JuaraNews, Bandung – PSSI Provinsi Jawa Barat (Jabar) menggelar kegiatan Halal Bi Halal dengan tema “Lebaran Sepakbola Jabar” di Aula PSSI Provinsi Jabar, Jalan Lodaya, Kota Bandung, Jumat (3/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus PSSI Provinsi Jawa Barat, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Provinsi Jawa Barat, Vivin Cahyani, Plt Sekjen, Muhammad Jaelani Saputra.
Kemudian Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Guna, Sekdispora Jawa Barat, Gilang Sailendra dan perwakilan PSSI Kota/Kabupaten serta klub – klub anggota.
Plt Ketua Umum PSSI Jabar, Vivin Cahyani, mengatakan kegiatan silaturahmi ini sekaligus menjadi ajang diskusi mengenai program yang telah disusun oleh PSSI Jabar.
Salah satu progam dari PSSI Jabar yakni meningkatkan jumlah pelatih berlisensi, hal itu dilakukan agar sepakbola Jabar bisa lebih berkembang.
Baca Juga: Ini Jadwal Pertandingan Pekan 26 Super League 2025-2026
“Jadi dari 50 juta (penduduk) kita tarik, kita baru punya 2.000 pelatih yang berlisensi, itu jumlah yang sangat sedikit yang kita harus kejar,” katanya.
“Jadi buat kami di PSSI Jabar, kita sekarang targetkan bikin pelatihan-pelatih sebanyak-banyaknya, terutama lisensi D yang paling dasar,” ujarnya.
Guna merealisasikan program ini, bisa didorong dengan pemberian insentif supaya masyarakat lebih antusias mengikuti pelatihan.
“Makanya kita berikan insentif ambil lisensi dengan bayar cuma Rp500 ribu dengan target untuk kloter yang pertama kita bisa mencetak sekitar 2.500,” ucapnya.
PSSI Jabar bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan tambahan 2.500 pelatih berlisensi pada tahap berikutnya.
Baca Juga: Ini Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Bulgaria pada Final FIFA Series 2026
Sehingga, target pada tahun ini (2026) bisa mencapai 5.000 pelatih yang memiliki lisensi sesuai yang ditargetkan PSSI Pusat yakni 60 persen dari target nasional atau sebanyak 9.000 pelatih.
Program Satu Anak Satu Bola
Menurutnya, kualitas sumber daya menentukan maju atau tidaknya sepakbola di Jawa Barat, sehingga program lisensi pelatih menjadi salah satu perhatian PSSI Jabar.
“Karena bagaimana seorang pelatih yang kualitasnya kita tidak tahu dan mereka tidak punya lisensi bisa mencetak pemain baik. Jadi itu yang menjadi paling fundamental,” ungkapnya.
Selain SDM, masalah infrastruktur juga menjadi salah satu yang harus diperhatikan dalam pengembangan sepakbola.
“Satu kecamatan, satu lapangan itu saya berharap bahwa pemerintah daerah benar-benar bisa merealisasikannya. Karena itu menjadi salah satu tolak ukur yang menjadi sangat penting,” katanya.
Baca Juga: TIMNAS INDONESIA VS BULGARIA: Laga Pembuktian
“Begitu juga program Satu Anak Satu Bola, juga akan berdampak terhadap pembinaan,” jelasnya.
Berdasarkan riset di internal, keterbatasan jumlah bola menjadi kendala dalam proses latihan di beberapa SSB (Sekolah Sepak Bola).
Pihaknya berharap program tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah termasuk penganggarannya.
“Saya berharap visi-misi ini didengar oleh Pak Gubernur, kemudian pemerintah daerah juga merespon dengan baik. Saya pikir one step at a time. Yang pertama adalah satu bola satu anak bisa terrealisasi, mungkin ini bisa lebih cepat,” tegasnya.
Dukungan dari Ketua DPRD Jawa Barat

Sementara itu, Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Guna, mengatakan apa yang dipaparkan Plt Ketua Umum dan Plt Sekjen PSSI Provinsi Jawa Barat sangat jelas.
“Perhatian PSSI terhadap sepak bola Jawa Barat ternyata luar biasa. Jadi ada program-program tadi disampaikan, akan ada program lisensi untuk 2.500 para pelatih di Jabar, untuk lisensi D,” katanya.
“Kedepannya bisa ditingkatkan lagi ke lisensi C, B, sampai A. Terus juga tadi ada program yang menurut saya juga luar biasa yaitu program satu anak satu bola,” ucapnya.
Selain itu, program satu anak satu bola sangat bagus, karena untuk mencetak pemain sepakbola berkualitas maka sejak usia dini mereka harus terbiasa dengan bola.
“Nah ini supaya bola itu betul-betul menyatu dengan jiwa raganya. Kedepan bahkan kalau memang ada tim talent scouting yang betul-betul melihat bakat anak-anak di Jawa Barat, bisa saja memberikan beasiswa,” ungkapnya.
“Jadi ada skala-skala prioritas seperti itu yang ingin saya dorong,” jelasnya.






