JuaraNews, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan, dekarbonisasi transportasi tidak hanya bertujuan mengurangi emisi karbon, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi melalui efisiensi energi dan penurunan biaya logistik.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat menghadiri Indonesia Zero Emission Heavy Duty Vehicle (IZEHDV) Forum di Hotel St. Regis, Jakarta, Kamis (23/7/2029).
Menurut AHY, dinamika geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok energi dan harga minyak dunia menjadi pengingat penting bahwa Indonesia harus semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya. Ketahanan energi, katanya, menjadi fondasi utama agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, industri terus bergerak, dan masyarakat memperoleh akses energi yang aman serta terjangkau.
Baca Juga: Truk ODOL Dilarang Masuk Tol Mulai 1 Juni 2026, Berlaku Permanen 2027
“Di tengah dinamika dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia harus memiliki semangat mewujudkan kemandirian energi. Ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan,” ujar AHY.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa peningkatan konsumsi energi harus diimbangi dengan upaya menekan emisi karbon. Karena itu, transisi menuju energi baru terbarukan harus dilaksanakan secara bertanggung jawab demi menjaga keberlanjutan pembangunan.
AHY mengungkapkan, sekitar 55 persen emisi karbon nasional berasal dari sektor energi. Dari angka tersebut, 22 persen disumbang sektor transportasi dan hampir 89 persen berasal dari transportasi darat. Meski jumlah kendaraan berat hanya sekitar tiga juta unit, kontribusinya terhadap emisi transportasi darat mencapai sekitar 31 persen.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah mempercepat berbagai langkah dekarbonisasi, mulai dari peningkatan efisiensi energi, percepatan elektrifikasi kendaraan, hingga pengembangan industri kendaraan listrik nasional, termasuk truk dan bus listrik.
Baca Juga: Tanggap Darurat, BPBD Kota Bandung Kirim Logistik dan Personel ke Lokasi Longsor Cisarua
Menurut AHY, keberhasilan elektrifikasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi, tetapi juga memerlukan dukungan regulasi, insentif yang tepat, serta edukasi kepada masyarakat agar adopsinya semakin luas.
Selain mempercepat elektrifikasi, pemerintah juga terus memperluas pemanfaatan biodiesel B50 sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Semakin besar pemanfaatan energi yang diproduksi di dalam negeri, semakin kuat pula posisi Indonesia menghadapi fluktuasi harga energi global.
Dalam forum tersebut, AHY juga menyoroti persoalan kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) yang dinilai masih menjadi tantangan besar bagi keselamatan transportasi dan kualitas infrastruktur jalan.
Menurutnya, praktik ODOL tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, tetapi juga mempercepat kerusakan jalan yang setiap tahun mengharuskan pemerintah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp40 triliun untuk preservasi jalan.
Karena itu, pemerintah berkomitmen menuntaskan persoalan ODOL secara bertahap, tegas, dan berkeadilan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian terkait, Kepolisian Republik Indonesia, hingga pelaku usaha.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah juga mendorong penguatan sistem logistik nasional melalui optimalisasi angkutan kereta api dan logistik maritim sehingga ketergantungan terhadap angkutan jalan dapat dikurangi.
AHY menegaskan, keberhasilan menekan kendaraan ODOL akan memberikan manfaat berlapis, mulai dari menurunkan emisi karbon, meningkatkan keselamatan lalu lintas, menghemat biaya perbaikan jalan, hingga menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif.
“Pada akhirnya semua ini kembali untuk kepentingan masyarakat, agar biaya logistik semakin rendah, distribusi barang lebih lancar, dan harga kebutuhan pokok tetap terkendali,” pungkasnya.
Baca Juga: KAI Commuter Edukasi Anak-anak Bandung Mengenal Transportasi Publik
Dalam kesempatan yang sama, Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi menilai transformasi transportasi menuju kendaraan rendah emisi merupakan langkah penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Menurutnya, Indonesia telah memiliki kapasitas untuk memproduksi bus dan truk listrik sehingga peluang percepatan transisi energi semakin terbuka.
Forum tersebut turut dihadiri Senior Anchor and Director CNN Indonesia Desi Anwar, Staf Ahli Bidang Kawasan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan Robby Kurniawan, Direktur Retail dan Niaga PT PLN Fahrur Rozy, serta jajaran Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. (dsp)







