free hit counter code Tantangan Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Budaya Masyarakat Indonesia - JuaraNews Inspirasi Semangat Muda web stats service from statcounter

Hot News


Jabar Juara


Opini


    Tantangan Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Budaya Masyarakat Indonesia
    (bnpb.go.id) Dr. Kartini Sjahrir

    Tantangan Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Budaya Masyarakat Indonesia

    JuaraNews, Jakarta – Sejak Presiden Joko Widodo mengumumukan kasus positif covid-19 masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020, setidaknya telah tercatat lebih dari 63 ribu kasus.

     

    Tersebar di seluruh provinsi, wabah yang telah menjadi pandemi ini memberikan dampak yang beragam terutama bagi masyarakat Indonesia.

     

    Menurut Staf Ahli bidang Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Ekonomi Kreatif dan Ketenagakerjaan, Kemenko Pembangunan Masyarakat dan Kebudayaan (PMK) Aris Darmansyah Edisaputra, setidaknya ada empat kondisi masyarakat Indonesia di tengah pandemik Covid-19.

     

    Pertama, masyarakat yang tidak terpengaruh secara ekonomi sehingga memilih tetap membatasi aktivitas di luar rumah karena semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Selanjutnya ada masyarakat yang terpengaruh secara ekonomi sehingga memilih bekerja dengan memperhatikan protokol kesehatan. Contohnya pekerja formal dan pegawai kementerian lembaga.

     

    “Karena di kementerian lembaga sudah pasti di institusinya sudah ada aturan-aturan yang terkait dengan protokol kesehatan ini,” kata Aris saat sesi Talk Show Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 melalui video daring, Senin (6/7/2020).

     

    Ada juga, menurut Aris, masyarakat yang terdampak secara ekonomi sehingga kehilangan sumber pendapatan dan memaksanya keluar serta beradaptasi agar memperoleh sumber pendapatannya kembali. Sedangkan, kondisi yang terkakhir adalah masyarakat yang terdampak dan kehilangan sumber pendapatannya, namun belum mampu untuk beradaptasi.

     

    “Nah ini yang perlu kita sosialisasikan kepada semua elemen masyarakat,” ujarnya.

     

    Sementara pelaksanaan sosialisasi adaptasi kebiasaan baru memliki tantangan yang tidak mudah. Di antaranya seperti, kepatuhan masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan, kebiasaan masyarakat dalam bersosialisasi secara dekat, ketidakpahaman tentang bahaya virus yang tidak kasat mata, serta munculnya berbagai pendapat melalui media sosial yang kurang mendukung upaya pencegahan.

     

    “Mengenai hal ini, masih ada beberapa masyarakat yang menganggap enteng terkait kepatuhan ini,” katanya.

     

    Pemerintah melalui Kemenko PMK, yang membawahi 7 kementerian dan 14 lembaga telah mengeluarkan beberapa kebijakan. Beragam kebijakan tersebut bersifat sebagai pedoman terhadap kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.

     

    “Pemerintah tidak membatasi, silakan masyarakat melakukan aktivitasnya. Tetapi, tetap mematuhi protokol-protokol kesehatan,” ujar Aris.

     

    Daam kesempatan sama, Antropolog dan Penasihat ASEAN Institute for Peace and Reconciliation Kementerian Luar Negeri, Dr Kartini Sjahrir membenarkan, tantangan yang dihadapi pemerintah sesuai pemaparan Aris benar adanya. Sebab tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk mengubah perilaku dan budaya masyarakat Indonesia dalam hal menjaga kebersihan utamanya.

     

    “Masyarakat kita kurang disiplin itu ada benarnya, tapi masyarakat sendiri tengah menghadapi culture shock dengan keadaan ini. Contoh social distancing itu adalah suatu term baru dalam budaya Indonesia, bayangkan kita secara fisik dipisahkan,’ ucap Kartini.

     

    Justru, dia menyatakan,proses perubahan perilaku sekaligus memberdayakan diri sendiri ini punya sisi positif. Dari segi pemeliharaan lingkungan melalui penerapan protokol-protokol kesehatan misalnya. Masyarakat menjadi lebih preventif, kaitannya dengan kebersihan dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

     

    Dia juga melihat banyaknya manfaat terhadap kebiasaan-kebiasaan baru yang saat ini sedang terbentuk, terhadap masa depan. Contohnya, kultur hedonism dan korupsi yang diharapkan berkurang dengan tuntutan hidup sederhana saat ini.

     

    “Kehidupan hedonisme berkurang dan tidak akan seperti dulu, setidaknya dalam jangka waktu lima tahun kedepan,” ucap Kartini.

     

    Dia menambahkan, sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengan (UMKM) akan menjadi sektor yang penting dalam tatanan kehidupan yang baru nantinya karena dapat di produksi dari rumah.

     

    Pada akhir dialog, baik Aris maupun Dr Kartini sepakat bahwa  masyarakat harus bergerak aktif sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Karena upaya penanganan Coviid-19 yang dilakukan pemerintah tidak akan berarti apabila masyarakat tidak ikut serta membantu mewujudkannya. (*)

    ayi

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Ini Batas Akhir Pendaftaran Anggota KI Jabar
    Johan Anwari Aktif Sosialisasikan Perda Pesantren
    Jelang Pilkada, SE Kemendagri Jadi Sorotan
    Elektabilitas Ridwan Kamil-Ono Surono Tertinggi
    Pembangunan Industri akan Jadi Solusi Bagi Jabar

    Editorial



      sponsored links