banner 500x188

AI Bisa Gantikan Pekerjaan, Rektor UPI Minta Lulusan Siapkan Soft Skill

UPI menggelar Wisuda Gelombang 4 Tahun 2026 di Bandung, Selasa (13/10/2026). (Foto:Istimewa)

JuaraNews, Bandung – Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Didi Sukyadi, mengingatkan para lulusan agar mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pesan itu disampaikan Prof Didi saat UPI menggelar Wisuda Gelombang 4 Tahun 2026 di Bandung, Selasa (13/10/2026).Wisuda berlangsung selama empat hari dengan jumlah lulusan lebih dari 7.000 orang. Sekitar 1.900 lulusan mengikuti prosesi pada hari pertama.

Baca Juga:UPI Gelar Wisuda, Rektor Tekankan Integritas Kepada 999 Wisudawan

Menurut Prof Didi, perkembangan teknologi telah mengubah pola kehidupan dan kebutuhan tenaga kerja. Kondisi tersebut membuat sejumlah pekerjaan berpotensi tergantikan oleh teknologi, sementara profesi baru juga akan bermunculan.

“Jadi ada sejumlah pekerjaan yang akan hilang karena adanya teknologi, seperti AI, tapi ada juga sejumlah pekerjaan yang berpeluang muncul,” ujarnya.

Prof Didi menekankan, lulusan perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan, termasuk dinamika geopolitik dan perubahan iklim. Kemampuan beradaptasi menjadi penting agar lulusan tetap dapat berkiprah di tengah tantangan global.

Baca Juga:Jawa Barat Jadi Model Penerapan SMK Go Global

Prof Didi mengatakan, penguasaan keterampilan teknis atau hard skills saja tidak cukup. Lulusan juga perlu memiliki keterampilan nonteknis atau soft skills, seperti kepemimpinan, pengendalian emosi, komunikasi, dan kemampuan membangun jejaring.

“Bukan semata-mata mereka menguasai hard skill, hard science, tapi yang penting juga penguasaan soft skill,” katanya.

Rektor berharap para lulusan UPI mampu menjadi pribadi mandiri, memperoleh pekerjaan atau menciptakan peluang, serta berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Insya Allah mereka akan bisa berkiprah di masa yang akan datang. Pertama, mereka bisa mandiri, menghidupi dirinya masing-masing, kemudian juga turut menyejahterakan masyarakat yang ada di sekitarnya,” tuturnya.

Baca Juga:SIM Hampir Habis? Cek Lokasi dan Jadwal SIM Keliling di Kota Anda

Di sisi lain, Prof Didi menegaskan UPI tidak memberikan toleransi terhadap perundungan di lingkungan kampus maupun sekolah laboratorium. Pelaku dapat dikenai sanksi berat hingga dikeluarkan dari kampus.

Menurutnya, perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga verbal dan tindakan melalui media digital. UPI memiliki mekanisme penanganan melalui Komisi Disiplin, Komisi Etik, serta mekanisme yang berlaku di lingkungan sekolah.

Baca Juga:Soft Launching Biro Garuda TV Jabar, Semangat Kolaborasi Warnai Industri Penyiaran

Dia mengingatkan bahwa perundungan dapat menimbulkan dampak psikologis serius bagi korban sehingga pencegahan dan pengawasan harus dilakukan secara berkelanjutan. (*)