banner 500x188

Buntut Kericuhan saat Jamu Ratchaburi, Persib Bandung Didenda Rp3,5 M dan Tanpa Penonton di Kompetisi Asia

Persib Bandung menanggung sanksi berat, buntut dari kericuhan penonton saat menjamu Ratchaburi FC pada Leg 2 Babak 16 ACL 2025-2026.
Persib Bandung menanggung sanksi berat, buntut dari kericuhan penonton saat menjamu Ratchaburi FC pada Leg 2 Babak 16 ACL 2025-2026. (foto: detikjabar)

JuaraNews, Bandung – Tim Persib Bandung menanggung sanksi berat, buntut dari kericuhan penonton saat menjamu Ratchaburi FC pada Leg 2 Babak 16 AFC Champions League Two (ACL 2) 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, 18 Februrari lalu.

Saat itu jelang beberapa menit babak kudua usai, ketiga kedudukan skor 1-0, puluhan penonton turun ke lapangan, hingga laga pun sempat terhenti. Penonton dari tribune selatan tersebut pun melakukan pelemparan, serta menyalakan flare. Hal itu membuat para pemain pengganti dari Ratchaburi yang tengah melakukan pemanasan, tunggang-langgang kembali ke bench. Para pewarta foto pun yang berada di sisi lapangan, terkena imbas dari lemparan-lemparan tersebut.

Kericuhan penonton tersebut dipicu oleh kekecewaan, bahwa Persib tersingkir atau gagal melangkah ke babak Perempat Final. Pasalnya, kemenangaan 1-0 di kandang tersebut, tak mampu mengantarkan Maung Bandung melangkah lebih jauh, karena kalah aggregat setelah menyerah 3-0 pada Leg 1 di kandang lawan, Dragon Solar Park Stadium, Ratchaburi Thailand.

Akibat insiden tersebut, manajemen Persib pun mendapatkan sangki berat dari AFC, berupa kewajiban membayar denda sebesar US$200 ribu atau setara Rp3,5 miliar. Selain itu, AFC pun melarang laga kandang Persib di kompetisi Asia pada musim depan, untuk disaksikan langsung penonton di stadion. Hal tersebut berdasarkan keputusan AFC Disciplinary and Ethics Committee tertanggal 13 Mei 2026.

“Sebagai klub profesional yang membawa nama Bandung dan Indonesia di level sepak bola Asia, Persib menghormati keputusan yang telah ditetapkan AFC sebagai bagian dari komitmen terhadap profesionalisme, disiplin, dan tata kelola sepak bola internasional,” demikian pernyataan resmi Persib, Jumat (15/5/2026).

“Namun di sisi lain, Persib sangat menyayangkan bahwa akibat tindakan yang seharusnya dapat dihindari, klub kini harus menanggung kerugian yang sangat besar, baik secara finansial, reputasi, maupun terhadap perjuangan yang sedang dibangun untuk terus bersaing dan berkembang di level internasional,”sambungnya.

Baca JugaHanya Menang 1-0 atas Ratchaburi, Persib Bandung Gagal ke Perempat Final ACL 2

 

Musim Depan Persib Kembali Berlaga di Kompetisi Asia

Tim Persib sendiri dipastikan akan kembali berpartisipasi di ajang kompetisi Asia, setelah hingga Pekan 33 Super League 2025-2026 ini bertengger di 2 Besar klasemen sementara. Persib masih memimpin klasemen dengan mengoleksi 75 poin, sama dengan Borneo FC yang menempati posisi 2. Jika berhasil tampil sebagai juara, Persib akan kembali berlaga di ACL 2 musim depan, untuk ketiga kalinya berturut-turut. Nantinya Persib harus melewati dulu babak play-off.

Sedangkan jika gagal jadi juara dan hanya menempati posisi runner-up, skuat Maung Bandung akan berlaga di kompetisi kasta kedua Asia, AFC Challenge League (ACGL), juga melalui babak play-off. Dengan demikian, setidaknya pada musim depan, Persib akan menjadi tuan rumah sebanyak 3 kali di fase grup. Tapi bisa jadi sebanyak 4 kali, jiga ditunjuk menjadi tuan rumah babak play-off, seperti halnya musim lalu saat menjamu Digger FC asal Filipina. Namun status tuan rumah ini bisa kembali bertambah, jika Persib lolos ke babak-babak berikutnya, mulai fase 16 Besar, Perempat Final, Semifinal, hingga Final.

