banner 500x188

Dua Anak Harimau Benggala Mati, PEWARIS Minta Penyelamatan Bandung Zoo Tetap Berjalan

Kematian dua anak harimau Benggala, Hara dan Huru, di Kebun Binatang Bandung akibat virus menuai keprihatinan dari berbagai pihak.
Penjaga Warisan Sunda (PEWARIS) Minta Penyelamatan Bandung Zoo Tetap Berjalan. (Foto: istimewa)

JuaraNews, Bandung – Kematian dua anak harimau Benggala, Hara dan Huru, di Kebun Binatang Bandung pada 24 dan 26 Maret 2026 akibat virus menuai keprihatinan dari berbagai pihak.

Salah satu pernyataan datang dari Koordinator Penjaga Warisan Sunda (PEWARIS), Rully Alfiady yang selama hampir satu tahun terakhir aktif memperjuangkan pelestarian nilai sejarah dan budaya Kebun Binatang Bandung di tengah polemik hak pengelolaan.

“Kami turut prihatin dan menyayangkan meninggalnya dua anak harimau Benggala akibat virus. Keduanya merupakan bagian dari tujuh satwa langka yang lahir di tengah konflik pengelolaan Bandung Zoo,” ujar Rully dalam keterangan resminya.

Baca Juga: Pemkot Bandung Harus Bertindak Cepat Tangani Kisruh Pengelolaan Kebun Binatang

Rully mengatakan, peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa menjaga aset konservasi memerlukan keahlian, komitmen, dan perhatian serius. Meski demikian, kejadian ini tentu tidak diharapkan oleh siapa pun.

“Tanpa mengesampingkan kematian dua satwa tersebut, kami mendorong Pemerintah Kota dan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Jawa Barat untuk tetap konsisten dan fokus melanjutkan agenda besar penyelamatan Kebun Binatang Bandung, sesuai kesepakatan bersama antara pemerintah kota, masyarakat, karyawan, dan ahli waris Ema Bratakoesumah.” tandasnya.

Dalam pernyataannya, PEWARIS juga mengapresiasi sejumlah tokoh yang telah turun tangan langsung, di antaranya Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi, Sekda Jabar, Ketua DPRD Jabar dan tokoh masyarakat lain seperti Pa Ono Surono, Ahmad Heryawan, Agun Gunanjar (dalam kapasitas wakil rakyat baik propinsi maupun DPR-RI).

Baca Juga: Pemkot Evaluasi Tata Kelola Kebun Binatang Bandung Pasca Dua Bayi Harimau Mati

“Kehadiran mereka dinilai memberi dorongan percepatan dalam penyelamatan satwa, karyawan, dan ekosistem kebun binatang yang telah berdiri selama 93 tahun itu,” ungkapnya.

Sejalan dengan pernyataan Rully, Andri P. Kantaprawira menegaskan bahwa kematian dua anak harimau tidak boleh mengganggu agenda besar penyelamatan Bandung Zoo. Ia mendorong agar solusi konkret segera dijalankan sesuai aturan dan prinsip tata kelola yang baik.

Sementara itu, tokoh WALHI kultural, Apipudin, menilai peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi pengelola dan pegiat lingkungan.

Baca Juga: Pemkot Pastikan tak Buka Operasional Kebun Binatang Bandung Saat Libur Lebaran

“kematian dua anak harimau benggala harus menjadi pelajaran bagi para pengelola dan pegiat lingkungan” tandas Apipudin.

Ia mendesak pemerintah kota harus segera melakukan percepatan untuk merealisasikan kesepakatan bersama pemerintah dan masyarakat kota Bandung terkait pengelolaan Kebun Binatang Bandung.

PEWARIS mengajak seluruh masyarakat Bandung, Jawa Barat, hingga tingkat nasional, untuk bersama-sama mengawal dan menjaga proses penyelamatan Kebun Binatang Bandung, dengan harapan ke depan dapat dikelola secara lebih profesional, berkeadaban, serta tetap lestari sebagai warisan sejarah dan budaya Sunda. (dsp)