Juaranews, Bandung – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Saeful Bachri, mendorong pengembangan bibit kakao lokal milik petani di Desa Nagrak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.
Menurutnya, pusat pembibitan kakao tersebut membawa peluang besar untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Saeful mengatakan, petani binaan konsorsium di Desa Nagrak siap memasarkan bibit kakao hasil budidaya mereka secara lebih luas. Pemasaran ini menyasar kebutuhan petani maupun pemerintah daerah yang ingin mengembangkan komoditas kakao di berbagai wilayah.
Baca Juga: Saeful Bachri Dorong Petani Kakao Bandung Naik Kelas Lewat Studi Banding ke BRMP Sukabumi
“Kami akan menyebarluaskan hal ini kepada masyarakat, terutama para petani kakao binaan konsorsium dan masyarakat umum. Bagi pemerintah daerah atau siapa pun yang membutuhkan bibit kakao, silakan datang ke Desa Nagrak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, untuk mendapatkan produk petani lokal,” ujar Saeful, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, pusat pembibitan kakao di Desa Nagrak menghasilkan bibit siap tanam yang kualitasnya terus meningkat melalui proses sertifikasi. Karena itu, masyarakat tidak perlu lagi mencari bibit unggul dari daerah lain.
“Tempat ini menyediakan pembibitan kakao siap tanam. Insya Allah kualitasnya baik dan saat ini sedang menjalani proses sertifikasi. Jadi masyarakat Jawa Barat tidak perlu lagi pergi ke Lampung atau Kendari untuk mencari bibit kakao. Cukup datang ke Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Nagrak, Kecamatan Cangkuang,” katanya.
Baca Juga: Syaeful Bachri Dorong Pengembangan Kakao di Jawa Barat, Petani Disiapkan Benih Gratis
Menurut Saeful, produk bibit kakao yang terkenal dengan nama Masamba Cacao Clone 02 (MCC 02) merupakan varietas asli Desa Nagrak. Varietas ini memiliki potensi besar untuk berkembang secara massal dan menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat.
Bernilai Ekologis dan Ekonomis
Lebih lanjut, Saeful menilai budidaya kakao tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Ia menyebutkan, penanaman kakao dapat menjadi solusi untuk menghijaukan lahan-lahan kritis sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
“Menanam kakao memiliki dua manfaat besar. Pertama manfaat ekologis, karena bisa menghijaukan dan memulihkan lahan-lahan kritis. Kedua manfaat ekonomi, karena dalam waktu sekitar dua hingga dua setengah tahun tanaman kakao sudah dapat menghasilkan buah yang bernilai jual,” ungkapnya.
Baca Juga: GERTAKK di Cangkuang, Saeful Bachri Dorong Pemanfaatan Lahan Kritis untuk Ketahanan Pangan
Saeful menambahkan, kakao merupakan bahan baku utama industri cokelat yang memiliki prospek pasar cukup menjanjikan. Oleh karena itu, pengembangan kakao lokal di Kabupaten Bandung harapannya mampu memperkuat ketahanan ekonomi petani sekaligus menjadikan Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksi kakao nasional.
Dengan dukungan berbagai pihak, ia optimistis Desa Nagrak dapat berkembang menjadi pusat pembibitan dan budidaya kakao unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan petani di Jawa Barat maupun daerah lainnya. (dsp)







