banner 500x188
Opini  

Sekapur Sirih Kaukus Ketokohan Jawa Barat: Ruang Gagasan, Moral, dan Masa Depan Jabar

Kaukus Ketokohan Jawa Barat lahir dari kepedulian dan tanggung jawab moral para tokoh Jabar, bukan ambisi membangun kekuasaan baru.
Sekretaris Kaukus Ketokohan Jawa Barat, H. Ujang Fahpulwaton.

KAUKUS Ketokohan Jawa Barat lahir bukan dari ambisi untuk membangun kekuasaan baru, melainkan dari kegelisahan, kepedulian, dan tanggung jawab moral para tokoh Jawa Barat terhadap arah perjalanan daerah ini.

Gagasan tentang Kaukus Ketokohan Jawa Barat tumbuh melalui perjalanan panjang dari satu diskusi ke diskusi lainnya. Para tokoh dari berbagai latar belakang lintas generasi, lintas agama, lintas profesi, lintas partai politik, akademisi, budayawan, pengusaha, tokoh masyarakat, aktivis, hingga generasi muda bertemu dalam satu kesadaran yang sama: Jawa Barat membutuhkan ruang dialog yang sehat, kritis, bermartabat, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Kaukus ini lahir dari keyakinan bahwa Jawa Barat bukan sekadar wilayah administratif. Jawa Barat adalah rumah kebudayaan, ruang sejarah, sekaligus salah satu fondasi penting perjalanan Indonesia. Karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut masa depan Jawa Barat semestinya lahir melalui pertimbangan yang matang, dialog yang terbuka, partisipasi publik, serta penghormatan terhadap tata kelola pemerintahan dan peraturan perundang-undangan.

Ketika Kekuasaan Harus Diingatkan

Dalam konteks pemerintahan Jawa Barat saat ini, muncul berbagai kebijakan dan langkah politik pemerintahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengundang perdebatan publik.

Kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah bagian dari demokrasi. Namun kritik tersebut harus ditempatkan secara proporsional: bukan sebagai kebencian terhadap pribadi, melainkan sebagai bentuk kontrol sosial agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor hukum, konstitusi, etika pemerintahan, dan kepentingan masyarakat.

Kekuasaan, sebesar apa pun mandat politik yang diperoleh melalui pemilihan, tetap memiliki batas. Gubernur adalah kepala daerah, bukan pemilik daerah. Pemerintahan daerah bukan kerajaan dan rakyat bukan kawula yang harus menerima setiap keputusan tanpa ruang untuk bertanya.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menempatkan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam kerangka pembagian kewenangan dan hubungan antara kepala daerah dengan DPRD. Karena itu, semangat checks and balances, partisipasi publik, transparansi, serta akuntabilitas harus menjadi bagian penting dalam setiap kebijakan strategis.

Di titik inilah Kaukus Ketokohan Jawa Barat mengambil posisi.

Kaukus bukan oposisi pemerintah. Kaukus juga bukan kepanjangan tangan pemerintah. Kaukus adalah bagian dari masyarakat sipil yang memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk mengingatkan kekuasaan ketika diperlukan.

Jika pemerintah menjalankan kebijakan yang baik, Kaukus harus memberikan apresiasi. Jika terdapat kebijakan yang perlu dikritisi, Kaukus harus berani menyampaikan kritik. Dan apabila terdapat persoalan yang berpotensi merugikan kepentingan masyarakat Jawa Barat, Kaukus harus hadir memberikan alternatif solusi.

Prinsipnya sederhana: kekuasaan harus dikawal agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

Menyatukan Kekuatan Para Tokoh Jawa Barat

Di bawah kepemimpinan Kang H. Eka Santosa, Kaukus Ketokohan Jawa Barat diarahkan menjadi ruang bertemunya gagasan dan pengalaman para tokoh.

Kaukus tidak dibangun untuk menjadi organisasi politik baru. Ia merupakan forum informal yang mempertemukan para sesepuh, tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, tokoh agama, politisi, pengusaha, aktivis, profesional, dan generasi muda.

