Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Semasa Muda Ditendang Tentara Kini jadi KSAD

  • Kamis, 18 November 2021 | 22:21:00 WIB
  • 0 Komentar


Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Semasa Muda Ditendang Tentara Kini jadi KSAD
Jenderal TNI Dudung Abdurachman saat dilantik menjadi KSAD oleh Presiden Joko Widodo di Istana Presiden, Jakarta, Rabu (17/11/2021). (net)

PRESIDEN Joko Widodo melakukan pergantian pada sejumlah jabatan tinggi di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Rabu (17/11/2021).

 

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa naik jabatan dan dilantik menjadi Panglima TNI, menggantikan Maksekal TNI Hadi Tjahjanto yang memasuki masa pensiun pada November ini.

 

Naik jabatannya Jenderal Andika,membuat jabatan KSAD harus ditinggalkannya. Sebagai gantinya, Presiden menunjuk Letnan Jenderal (Letjen) TNI Dudung Abdurachman yang sebelumnya menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) sebagai KSAD yang baru. Atas kenaikan jabatan tersebut, Dudung pun otomatis naik pangkat menjadi jenderal bintang empat.

 

Sepak terjang dan perjalanan karier Dudung hingga bisa menjadi orang nomor satu di tubuh TNI AD ini cukup menarik perhatian masyarakat. Betapa tidak, Dudung yang lahir di Bandung pada 16 November 1965 ini bukanlah keturunan orang-orang besar seperti sejumlah pendahulunya. Dia hanyalah rakyat biasa, yang harus berjuang keras meraih kesuksesan yang dirasakannya saat ini.

 

Ayahnya, Nasuha yang meninggal dunia saat dirnya masih duduk di Kelas 2 SMP, hanyalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi di Kota Bandung, yang bergaji pas-pasan. Bahkan untuk menopang kehidupan keluarganya termasuk 7 saudaranya, Dudung harus membanting tulang membantu ibunya, Ny Nasyati, berjualan kue dan menjadi loper koran. Bekerja menjual kue dan menjadi loper koran tersebut dilakukan hingga dia menempuh pendidikan di SMAN 9 Bandung

 

Perjuangan alumnus Akabri AD tahun 1988 dari kecabangan Infantri tersebut dimulai ketika sang ayah meninggal dunia pada 1981 silam. Tanpa adanya tulang punggung keluarga, Dudung tampil mengambil alih sebagian tanggung jawab tersebut, karena gaji pensiunan janda PNS yang diterima ibunya tiap bulan, tidaklah cukup untuk membiayai keluarga.

 

"Sepeninggal bapak saya, ibu saya ini kan ya secara ekonomi ya namanya janda pensiunan PNS. Akhirnya untuk menopang kehidupan itu saya jualan koran, saya nganter koran, loper koran," ucap Dudung, dikutip kompas.com.

 

Dengan mengayuh sepeda, Dudung remaja mengantar koran ke rumahi-rumah para pelanggan sejak subuh pukul 04.00 WIB. Selesai mengantar koran sekitar pukul 08.00 WIB, Dudung membantu ibunya menjajakan kue, di antaranya kue klepon di lingkungan Kodam III/Siliwangi. Setelah itu, baru pada siang harinya, Dudung berangkat ke sekolah yang sengaja ia pilih masuk siang agar bisa membantu ibunya.

 

Salah satu tujuan berjualan Dudung, yakni bekas tempat kerja ayahnya di lingkungan Bekangdam III/Siliwangi. Dia juga suka menjajakan kue jajanan pasar tersebut di perempatan Jalan Belitung Kota Bandung hingga ke sekitar Makodam III/Siliwangi di Jalan Aceh dan sekitarnya.

 

Karena hampir setiap hari mengantar kue, Dudung akhirnya dikenal oleh tentara yang berjaga di gerang utama Makodam. Bahkan karena sudah dikenal, dia kerap kali menyelonong masuk ke dalam ruangan untuk menemui anggota TNI yang ingin membeli kue dagangannya.

 

Ada satu momen yang masih terpatri di ingatannya, yang akhirnya mengantarkan Dudung menduduki jabatan yang diembannya saat ini. Suatu hari, ketika hendak mengantarkan kue, petugas jaga yang merupakan tentara baru yang belum mengenal Dudung, mendapatinya nyelonong masuk kawasan Makodam tanpa permisi atau izin terlebih dulu seperti tamu-tamu biasanya.

 

Sang tentara muda itu pun geram, dan ditendanglah kue-kue yang dibawa Dudung hingga jatuh berhamburan. Saat itulah, muncul keinginan Dudung untuk menjadi perwira tinggi TNI.

