“Smart Drop Box” Kotak Pintar Sampah Berbasis Aplikasi



 “Smart Drop Box” Kotak Pintar Sampah Berbasis Aplikasi

 

JuaraNews, Bandung – Permasalahan sampah merupakan sumber persoalan yang sampai saat ini belum terpecahkan. Persoalan tersebut bukan hanya pemerintah yang bertanggungjawab tetapi juga peran aktif masyarakat dan akademisi dalam pengelolan sampah. Permasalahan sampah di Desa Sukapura, Kec. Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung juga masih belum dikelola dengan baik, masih dikelola secara tradisional, dan belum terkoordinasi dengan baik sehingga menjadikan tumpukan sampah yang menggunung di beberapa lokasi.  

 

Melihat hal itu mendorong tim pengabdian masyarakat (Pengmas) Fakultas Rekayasa Industri (FRI) Telkom University Bandung yang terdiri dari Fransiskus Tatas Dwi Atmaji, Putra Fajar Alam, Endang Budiasih dan Aji Pamoso bersama Karang Taruna Desa Sukapura berupaya untuk melakukan tindakan nyata untuk pengelolaan sampah tersebut.

 

Kegiatan “Pengmas” kali ini dengan membuat perancangan Smart Drop Box untuk sampah jenis plastik, khususnya botol-botol, tentunya akan mengurangi tercampurnya sampah organik dan anorganik. Sistem smart drop box ini akan berkolaborasi dengan sistem manajemen penangananan sampah terpadu dan terpusat berbasis sistem online manajemen sampah (SMASH), kata ketua tim pengabdian masyarakat Fakultas Rekayasa Industri (FRI) Telkom University-Bandung, Fransiskus Tatas Dwi Atmaji dalam acara serah terima hasil Perancangan Prototipe “Smart Drop Box” untuk penanganan sampah anorganik pada hari Selasa/28 Desember 2021 Pukul 10.00 di Aula Desa Sulapura Kecamatan Dayeuhkolot, yang dihadiri juga oleh Kepala Desa Ganjar Sukmawibawa, Sekretaris Desa Deni Sugandi, Perwakilan Karang Taruna, Ibu Ketua PKK, Kepala BPD, dan Perangkat Desa Sukapura. Pada acara serah terima tersebut juga dilakukan demonstrasi penggunaan smart drop box Bersama Tim Pengabidan dan Kepala Desa Sukapura.

 

Perancangan pembuatan smart drop box ini, diharapkan akan meningkatkan tingkat kepedulian masyarakat desa Sukapura terhadap permasalahan sampah yang selama ini belum dapat teratasi dan memanfaatkan teknologi untuk pengelolaan sampah terpadu. “Pengmas” terkait sampah ini merupakan gabungan dari beberapa kegiatan seperti perancangan pembuatan smart drop box, penyempurnan mesin pencacah botol plasik dan pembuatan Polimer sampah plastik menjadi bijih plastik, tutur Tatas.

 

Di samping itu, Deni Sugandi mengatakan bahwa penanganan sampah merupakan masalah klasik yang sampai saat ini belum menemukan solusi terbaik, semoga dengan kemitraan pemerintah Desa Sukapura dengan Telkom University merupakan awal yang baik terutama dalam hal penanganan dan pengelolaan sampah. Permasalahan sampah harus bermula dari rumah tangga mulai dari memilah sampah organic dan an organik, oleh karenanya masyarakat perlu diberikan edukasi.

 

Sementara itu, di tempat terpisah Putra Fajar Alam selaku founder SMASH menyatakan bahwa salah satu sistem manajemen penanganan sampah terpadu dan terpusat berbasis sistem online manajemen sampah (SMASH). SMASH pada dasarnya terdiri dari 3 fiture utama yaitu:  bank sampah, mysmash, dan e-smash. Bank sampah akan menghubungkan Bank Sampah di seluruh Indonesia. Saat ini sudah ada 5.000 lebih Bank Sampah (dan terus bertambah) dari 32 Provinsi yang menggunakan aplikasi BankSampah.id.

 

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat melalui sebuah aplikasi mySmash, aplikasi yang menghubungkan nasabah dengan Bank Sampah terdekatnya. MySmash adalah aplikasi yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai Bank Sampah yang ada di sekitar Anda serta jenis sampah anorganik yang dapat dijual ke Bank Sampah tersebut. e-Smash adalah suatu aplikasi berbasis web berbentuk Dashboard yang bisa digunakan oleh pemerintah lokal untuk pengelolaan persampahan di daerah masing-masing, tutur Putra. (*)

 

ude

0 Komentar
Tinggalkan Komentar
Cancel reply
0 Komentar
Tidak ada komentar
Berita Terkait
Berita Lainnya
 “Smart Drop Box” Kotak Pintar Sampah Berbasis Aplikasi
Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Semasa Muda Ditendang Tentara Kini jadi KSAD
Ainul Yaqin, Lulusan S2 yang Memilih Jadi Petani
WINDY CANTIKA AISAH: Sering Rewel Diajak Ibu Latihan, Kini Raih Perunggu Olimpiade Tokyo
Ujang Margana, Petani Sukses dari Generasi Milenial Jabar
Berita Terdahulu