Kekuatan Kaukus justru terletak pada keberagaman tersebut.

Para mantan kepala daerah memiliki pengalaman pemerintahan. Para politisi memahami dinamika demokrasi. Akademisi menghadirkan perspektif keilmuan. Budayawan menjaga akar identitas Jawa Barat. Tokoh agama menghadirkan perspektif moral. Pengusaha memahami dunia ekonomi. Aktivis membawa suara masyarakat. Sementara generasi muda membawa energi, kreativitas, dan perspektif baru.

Semua kekuatan itu harus dipertemukan dalam satu kepentingan: Jawa Barat.

Lebih jauh, Kaukus ingin membangun sebuah tradisi politik yang sehat: bahwa tokoh-tokoh Jawa Barat tidak hanya hadir ketika pemilu tiba, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan gagasan, ketika pemerintah membutuhkan masukan, dan ketika daerah membutuhkan figur yang mampu membawa kepentingan Jawa Barat ke tingkat nasional.

Salah satu cita-cita besar Kaukus adalah melahirkan dan mendorong tokoh Jawa Barat untuk tampil di panggung nasional tokoh yang tidak hanya memiliki popularitas, tetapi memiliki kapasitas, integritas, pengalaman, rekam jejak, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Menjaga Marwah dan Jati Diri Jawa Barat

Jawa Barat memiliki kekayaan yang tidak dapat diukur hanya melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik.

Ada nilai silih asah, silih asih, silih asuh. Ada budaya musyawarah. Ada penghormatan kepada orang tua dan sesepuh. Ada tradisi intelektual dan spiritual yang panjang.

Nilai-nilai tersebut harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Karena itu, salah satu fungsi penting Kaukus adalah menjaga marwah dan identitas Jawa Barat budaya, bahasa, kesenian, tradisi, kearifan lokal, serta karakter masyarakatnya.

Pembangunan Jawa Barat tidak boleh kehilangan akar kebudayaan.

Modernisasi tidak boleh berarti tercerabut dari identitas. Digitalisasi tidak boleh menghilangkan etika. Politik tidak boleh mematikan persaudaraan.

Kaukus sebagai Ruang Koreksi dan Solusi

Kaukus Ketokohan Jawa Barat memiliki setidaknya empat fungsi strategis.

Pertama, menjaga marwah dan nilai Jawa Barat. Kaukus dapat menjadi ruang bagi para budayawan, akademisi, tokoh agama, dan masyarakat untuk merumuskan gagasan tentang masa depan kebudayaan Jawa Barat.

Kedua, memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah daerah. Kaukus dapat menyampaikan pandangan terhadap isu strategis seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi, UMKM, pariwisata, lingkungan, perlindungan sosial, hingga pembangunan sumber daya manusia.

Ketiga, menjadi ruang penengah ketika terjadi ketegangan sosial dan politik. Para sesepuh dan tokoh memiliki modal sosial yang dapat digunakan untuk mendinginkan suasana ketika perbedaan politik mulai berubah menjadi konflik sosial.

Keempat, mengawal pembangunan. Kaukus dapat menjadi bagian dari masyarakat sipil yang ikut memastikan pembangunan berjalan transparan, akuntabel, tepat sasaran, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, kritik yang disampaikan Kaukus bukan kritik tanpa arah. Kritik harus selalu disertai gagasan dan solusi.

Dari Sesepuh untuk Generasi Muda

Kaukus juga tidak boleh menjadi ruang yang hanya diisi generasi senior. Jawa Barat membutuhkan jembatan antargenerasi. Generasi senior memiliki pengalaman, sejarah, jaringan, dan kebijaksanaan. Generasi muda memiliki energi, kreativitas, teknologi, serta keberanian untuk membaca perubahan.

Karena itu, Gen Z dan milenial harus diberikan ruang yang cukup untuk terlibat. Anak muda Jawa Barat bukan sekadar objek pembangunan. Mereka adalah subjek sekaligus calon pemimpin masa depan.

