banner 500x188
Opini  

Indonesia Sedang Menguji Teori Baru Koperasi Dunia

Indonesia saat ini tengah menjalankan salah satu eksperimen kelembagaan terbesar dalam sejarah koperasi modern dunia.

AKANKAH Koperasi Desa Merah Putih Menjadi Revolusi Ekonomi Rakyat atau Sekadar Proyek Negara?

Pembentukan lebih dari 83 ribu Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar program pembangunan biasa. Indonesia saat ini tengah menjalankan salah satu eksperimen kelembagaan terbesar dalam sejarah koperasi modern dunia. Untuk pertama kalinya dalam skala nasional sebesar ini, negara hadir bukan hanya sebagai regulator atau fasilitator, tetapi juga sebagai penggerak utama pembentukan koperasi melalui regulasi, pembiayaan, pembangunan infrastruktur, hingga penguatan distribusi ekonomi desa.

Jika model ini berhasil, Indonesia bukan hanya sedang membangun koperasi, tetapi juga berpotensi melahirkan paradigma baru dalam teori koperasi dunia.

Selama ini, teori koperasi klasik menekankan bahwa koperasi harus tumbuh dari bawah (bottom-up), lahir dari kebutuhan anggota, bersifat otonom sejak awal, dan minim intervensi negara. Campur tangan negara yang terlalu besar sering dianggap berisiko melahirkan ketergantungan, birokratisasi, serta melemahkan demokrasi internal koperasi.

Namun, Koperasi Desa Merah Putih justru menantang asumsi lama tersebut secara langsung.

Indonesia sedang menguji pendekatan baru yang dapat disebut sebagai top-down initiation and bottom-up maturation. Dalam pendekatan ini, negara membangun fondasi awal kelembagaan, sementara anggota dan masyarakat desa diharapkan secara bertahap memperkuat partisipasi, kepemilikan, serta demokrasi ekonomi dari dalam koperasi itu sendiri.

Dalam konteks tersebut, otonomi koperasi mungkin bukan lagi syarat awal, melainkan tujuan akhir yang ingin dicapai. Jika model ini berhasil, dunia mungkin perlu mempertimbangkan paradigma baru bahwa negara dapat menjadi arsitek awal pembangunan koperasi, selama pada akhirnya koperasi berkembang menuju kemandirian yang sehat dan berkelanjutan.

Gagasan ini sebenarnya tidak sepenuhnya asing dalam sejarah Indonesia. Soekarno sejak awal memandang koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat sekaligus perlawanan terhadap kapitalisme yang menindas. Sementara Mohammad Hatta menempatkan koperasi sebagai sekolah demokrasi ekonomi yang bertumpu pada kesadaran serta partisipasi anggota.

Koperasi Desa Merah Putih kini berada di persimpangan dua gagasan besar tersebut: antara peran negara sebagai penggerak dan kemandirian rakyat sebagai tujuan akhir.

Namun, jalan menuju keberhasilan tentu tidak mudah.

Sejarah menunjukkan banyak koperasi gagal berkembang karena terlalu bergantung pada negara, dikuasai elite tertentu, kehilangan partisipasi anggota, hingga hidup hanya sebagai proyek administratif. Risiko itu tetap nyata dalam implementasi Koperasi Desa Merah Putih.

Tanpa pendidikan anggota yang kuat, tata kelola yang sehat, transparansi, dan demokrasi internal, koperasi dapat kehilangan ruhnya sebagai gerakan ekonomi rakyat. Pada akhirnya, koperasi hanya akan menjadi papan nama, bukan kekuatan ekonomi yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak koperasi yang dibentuk, melainkan sejauh mana masyarakat desa benar-benar merasa memiliki, terlibat aktif, dan memperoleh manfaat nyata dari koperasi tersebut.

Jika Indonesia mampu melewati tantangan itu, dampaknya bisa sangat besar. Desa dapat tumbuh menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, distribusi ekonomi menjadi lebih adil, UMKM dan petani memiliki kekuatan kolektif, serta ketergantungan terhadap tengkulak maupun kapital besar dapat berkurang. Dalam situasi itu, koperasi akan kembali menjadi alat perjuangan ekonomi rakyat sebagaimana cita-cita awal pendiri bangsa.

Lebih jauh lagi, Indonesia berpotensi menjadi laboratorium koperasi terbesar di dunia. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna teori koperasi, tetapi juga pencipta teori baru yang lahir dari pengalaman pembangunan desa, transformasi ekonomi rakyat, dan pengelolaan koperasi dalam skala nasional.

Pada akhirnya, pertaruhannya bukan hanya soal keberhasilan sebuah program pemerintah. Ini adalah pertanyaan besar tentang masa depan ekonomi Indonesia: apakah Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi revolusi ekonomi kerakyatan yang menginspirasi dunia, atau sekadar proyek besar negara yang kehilangan ruh koperasi?

Jika berhasil, dunia mungkin benar-benar harus menulis ulang teori koperasi. (dsp)

Oleh: Yakim Ahmad

Majelis Pakar DEKOPINWIL Jawa Barat

Ketua FORGAKI Jawa Barat

Dewan Pengawas KKB IU COOP IKOPIN