banner 500x188

Jaga Ketahanan Nasional, Gubernur Lemhannas Dorong Pers Tetap Kritis dan Independen

Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI menyiapkan kursus singkat nilai-nilai kebangsaan secara gratis bagi wartawan. 

JuaraNews, Jakarta – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI menyiapkan kursus singkat nilai-nilai kebangsaan secara gratis bagi para wartawan termasuk anggota Forum Wartawan Kebangsaan (FWK).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran pers dalam menjaga ketahanan nasional di tengah maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan persaingan narasi antarbangsa.

Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, menyampaikan hal itu saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Ace, pers memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus membangun masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai tantangan informasi dan dinamika geopolitik.

“Kita perlu membangun jurnalisme kebangsaan yang kritis karena cinta kepada bangsa, independen, profesional dan berintegritas,” ujar Ace.

Ia menegaskan, penguatan ketahanan nasional tidak berarti membatasi kebebasan pers atau mengekang kritik. Sebaliknya, masyarakat yang tangguh harus mampu menerima kritik berbasis fakta, memperbaiki kesalahan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: FWK Sebut KPK Penakut, Pemerintah Jangan Antikritik!

Ace menilai, kemerdekaan pers dan profesionalisme merupakan dua hal yang saling memperkuat. Karena itu, wartawan perlu memiliki pemahaman kebangsaan tanpa kehilangan sikap kritis dan independensinya.

“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat gampang sekali terpancing, tersulut, dengan berita-berita hoaks dan ujaran kebencian,” katanya.

Lemhannas pun membuka peluang keterlibatan wartawan, termasuk anggota FWK, dalam kursus singkat nilai-nilai kebangsaan. Program tersebut sejalan dengan Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan yang selama ini dijalankan Lemhannas.

Ace menjelaskan, program tersebut tidak hanya menyasar birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, serta unsur TNI dan Polri, tetapi juga kalangan media.

“Kegiatan ini akan diperbanyak. Dan, kursus ini gratis untuk wartawan,” tegasnya, yang langsung disambut tepuk tangan peserta Rakernas FWK.

Kerja sama penguatan wawasan kebangsaan bagi insan pers itu sebelumnya juga ditandai melalui kolaborasi Lemhannas dengan PWI Pusat.

Baca Juga: Pers Sehat untuk Bangsa Kuat, Ini Harapan Wali Kota Bandung di HPN 2026

FWK Perkuat Etika Kebangsaan

Koordinator FWK, Raja Parlindungan Pane, menjelaskan bahwa organisasi tersebut lahir dari kepedulian sejumlah wartawan senior terhadap persoalan kebangsaan.

FWK berdiri pada Oktober 2025 atas prakarsa Hendry Ch Bangun, mantan Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019–2022 sekaligus Ketua Umum PWI Pusat periode 2023–2025.

Menurut Raja, para pendiri FWK merupakan wartawan yang telah menjalani profesinya sedikitnya 20 tahun, memiliki sertifikat wartawan utama, dan menaruh perhatian terhadap persoalan kebangsaan.

Sementara itu, Hendry Bangun menyambut kehadiran Ace Hasan Syadzily dalam Rakernas FWK. Ia menilai, semangat yang dibawa Lemhannas sejalan dengan tujuan pembentukan FWK.

“FWK hadir untuk mengintegrasikan nilai-nilai profesional kewartawanan dengan etika kebangsaan,” ujar Hendry.

Rakernas FWK berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dihadiri para pendiri dan pengurus FWK, termasuk 15 koordinator daerah (Koorda) dari berbagai wilayah Indonesia.

Sejumlah tokoh organisasi pers juga hadir, di antaranya Sekjen PWI Pusat Martin Slamet, Ketua Umum JMSI Dr. Teguh Sentosa, dan Ketua Umum FPRMI Bernadus Wilson.

Baca Juga: Wagub Erwan Tekankan Integritas Jadi Penentu Masa Depan Pers di Era AI

Pers Kritis untuk Ketahanan Nasional

Ace menekankan, jurnalisme kebangsaan semakin relevan di tengah persaingan ekonomi, militer, dan narasi antarnegara. Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, pers memiliki tanggung jawab menyajikan informasi akurat sekaligus membantu masyarakat memahami persoalan bangsa secara utuh.

Namun, semangat kebangsaan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan sikap kritis. Pers tetap harus independen, mengedepankan fakta, dan menjalankan fungsi kontrol secara profesional.

Di akhir Rakernas, FWK membacakan deklarasi yang disampaikan Sekretaris Jenderal FWK, Dr. Budi Nugraha.

“Semoga FWK menjadi rumah bersama bagi wartawan yang memiliki integritas, keberanian, kepedulian sosial dan komitmen kebangsaan,” kata Budi Nugraha. (dsp)