobandung.com, Menurut penuturan Iman Rahman Anggawiria Kusumah (40) atau yang lebih akrab disapa Kang Kimung, Karinding diciptakan untuk menjadi pedoman pengelolaan alam dan lingkungan hidup.

    Kang Kimung menjelaskan bahwa filosofi karinding bisa dilihat dari banyak aspek. Salah satunya adalah karinding dimainkan dengan cara ditabeuh (dipukul) artinya orang sunda percaya semesta ini terbentuk dari dentuman besar.

    Dilansir dari kemenag.go.id, Karinding mempunyai filosofi yang dalam. Bagian itu dianalogikan ke dalam ”yakin, sadar, dan sabar.”
    1. Pada bagian pancepengan adalah “yakin.” Yakin bahwa setiap orang bisa memainkannya
    2. Pada bagian cecet ucing adalah”sadar.” Bahwasanya suara yang keluar adalah suara yang keluar bukan suara diri namun suara alam semesta.
    3. Pada bagian ujung (paneunggeul) “sabar” dalam memainkannya.

    Bagi masyarakat Sunda, Karinding bukan sekedar alat musik karawitan semata. Lebih dari itu, Karinding adalah ajaran tradisi dari leluhur atau nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan.

    Karinding sampai sekarang berkembang sampai menjadi salah satu alat musik tradisional yang dilestarikan dan bahkan sudah mendunia.

    Salah satu seniman sunda yang cukup gencar dan dikenal oleh Masyarakat indonesia bahkan mancanegara adalah Grup band asal bandung yaitu, Karinding Attack. [jt]

    ude

    0 Komentar
    Tinggalkan Komentar
    Cancel reply
    0 Komentar
    Tidak ada komentar
    Berita Lainnya
    Pakaian Dalam Wanita Berserakan di Situs Nagara Padang Ciwidey, Warga: Mungkin Dibuang Penziarah
    Becak: Lika liku Hiburan dan Perjuangan Rakyat Kecil
    Karinding: Tradisi Budaya Karuhun, Filosofi Kehidupan, Ketuhanan dan Lingkungan
    Cover Version Lagu Di Indonesia, Marak Pada Era 80-an, Tumbuh Subur Hingga Kini
    Juni Hingga Juli, Muncul Tiga Fenomena Antariksa Langka
    Berita Terdahulu

    Data Statik Covid-19


    DATA COVID-19 INDONESIA

    😷 Positif:

    😊 Sembuh:

    😭 Meninggal:

    (Data: kawalcorona.com)

    Ads