Baca JugaUnggul Agregat 3-0, Worrawoot Tegaskan Ratchaburi takkan Lakukan Parkir Bus

Ketiadaan penonton tersebut tentunya menjadi kerugian besar bagi Persib. Karena selain tak adanya suntikan semangat bagi penonton yang berjuang di lapangan, kondisi tersebut membuat Persib kehilangan potensi pendapatan dari penjualan tiket pertandingan.

“Nilai denda yang mencapai sekitar Rp3,5 miliar, ditambah potensi kehilangan pendapatan pertandingan akibat hukuman tanpa penonton, merupakan kerugian yang sangat besar bagi klub. Nilai tersebut bukan angka kecil. Dana sebesar itu sejatinya dapat dialokasikan untuk penguatan fasilitas klub, pembinaan jangka panjang, peningkatan kualitas operasional, hingga memperkuat daya saing tim agar Persib dapat terus berkembang dan melangkah lebih jauh di level Asia,” papar manajemen Persib.

Kerugian tersebut, sambungnya, tidak hanya dirasakan oleh klub, tapi juga oleh Bobotoh secara luas.  “Sangat disayangkan ketika perubahan positif yang dibangun bersama selama bertahun-tahun justru harus dirugikan akibat tindakan segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Yang paling berat, konsekuensi besar ini pada akhirnya tidak ditanggung oleh pelaku secara pribadi, tetapi harus dipikul oleh klub serta jutaan Bobotoh lain yang selama ini menjaga Persib dengan penuh tanggung jawab dan kebanggaan,” jelasnya.

Menurut manajemen, situasi tersebut menjadi kerugian bagi sepak bola Indonesia, Jawa Barat, dan Kota Bandung. Karena Persib saat ini merupakan satu-satunya klub wak Indonesia yang bermain di ACL 2. “Karena itu, setiap perjalanan dan pencapaian Persib di level Asia seharusnya menjadi kebanggaan bersama yang dijaga secara kolektif, bukan justru dirugikan oleh tindakan yang menghambat langkah dan cita-cita besar yang sedang diperjuangkan bersama,” tegasnya.

Baca JugaPERSIB BANDUNG VS RATCHABURI FC: Berjuang Habis-habisan, Balikkan Keadaan

 

Lakukan Evaluasi Seluruh Aspek Penyelenggaraan Pertandingan

Manajemen Persib menegaskan bahwa kompetisi internasional memiliki standar regulasi, keamanan, dan disiplin yang sangat ketat. Sehingga sSetiap tindakan yang terjadi di dalam maupun di luar pertandingan bsia membawa konsekuensi serius terhadap klub. Satu tindakan emosional dalam beberapa menit dapat memberikan dampak panjang terhadap masa depan klub, pemain, dan jutaan Bobotoh lainnya.

“Persib tidak ingin kerja keras, pengorbanan, dan mimpi besar yang sedang dibangun bersama kembali terganggu akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, kami mengajak seluruh pihak untuk benar-benar memahami bahwa menjaga Persib bukan hanya soal hadir dan mendukung di stadion, tetapi juga tentang menjaga kehormatan, reputasi, dan masa depan klub ini di level internasional,” ungkapnya.

Di sisi internal, manajemen pun akan melakukan introspeksi dan evaluasi secara menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan pertandingan, termasuk sistem keamanan, koordinasi panitia pelaksana, manajemen risiko pertandingan. Hingga langkah-langkah preventif lainnya agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Baca JugaKejar Defisit 3 Gol dari Ratchaburi, Pelatih Persib Bandung Sebut Semuanya Mungkin dalam Sepak Bola

“Persib percaya bahwa seluruh Bobotoh memiliki kecintaan yang besar dan tulus terhadap klub ini. Kecintaan tersebut selama ini telah menjadi kekuatan penting dalam perjalanan Persin untuk terus tumbuh, berkembang, dan bersaing di level tertinggi. Karena itu, momentum ini harus menjadi pembelajaran bersama agar energi besar yang dimiliki Bobotoh tetap menjadi kekuatan positif yang mampu membawa Persib semakin maju, semakin profesional, dan semakin membanggakan di level Asia,” paparnya.

“Persib percaya bahwa cinta terhadap klub harus diwujudkan melalui tanggung jawab. Sebab sebesar apa pun dukungan yang diberikan, semuanya akan kehilangan makna ketika tindakan yang dilakukan justru merugikan perjuangan klub yang sama-sama kita cintai,” sambungnya. (den)