 

"Ditendanglah kue itu, ada 50 biji (kue klepon), menggelundung. Di situ saya bilang, 'awas nanti saya jadi perwira'. Di situ saya bangkit pengin jadi tentara. Awalnya di situ, padahal dulu cita-cita saya pengin kuliah," kata Dudung sambil tertawa.

 

"Di situ saya berpikir, ini orang jangan semena-mena sama rakyat kecil. Itu enggak boleh," sambungnya.

 Dudung Abdurachman, Loper Koran Jadi Jenderal Halaman all - Kompas.com

Dudung Abdurachman (ketiga dari kiri) semasa masih jadi Taruna Akabri Darat di Magelang pada 1988 lalu. (foto: net)

 

Tekad Dudung muda ternyata tak sia-sia. Selepas lulus dari SMAN 9 Bandung, Dudung mendaftar ke Akabri, dan berhasil masuk Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah. Tiga tahun kemudian, Dudung pun lulus dengan menyandang pangkat Letnan Dua (Letda), yang tentu langsung menyalip pangkat sang tentara muda yang dulu pernah menendang kue-kuenya. Bahkan kini bintang empat terpatri di pundaknya dan menjadi orang nomor satu di matra darat angkatan bersenjata Republik Indonesia.

 

Pernah Duduki Sejumlah Jabatan Strategis

Dudung sendiri merupakan sosok tentara yang kenyang pengalaman jabatan, baik dalam jabatan teritorial, fungsional, maupun pasukan tempur, bahkan di pusat pendidikan. Sebelum menjabat KSAD, Jenderal Dudung tercatat pernah mengisi jabatan-jabatan strategis lainnya, seperti Pangkostrad, Pangdam Jaya, Gubernur Akademi Militer (Akmil).

 Karier Dudung Meroket Sejak Bikin Patung Bung Karno di Akmil | Republika  Online

Dudung Abdurachman saat menjadi Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal pada periode 25 Mei 2021 hingga 16 November 2021. (foto: net)

 

Suami dari Ny Rahma Setyaningsih ini juga pernah menjabat Wakil Asisten Teritorial KSAD dan Staf Khusus KSAD. Semasa berpangkat Perwira Menengah, yakni Letnan Kolonel (Letkol), Dudung pun sempat menjadi Komandan Distrik Militer (Dandim), yakni Dandim 0406/Musi Rawas dan Dandim 0418/Palembang.

 

Karier militer Dudung sendiri dimulai sebagai Danton III Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1989-1992), selepas lulus dari Akmil dengan pangkat Letda. Karier Dudung pun terbilang moncer. Seusai lebih banyak berkarier di pasukan tempur semasa Perwira Pertama, memasuki pangkat Perwira Menengah, Dudung mulai mengemban jabatan teritorial, seperti menjadi Kasdim, Dandim, Asper Kasdam, dan Danrindam.

 

Memasuki jenjang Perwira Tinggi, karier Dudung makin melejit yang dimulai dengan menjabat Wakil Gubernur (Wagub) Akmil saat berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen), lalu menjadi Staf Khusus Kasad, dan Wakil Asisten Teritorial Kasad.

 

Dalam 2 tahun terakhir ini, kariernya makin gemilang. Seusai menjabat Pangdam Jaya sejak 27 Juli 2020, dengan pangkat Mayor Jenderal (Mayjen), Dudung naik pangkat menjadi Letnan Jenderal (Letjen) setelah dilantik menjadi Pangkostrad pada 25 Mei 2021. Dan hanya dalam waktu 6 bulan, Dudung kembali naik pangkat menjadi Jenderal bintang empat setelah dilantik menjadi KSAD, Rabu (17/11/2021) lalu.


Bangun Patung Bung Karno hingga Copot Baliho Habib Rizieq

Dari perjalanan panjang karier Jenderal Dudung, ada beberapa momen yang membuat kariernya cepat melambung dan menjadi buah bibir masyarakat, yakni saat dia berpangkat Mayjen.

 

Peresmian Patung Bung Karno di Akmil Magelang – Super Radio

Dudung Abdurachman (paling kanan) saat menjabat Gubernur Akmil dengan pangkat Mayor Jenderal saat peresmian Patung Bung Karno bersama manta Presiden Megawati, Menhan Prabowo Subianto, Jenderal TNI Andika Perkasa yang saat itu menjabat KSAD, di Akmil, Magelang pada 7 Februari 2020. (foto: net) 

 

Manuver Dudung membuat patung Proklamator Sukarno di Akmil, Magelang, menjadi titik balik perjalanan kariernya di dunia militer. Pada 7 Februari 2020, Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri meresmikan patung ayahnya di Akmil. Patung Bung Karno di kesatrian militer tersebut merupakan yang pertama berdiri dan itu berkat Jenderal Dudung yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Akmil. Di titik inilah, karier Dudung mulai terlihat lapang.

