KEBERADAAN Institusi Pondok Pesantren tidak hadir di ruang hampa atau terpisah dari dimensi lain. Sejak pertama kehadirannya di Indonesia, pada lapisan pertama pesantren lebih fokus pada santri secara khusus yang ingin memperdalam pengajaran Islam dan kehidupannya berkembang berdampingan dengan struktur sosial, tradisi, dan tata nilai yang lebih dulu hidup secara sosial-kultural.
Pesantren banyak memberi pengaruh dan inspirasi, bahkan kata Greg Fealy (2003) siapa saja yang ingin meneliti Islam tradisional Indonesia, maka penelitiannya tidak bisa dipisahkan dengan institusi pesantren dan kyai sebagai pemimpinnya.
Baca Juga:A Yamin Dorong Penguatan SDM Pesantren di Jawa Barat
Pola pada lapisan berikutnya di era kontemporer, pesantren bukan saja institusi pendidikan islam tradisional di mana santri bermukim secara khusus dari berbagai daerah, lebih jauh sebagai jantung peradaban yang mempengaruhi sisi lain dari kehidupan religius dan sosial perkotaan, sehingga keberadaanya berimplikasi terhadap institusi pendidikan yang dibentuk oleh negara. Pondok Pesantren, kini eksistensinya bukan saja menerima santri secara khusus yang menatap, tapi mahasiswa-mahasiswi yang tumbuh berkelindan dengan kehidupan sosial perkotaan, mereka bermukim pula di pondok pesantren.
Lima belas tahun yang lalu, hanya beberapa hasta dari kampus UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, beberapa tahun setelah reformasi, berdiri sebuah Pondok Pesantren dengan konsisten hingga hari ini berfokus pada pengajaran metode klasik (salafiyah), sebagaimana umumnya pondok pesantren di Indonesia yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU), sependek pengetahuan saya pesantren ini menekankan aspek etika kepada guru sebagai roh dari nalar kognitif, membangun spiritualitas dan juga mengembangkan basis intelektual ulama-ulama klasik dengan kajian kitab turots, namun tanpa mengabsenkan dimensi sosial-budaya di dalamnya.
Sosok yang bertungkus lumus atas pesantren ini adalah Ajengan Muhammad Qamaruddin Latifullah dan Bu Nyai Euis Susilawati, dua pasangan suami ini secara mandiri mendirikan pondok pesantren tersebut dan selanjutnya diberi nama pesantren Ar-Raaid. Tepat tanggal 27 September tahun ini, Ar-Raaid akan melaksanakan milad atau milangkala Pondok Pesantren yang mereka dirikan 15 tahun lalu.
Baca Juga:Silatusantren Coklat Kita, Hadirkan Inovasi Olah Sampah di Ponpes Nurul Iman
Pemberian nama Ar-Raaid (الرائدُ) memiliki makna filosofi bahasa yang sangat subtil, dilihat dalam historiografi linguistik Arab secara harfiah bahasa Indonesia artinya adalah “pemandu, pelopor, perintis, penjelajah”, dalam Mu’jam Al-Wasith dikatakan “الرَّائِدُ مَنْ يَتَقَدَّمُ الْقَوْمَ يَبْصُرُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَمَسَاقِطَ الْغَيْثِ ”/ Ar-Raaid adalah orang yang berjalan (memandu) paling depan untuk menemukan padang rumput dan tempat yang dibasahi hujan”.
Maka menurut Dr. Muhammad Kamaluddin (2009) menyebut dalam studi linguistik Arab bahwa Ar-Raaid mengandung makna kebahasaannya adalah ( الرَّائِدُ لُغَةً: هُوَ الَّذِي يَتَقَدَّمُ الْجَمَاعَةَ لِيَتَبَصَّرَ فِي أُمُورِهَا، وَيَسْتَعْلِمَ لَهَا الْوَقَائِعَ الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِهَا) dia berarti seorang yang berjalan di depan kelompoknya untuk memberikan pengetahuan dan memastikan membimbing mereka yang berkaitan untuk kemaslahatan kelompok itu.
Ar-Raaid memiliki historiografi linguistik arab kuno menjadi majaz lughawi yang penuh metafora (majaz isti’arah), dalam peribahasa Arab kata Ar-Raaid seringkali dijadikan perumpamaan atau tamsil dalam memberi makna pada seorang pemimpin, seperti ungkapan Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah : فَلْيَصْدُقْ رَائِدٌ أَهْلَهُ/ Pemimpin hendaklah jujur terhadap rakyatnya.
Ar-Araaid itu bisa dimaknai laksana seorang penunjuk jalan. Ar-Raaid juga dimaknai ia yang melangkah paling awal di depan, menerobos ketidaktahuan demi menemukan tanah yang hijau dan keberkahan hujan untuk orang-orang di belakangnya.
Baca Juga:Tritan Point Jadi Saksi Sejarah, Hellprint United Day 9 Edisi ke-15 Sukses Mengguncang Bandung
Barangkali, pemberian nama pesantren Ar-Araaid yang berada kawasan Bandung Timur tersebut memiliki kedalam makna linguistik Arab klasik dan sekaligus Arab kontemporer, sehingga konteks maknanya bisa saja memiliki tujuan arti sosok pemimpin atau pionir yang bergerak lebih dulu di depan santrinya. Tugasnya adalah mencari momentum, menemukan tempat terbaik untuk tumbuh, dan membuka jalan menuju sumber kemakmuran santrinya. Bandingkan dengan (Kamaluddin,2009).
Perjalanan lima belas tahun Pondok Pesantren Ar-Raaid tidak sekadar jejak waktu, melainkan cerminan dari nama yang diembannya. Pemilihan nama “Ar-Raaid” oleh Ajengan Muhammad Qamaruddin Latifullah dan Bu Nyai Euis Susilawati bukanlah kebetulan bahasa semata, tetapi sebuah pilihan syarat visi yang subtil. Dalam khazanah historiografi bahasa Arab, Ar-Raaid digambarkan sebagai penunjuk jalan yang melangkah lebih dulu, menembus ambiguitas demi menemukan tempat yang subur bagi mereka yang mengikutinya sebuah gambaran yang kemudian bertransformasi menjadi metafora kepemimpinan, sebagaimana termaktub dalam ucapan Ali bin Abi Thalib pada kitab Nahjul Balaghah tentang pentingnya kejujuran seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Makna inilah yang tampaknya dilegasikan Ar-Raaid kepada setiap santrinya, bahwa menjadi bagian dari pesantren ini berarti turut memikul amanah untuk berjalan di depan, membuka jalan pengetahuan dan spiritualitas serta adab bagi lingkungan sekitar dan seluruh umat manusia. Berdiri di tengah dinamika kota Bandung, tak jauh dari kampus UIN Sunan Gunung Djati, Ar-Raaid menunjukkan bahwa pesantren salafiyah tetap dapat relevan dengan denyut kehidupan sosial-akademik modern, tanpa kehilangan jantung klasik dan adab terhadap guru yang menjadi ruhnya.
Baca Juga:BPRS HIK Parahyangan Rayakan Milad ke-32, Perkuat Peran dalam Ekonomi Umat
Pada usianya yang ke-15, milad Ar-Raaid bukan sekadar seremonial usia, melainkan menegaskan kembali komitmennya sebagai “pemandu” dalam makna literal maupun filosofis untuk generasi santri yang terus tumbuh di bawah naungan pesantren Ar-Raaid, mencari ilmu dan keberkahan sebagaimana makna nama yang disandangnya sejak awal berdiri. (*)
Penulis:
WS Abdul Aziz.







