JuaraNews, Bandung – Dunia musik rock Indonesia kembali diselimuti kabar duka. Bassis PAS Band, Bambang Sutrisno atau yang akrab disapa Trisno, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 14.29–14.30 WIB di RS Hermina Bandung, Jawa Barat. Ia mengembuskan napas terakhir dalam usia 55 tahun.
Kabar berpulangnya Trisno disampaikan pertama kali oleh drummer PAS Band, Sandy Andarusman, melalui akun media sosialnya. Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi kepada sejumlah media.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah saudara kami, basis kami @tris_noize jam 14.30, hari ini 1 Agustus 2026,” tulis Sandy.
Baca Juga: PAS88 Band Siap Warnai Industri Musik Tanah Air Lewat Debut Single “Hasratku”
Jenazah Trisno disemayamkan di kediamannya di Bandung. Almarhum dijadwalkan dimakamkan pada Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikutra, Bandung.
Sebelum meninggal dunia, Trisno diketahui tengah menjalani perjuangan melawan penyakit gagal ginjal. Kondisi kesehatannya membuat musisi kelahiran Bandung tersebut harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit dalam beberapa waktu terakhir.
Kepergian Trisno menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga bagi para penggemar PAS Band dan pencinta musik rock Tanah Air.
Baca Juga: Legenda Bass God Bless Donny Fattah Tutup Usia
Sebagai salah satu personel pendiri PAS Band, Trisno memiliki peran penting dalam perjalanan band yang dikenal sebagai salah satu pionir musik rock alternatif Indonesia tersebut. Kiprahnya bersama PAS Band turut mewarnai perkembangan skena musik independen Tanah Air sejak era 1990-an.
Bersama Yukie, Bengbeng, dan Richard Mutter, Trisno menjadi bagian dari formasi yang melahirkan sejumlah karya yang kemudian melekat kuat di hati penggemar musik Indonesia. Di antaranya “Jengah”, “Permata Yang Hilang”, “Aku”, dan “Malam Tetaplah Malam”.
Kepergian Trisno meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan PAS Band sekaligus sejarah musik rock Indonesia. Karya dan dedikasinya menjadi bagian dari perjalanan sebuah generasi yang ikut membesarkan musik alternatif di Tanah Air.
Selamat jalan, Trisno. Musik dan karya-karyamu akan tetap hidup di tengah para penggemar dan perjalanan panjang musik Indonesia. (dsp)