 

Selang 5 bulan kemudian atau pada Juli 2020, Dudung dipromosikan menjadi Panglima Kodam (Pangdam) Jaya. Dudung bertugas mengawal teritorial Ibu Kota, yang merupakan jabatan paling strategis di lingkungan TNI AD bagi Perwira Tinggi bintang dua.

 

Saat menjabat di posisi ini lah nama Dudung dengan cepat melambung dan menjadi buah bibir masyarakat. Hal itu tak lepas dari aksi dan perintah kepada anak buahnya untuk mencopoti baliho Habib Rizieq Shihab (HRS) pada Novemer 2020 atau 4 bulan setelah menjabat Pangdam Jaya.

 

Dudung memerintahkan prajurit Garnisun Tetap I/Jakarta untuk mencopot baliho Front Pembela Islam (FPI) yang terpampang seruan HRS untuk menjalankan Revolusi Akhlak. Bahkan, mobil operasi Komando Operasi Khusus (Koopsus) TNI dikerahkan ke Petamburan, dengan bunyi sirine meraung-raung.

 

Pangdam Jaya Klaim Tak Cuma Turunkan Baliho Rizieq Shihab - Metro Tempo.co

Sejumah anggota Garnisun Tetap I/Jakarta mencopot baliho FPI yang memampang foto Habib Rizie Shihab pada 20 November 2020 atas perintah Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang saat itu menjabat Pangdam Jaya. (foto: net)

 

Instruksi ini diberikan Dudung tak lama seusai Rizieq kembali dari Arab Saudi pada November 2020. Saat itu, spanduk Rizieq dan FPI bertebaran di berbagai penjuru Ibu Kota.

 

"Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq, itu perintah saya," tegas Dudung menjawab pertanyaan wartawan seusai apel pasukan di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (20/11/2020).

 

Dudung menjelaskan, awalnya sejumlah petugas Satpol PP sudah menurunkan baliho yang dipasang tanpa izin itu. Namun, pihak FPI justru kembali memasang baliho-baliho tersebut. Karena itu, TNI turun tangan.

 

"Ini negara negara hukum, harus taat kepada hukum. Kalau masang baliho itu udah jelas ada aturannya, ada bayar pajaknya, tempatnya sudah ditentuka. Jangan seenaknya sendiri, seakan akan dia paling bena. Enggak ada itu," kata Dudung.

 

Para prajurit Kodam Jaya pun langsung bergerak ke sejumlah penjuru Jakarta untuk melanjutkan operasi penurunan baliho Rizieq dan FPI. Tak hanya itu, dalam pidatonya saat memimpin apel pencopotan spanduk Rizieq, Dudung pun sempat mengusulkan agar organisasi FPI dibubarkan saja.

 

"Kalau perlu FPI bubarkan saja itu. Bubarkan saja. Kalau coba-coba dengan TNI, mari. Sekarang kok mereka ini seperti yang ngatur, suka-sukanya sendiri," kata Dudung.

 

Bahkan Dudung siap menghadapi mereka yang membuat ulah di Ibu Kota. Dia juga mengingatkan FPI untuk tidak mengganggu keharmonisan masyarakat Jakarta. "Jangan coba-coba ganggu persatuan dan kesatuan di Jakarta. Saya panglimanya. Kalau coba-coba, akan saya hajar nanti," tegas Dudung.

 

Tak lama setelah pernyataan Dudung itu, pemerintah pun secara resmi membubarkan FPI. Rizieq Shihab juga diproses hukum atas kasus kerumunan yang ditimbulkannya.

 

Momen lain yang mendapat perhatian, yakni pada 31 September 2020, saat terjadi kericuhan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Komandan Kodim Jaksel Kolonel TNI Ucu Yustiana membubarkan acara yang dipimpin mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo karena dianggap melanggar protokol kesehatan dan belum mendapat izin dari Kementerian Sosial. Dudung pun pasang badan membela Ucu dan menyerang Jenderal Gatot.

 

Dari serangkaian aksi sebagai Pangdam Jaya, pada 25 Mei 2021 Dudung akhirnya mendapat promosi menjadi Pangkostrad dengan pangkat Letjen menggantikan Letjen TNI Eko Margiyono.