Kaukus perlu mendorong lahirnya ekosistem yang mendukung startup, UMKM, ekonomi kreatif, kreator konten, komunitas digital, dan berbagai inovasi anak muda Jawa Barat.

Di ruang digital, Kaukus juga harus mampu hadir membawa narasi yang mencerdaskan. Media sosial tidak boleh hanya menjadi arena pertengkaran, hoaks, fitnah, dan politik identitas. Ruang digital harus menjadi tempat bertukar gagasan. Narasi “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” harus diterjemahkan ke dalam bahasa generasi baru.

Menghadirkan Jawa Barat di Panggung Nasional

Kaukus Ketokohan Jawa Barat pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang kritik terhadap pemerintah hari ini. Orientasinya jauh lebih besar: membangun masa depan Jawa Barat.

Jawa Barat membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca perubahan zaman, tetapi tidak kehilangan akar budaya. Membutuhkan pemimpin yang kuat secara politik, tetapi tetap tunduk pada hukum. Membutuhkan pemimpin yang populer, tetapi sekaligus memiliki kapasitas dan integritas.

Karena itu, Kaukus dapat menjadi ruang untuk membicarakan kriteria, kapasitas, dan rekam jejak calon pemimpin Jawa Barat ke depan. Bukan untuk menentukan siapa yang harus berkuasa, tetapi untuk membangun budaya politik yang lebih rasional dan berbasis kualitas.

Jika kelak lahir tokoh Jawa Barat yang mampu tampil di panggung nasional, ia harus membawa nama baik Jawa Barat, bukan sekadar kepentingan kelompok.

Kaukus Bukan Menara Gading

Kaukus Ketokohan Jawa Barat tidak boleh menjadi menara gading tempat para tokoh berbicara dari atas kepada masyarakat. Sebaliknya, Kaukus harus turun ke tengah masyarakat.

Mendengar petani. Mendengar buruh. Mendengar nelayan. Mendengar pelaku UMKM. Mendengar guru. Mendengar mahasiswa. Mendengar komunitas kreatif. Mendengar masyarakat desa dan kota.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah gagasan bukan seberapa indah gagasan itu dibicarakan, melainkan seberapa jauh gagasan tersebut mampu menjawab persoalan masyarakat.

Maka Kaukus harus membangun tradisi: berbicara berdasarkan data, mengkritik berdasarkan fakta, dan menawarkan solusi berdasarkan kebutuhan rakyat.

Sebuah Rumah Bersama

Pada akhirnya, Kaukus Ketokohan Jawa Barat adalah ruang bicara bagi gagasan, ruang bertemunya pengalaman dan masa depan, ruang dialog antara generasi senior dan generasi muda, ruang koreksi terhadap kekuasaan dan ruang untuk mencari solusi atas persoalan Jawa Barat.

Kaukus tidak dibangun untuk memusuhi siapa pun.

Kaukus dibangun untuk memastikan bahwa Jawa Barat memiliki cukup banyak suara yang berani mengatakan benar ketika sesuatu memang benar, dan berani mengatakan salah ketika sesuatu memang harus dikoreksi. Sebab mencintai Jawa Barat tidak selalu berarti memuji pemerintah. Kadang-kadang, mencintai Jawa Barat justru berarti berani mengingatkan mereka yang sedang memegang kekuasaan.

Dan pada akhirnya, seluruh ikhtiar Kaukus harus bermuara pada satu cita-cita: Jawa Barat yang bermartabat, demokratis, berbudaya, sejahtera, dan mampu melahirkan tokoh-tokoh terbaiknya untuk Indonesia.

Kaukus Ketokohan Jawa Barat: ruang bicara gagasan, pemikiran, kritik, dan solusi untuk Jawa Barat dan Indonesia.

Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. (*)

Oleh: Ujang Fahpulwaton

Sekretaris Kaukus Ketokohan Jawa Barat