JuaraNews, Bandung – Memiliki pakaian rapi dan bebas kusut kini terasa mudah tinggal colok listrik, panaskan sebentar, lalu pakaian siap licin sempurna.
Padahal, jauh sebelum setrika modern hadir, menjaga pakaian tetap rapi adalah pekerjaan yang sulit sekaligus melelahkan.
Pada masa lampau, alat pelicin pakaian terbuat dari bahan sederhana seperti batu, kaca, kayu, hingga logam. Karena berat dan sulit menggunakannya, hanya orang kaya yang mampu merawat pakaiannya, bahkan sampai mempekerjakan budak atau pelayan khusus.
Baca Juga: 5 Keunikan Suku Kajang Ammatoa di Bulukumba
Seiring waktu, muncullah berbagai bentuk setrika kuno.
Orang Yunani sekitar 400 SM menggunakan Goffering Iron, batang logam bundar yang dipanaskan untuk melipat jubah linen.
Di Kekaisaran Romawi, masyarakat memanfaatkan Pemukul Pakaian, semacam palu logam datar yang dipukulkan pada kain untuk menghilangkan kerutan.
Inovasi berlanjut di Asia Timur. Sekitar seribu tahun lalu, Tiongkok kuno menciptakan setrika Logam Panas berbentuk mirip sendok es krim besar. Bagian dalamnya terisi dengan batu panas lalu menekannya ke kain.
Baca Juga: Waspadai Akibat Mengecas HP Seharian, Ini Dampak Buruknya!
Tak ketinggalan bangsa Viking di Skandinavia pada abad ke-8 hingga ke-9, mereka memakai alat dari kayu, kaca, dan batu yang dipanaskan dengan uap, bentuknya unik menyerupai jamur.
Lompatan besar terjadi pada abad ke-15 dengan hadirnya Setrika Arang. Alat ini berupa kotak besi berlubang yang terisi arang panas, lengkap dengan pegangan di atas dan alas logam halus di bawah.
Desain ini lebih efisien dan bertahan lama hingga ratusan tahun di berbagai negara, termasuk Indonesia memakainya.
Baca Juga: PLN Kembangkan Sarana Praktik untuk SMK Cendekia Kejuruan Listrik
Kini, setrika telah berevolusi menjadi alat rumah tangga modern yang ringan, aman, dan praktis bahkan setrika sekarang sudah lengkap memakai teknologi uap hingga tanpa kabel.
Dari batu sederhana hingga mesin canggih, perjalanan panjang setrika membuktikan bagaimana inovasi terus lahir untuk memudahkan kehidupan manusia. (dsp)