 

Letjen Dudung Akui Tak Bisa Menolak Patung Soeharto-AH Nasution Diambil  Sang Penggagas | Indozone.id

Diorama 3 tokoh TNI AD, Mayjen TNI Soeharto, Jenderal TNI AH Nasution, dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo, sudah tidak ada lagi di Museum Darma Bhakti Kostrad, Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat. Ketiga patuh tersebut menghilang di Makostrad, saat Letjen TNI Dudung Abdurachman menjaat Pangkostrad. (foto: net)

 

Saat menjabat Pangkostrad, Dudung pun sempat berseteru dengan Jenderal Gatot Nurmantyo. Pada 30 September 2021, Jenderal Gatot mempertanyakan musnahnya patung Jenderal Besar Soeharto di Museum Darma Bhakti Kostrad, Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, yang dulu menjadi kantor mantan Presiden Soeharto saat menjabat Pangkostrad pertama di masa pemulihan Gerakan 30 S PKI.

 

Bukan hanya soal hilangnya patung atau diorama 3 tokoh TNI AD, yakni Jenderal TNI AH Nasution (Menko KSAB), Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD), Gatot juga menuding ada indikasi kuat disusupinya TNI oleh gerakan kiri komunis.

 

Dudung pun membantah terlibat terkait hilangnya patung Soeharto bersama AH Nasution dan Sarwo Edie tersebut. Dudung menjelaskan, hilangnya ketiga patung tersebut atas permintaan Pangkostrad sebelumnya, Letjen TNI AY Nasution.

 

"Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan," kata Dudung dalam keterangan resminya, Senin (27/9/2021).

 

Dudung pun menepis tudingan Jenderal Gatot soal disusupinya TNI oleh komunis. Menurut Dudung, jika penarikan 3 patung itu disimpulkan bahwa TNI, khususnya Kostrad telah melupakan peristiwa sejarah pemberontakan G30S PKI tahun 1965 itu adalah tidak benar.

 

"Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu," ujar tandas Dudung. 

 

"Jadi, tidak benar tudingan bahwa karena patung diorama itu sudah tidak ada, diindikasikan bahwa AD telah disusupi oleh PKI. Itu tudingan yang keji terhadap kami," tambahnya.

 

Dudung sendiri hanya sekitar 6 bulan menjabat Pangkostrad. Kini, pada 17 November 2021, Dudung kembali mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Dudung yang berulang tahun ke-56 pada 19 November ini resmi menjadi KSAD ke-33 dengan pangkat Jenderal penuh. Selamat bertugas Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

 

Perjalanan Karier Jenderal TNI Dudung Abdurachman SE MM

Letnan Dua s/d Letnan Satu

Danton III Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1989-1992)

Danton II Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1992-1993)

Danton I Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti (1993-1994)

Kasi 2 Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama (1994-1995)

Kapten

Dankipan A Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama (1995)

Dan Kelas Satdik Sarcab PK Pusdikif Pussenif (1995-1998)

Mayor

Wadan Yonif 410/Alugoro (1998-1999)

Wadan Yonif 401/Banteng Raider (1999-2000)

Kasdim 0733/BS Semarang (2000-2002)

Pabandyaops Kodam II/Sriwijaya (2002)

Letnan Kolonel

Dan Yonif 143/Tri Wira Eka Jaya (2002-2004)

Dandim 0406/Musi Rawas (2004-2006)

Dandim 0418/Palembang (2006-2008)

Pabandya 2/Lurjahril Mabesad (2008-2009)

Pabandya 3/Diaga Mabesad (2009-2010)

Kolonel

Aspers Kasdam VII/Wirabuana (2010-2011)

Komandan Resimen Induk Kodam (Danrindam) II/Sriwijaya (2011-2012)

Paban 1/Ren Spersad (2012-2013)

Paban 1/Ren Spers TNI (2013-2014)

Pamen Denma Mabes TNI (2014-2015)

Dandenma Mabes TNI (2015)

Brigadir Jenderal

Wagub Akmil (2015-2016)

Staf Khusus Kasad (2016-2017)

Wakil Asisten Teritorial Kasad (2017-2018)

Mayor Jenderal

Gubernur Akmil (2018-2020)

Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jayakarta (2020-2021)

Letnan Jenderal

Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) (2021)

Jenderal

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (2021-Sekarang). (*)

den

0 Komentar
Tinggalkan Komentar
Cancel reply
0 Komentar
Tidak ada komentar
Berita Lainnya
Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Semasa Muda Ditendang Tentara Kini jadi KSAD
Ainul Yaqin, Lulusan S2 yang Memilih Jadi Petani
WINDY CANTIKA AISAH: Sering Rewel Diajak Ibu Latihan, Kini Raih Perunggu Olimpiade Tokyo
Ujang Margana, Petani Sukses dari Generasi Milenial Jabar
LPK Genki Masagi, Hadir Dan Berbuat Untuk Negeri
Berita Terdahulu