JuaraNews, Bandung – Menjelang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026, National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap persiapan cabang olahraga.
Ketua Umum NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan, pihaknya hingga saat ini telah melakukan monev terhadap 10 cabang olahraga (cabor) di antaranya blind judo dan masih menyisakan sekitar tujuh cabor lainnya.
Monev tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana kesiapan atlet sekaligus mendengarkan berbagai aspirasi yang muncul dari para atlet dan tim pelatih jelang Peparda 2026.
“Saya sudah 10 cabor keliling, paling tinggal menyisa tujuh mungkin sekarang ya. Dan Alhamdulillah dari semua, walaupun kondisi sekarang yang tidak baik-baik saja, morat-marit dalam segi keuangan anggaran, tapi banyak di antara mereka tetap semangat. Kita tetap optimistis bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung,” kata Yadi.
Baca Juga: Target Juara Umum Peparda 2026 Terancam Terkendala Anggaran, NPCI Kota Bandung Bersuara
Yadi menuturkan, berbagai keluhan yang disampaikan atlet merupakan hal yang wajar. Terlebih, kondisi anggaran persiapan Peparda 2026 saat ini dinilai sangat terbatas.
“Saya juga yang mengalami atlet dari tahun 2004 sampai sekarang, mungkin kondisi Kota Bandung sekarang ini, kondisi yang menjelang Peparda itu yang sangat-sangat dalam segi keuangan sangat-sangat kurang, sangat-sangat minim gitu kan,” tuturnya.
Jika dibandingkan dengan kondisi anggaran saat ini dengan Peparda sebelumnya yang berlangsung di Kabupaten Bekasi Yadi mengatakan memang cukup berbeda.
“Dibanding dengan kemarin aja yang zaman Kabupaten Bekasi, itu Rp11 miliar. Kita sekarang dengan anggaran murni cuma Rp7,5. Selisihnya jauh banget gitu kan. Padahal kita tuan rumah,” ujarnya.
Baca Juga: Torehkan Prestasi di Kejurnas Menembak 2026, NPCI Kota Bandung Bawa Pulang 6 Medali
“Dikasih Rp11 miliar aja juara ketiga kan waktu itu, peringkat ketiga. Sedangkan kita Rp7 miliar setengah dituntut juara satu,” ungkapnya.
Tetap Optimistis di Tengah Keterbatasan
Meski demikian, ia menegaskan tidak ingin larut dalam persoalan keterbatasan anggaran. Pihaknya tetap optimistis atlet Kota Bandung mampu memberikan hasil terbaik pada Peparda 2026.
“Tapi tetap, kondisi apa pun saya tetap masih optimistis, saya tetap bertekad, saya tetap semangat untuk memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung,” tegasnya.
Terkait persiapan, Yadi menilai secara umum kesiapan 10 cabor yang telah dimonev sudah berada di atas 90 persen. Namun, persoalan anggaran turut memengaruhi kondisi psikologis atlet.
“Ya sebenarnya mah mereka itu udah lebih dari 90 persen kalau dilihat dari kemarin. Tapi setelah ada kabar yang kurang bagus kemarin, ya mungkin dari anggaran yang sangat minim, ya otomatis psikologi mereka juga terganggu,” katanya.
Untuk itu, setiap melakukan monev Yadi berupaya memberikan pemahaman sekaligus motivasi kepada atlet mengenai kondisi yang sedang dihadapi.
Menurutnya, keterbatasan anggaran bukan berarti pemerintah maupun pengurus NPCI Kota Bandung tidak memberikan perhatian terhadap persiapan Peparda.
“Ini juga bukan kehendak kita, bukan pengurus NPC tidak mau berusaha, bukan dari Bapak Wali yang tidak perhatian, Dispora tidak perhatian, atau DPRD tidak perhatian,” ucapnya.
“Semuanya kalau menurut saya perhatian ke NPC Kota Bandung. Tapi karena kondisi yang sekarang emang tidak baik-baik saja, mungkin ini yang harus kita terima dan harus kita syukuri,” lanjut Yadi.
Guna membangkitkan motivasi, mental dan psikologis atlet, Yadi mengaku turut membagikan pengalaman pribadinya selama menjalani karier sebagai atlet hingga level internasional.
Menurutnya perjuangan untuk menjadi atlet berprestasi membutuhkan pengorbanan, termasuk dalam hal pembiayaan ketika mengikuti pertandingan.
“Saya kasih motivasi kepada mereka, ya mudah-mudahan paham. Gitu kan, ya sedikit-sedikit kita edukasi mereka bahwa olahraga prestasi itu ketika ada reward itu kalau ada prestasi,” katanya.

Dari 10 cabor yang telah dikunjungi, Yadi menyebut blind judo menjadi salah satu yang paling berkesan baginya. Menurut, mereka cukup kritis dalam menyampaikan aspirasi dan harapan mereka.
“Berkesan itu di judo. Kenapa di judo? Judo itu anak-anaknya kritis. Kritis, bagus. Tapi kan dia menyampaikan harapan ya wajar bagi saya, wajar-wajar saja,” ujarnya.
Yadi pun berharap sikap kritis tersebut justru menjadi energi positif bagi atlet saat bertanding di Peparda VII 2026.
Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, Yadi juga memperkenalkan Zulkarnaen atau Bang Joel sebagai manajer blind judo Peparda VII 2026.







