free hit counter code Pesona Sungai Keramik Desa Sawai Maluku - JuaraNews Inspirasi Semangat Muda web stats service from statcounter

Hot News


Opini


    Pesona Sungai Keramik Desa Sawai  Maluku
    ilustrasi

    Pesona Sungai Keramik Desa Sawai Maluku

    • Kamis, 7 Desember 2023 | 14:53:00 WIB
    • 0 Komentar

    JuaraNews, Bandung - Indonesia terkenal akan kekayaan budaya dan sumber daya alamnya. Hal inipun tak terbatas pada keunikan yang khas di tiap masing-masing daerah. Dari ribuan desa yang tersebar di negara kita, beberapa di antaranya terkenal akan keistimewaannya. 

     

    Salah satunya adalah Desa Sawai yang terletak di Pulau Seram Maluku Tengah Indonesia yang terkenal akan keindahannya. 

     

    Desa Sawai menawarkan keindahan sekaligus keunikan, yang mungkin tidak akan kita temukan di tempat lain, tepat di tengah-tengah desa kecil ini mengalir sebuah sungai keramik layaknya kolam renang di kota-kota, di aliran sungai ini masyarakat biasa melakukan berbagai aktivitas seperti mandi, mencuci, dan juga tempat berenang, serta bermain anak-anak. 

     

    Meskipun demikian sungai ini tetap terjaga kebersihannya dan tetap jernih. Desa Sawai disebut sebagai salah satu desa tertua di Indonesia, konon katanya desa ini telah ada sebelum kedatangan bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda ke tanah Nusantara. 

     

    Luasnya sekitar 15 hektar, dengan jumlah penduduk sekitar 4000 jiwa. Menurut cerita turun temurun, pedagang Arab yang datang ke Pulau Seram adalah orang pertama yang membangun desa ini. bisa dilihat dari perkembangan budaya terkait adat timur tengah seperti musik gambus, pakaian gamis, dan arsitektur bangunan. 

     

    Hal yang menarik perhatian di desa Sawai tentu saja adalah sungai keramiknya, sungai ini biasa di sebut sebagai sungai Asinahu. 

     

    Sungai dengan kedalaman sebatas pinggang orang dewasa ini, membelah dua wilayah di sekitarnya. Tak heran jika kebanyakan orang mengira sungai Asinahu ini mirip dengan suasana di Venesia Italia, karena keunikan dan keindahannya. 

     

    Mengenai air sungainya sendiri bersumber dari bebatuan di daerah tebing sekitar desa, air sungai tersebut mengalir di tengah-tengah rumah warga, bahkan uniknya air tersebut bisa langsung menuju ke lautan. 

     

    Asal usul sungai Asinahu sudah dinamai sejak zaman dahulu kala, dimana air sungai yang tawar sering bercampur dengan air laut saat sedang pasang. Konon katanya ada peristiwa yang melanda di desa Sawai, dan pada saat itu sungai Asinahu masih di sebut air Asinahu yang merupakan aliran air tawar yang melintas di desa Sawae Maluku.

     

    Karena posisi laut dan sungai yang berdekatan, maka saat itu terjadi air pasang sehingga air laut masuk dan memenuhi sungai tersebut. Sejak peristiwa itu warga setempat menyembutnya dengan sebutan air Asinahu, yang mana memiliki arti air tawar yang rasanya asin seperti air laut. 

     

    Sampai sekarang air sungai ini tidak pernah surut, walaupun sering digunakan warga setempat untuk melakukan berbagai macam aktivitas. 

     

    Sebagai desa tertua di Maluku, desa Sawai memang merupakan desa wisata yang berada di kawasan Taman Nasional Manusela, dan menyuguhkan alam yang luar biasa, sebagian besar penduduk di desa ini berprofesi sebagai nelayan dan pembuat sagu, di mana profesi ini merupakan profesi secara turun-temurun masyarakat desa Sawai, 

     

    Penduduk desa Sawai juga sudah sadar akan wisata, sehingga selalu menyambut wisatawan dengan kehangatan. Alhasil wisatawan akan merasa nyaman dan betah di sini, mereka merasa diperlakukan sebagai keluarga baru yang membuat suasana menjadi lebih harmonis. 

     

    Ramainya wisatawan yang berkunjung datang ke tempat ini juga menjadi berkah bagi masyarakat setempat, sebab mereka dapat menambah penghasilan dengan adanya aktivitas wisata di tempat itu. 

     

    Untuk sampai ke desa Sawai wisatawan perlu melewati rute perjalanan yang cukup panjang dengan melewati Bandara Pattimura Ambon, pelabuhan Tuleha, pelabuhan Amahai dan terakhir menuju ke dermaga desa tersebut. (*) 

     

    Rdsp

    0 Komentar

    Tinggalkan Komentar


    Cancel reply

    0 Komentar


    Tidak ada komentar

    Berita Lainnya


    Belajar Sejarah dengan Kunjungi Museum di Bandung
    3 Tempat Wisata di Bandung Adem Untuk Lepas Penat
    5 Tempat Camping di Bandung Cocok Buat Healing
    Grand Tjokro Bandung Gelar Weekend Run ‘b Chill
    Mulang Ka Lembur, Mang Qur Janji Bangun Parongpong

    Editorial