JUARANEWS – Libur panjang dan cuti bersama pada bulan Mei ini, tidak berdampak kunjungan tempat wisata di kawasan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Terlebih ada larangan Study Tour.
General Manager Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Sapto Wahyudi mengakui, libur panjang pada peringatan Waisak dan cuti bersama beberapa hari lalu kunjungan wisatawan di kawasan Lembang cenderung sepi.
Sapto menduga, sepinya pengunjung disebabkan kondisi perekonomian sedang lesu. Sehingga mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat.
BACA JUGA: Banjir dan Longsor Kepung Wilayah Lembang Bandung Barat!
Sepinya pengunjung wisatawan ini, diperparah dengan larangan pihak sekolah melakukan study tour oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
‘’Rata-rata kunjungan wisatawan di Lembang itu dari rombongan pelajar yang melakukan study tour, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ sesal Sapto kepada wartawan, Kamis, (15/05/2025).
Menurutnya, sejauh ini kunjungan wisatawan yang ada di kawasan Lembang Bandung Barat mengandalkan rombongan pelajar yang melakukan study tour yang datang dari berbagai daerah.
BACA JUGA: DNA di Kondom Pemerkosa Pasien RSHS Milik dr Priguna
Akan tetapi, sejak pelarangan study tour, pelaku wisata di Lembang kena imbasnya sehingga berujung kepada pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Ini sangat berpengaruh sekali, meski Grafika Cikole belum mengurangi karyawan tapi tempat wisata lain sudah banyak yang melakukan PHK ini, termasuk perhotelan,’’ujar dia.
Sementara itu, Sekretaris PHRI Kabupaten Bandung Barat Alfred Sebastian juga mengakui, saat ini banyak keluhan mengenai sepinya kunjungan wisatawan. Khusunya di sektor perhotelan.
BACA JUGA: Pengelolaan Sampah di Kawasan Komersial di Kota Bandung Belum Ada Solusi!
Menurutnya beberapa faktor sepinya wisatawan disebabkan karena kondisi ekonomi yang belum stabil. Sehingga perlu dilakukan langkah untuk melakukan promosi.
‘’PHRI berupaya meningkatkan promosi dan kolaborasi dengan tempat wisata,’’ kata dia.
Alfred mengaku, seluruh anggota PHRI yang ada di Bandung Barat sudah menyusun strategi untuk melakukan promosi secara bersama-sama.
BACA JUGA: Polda Jabar Usut Penggelapan Dana Hibah di Tasikmalaya
Selain dalam bentuk diskon, promosi dilakukan untuk wisatawan dengan menjual pake berlibur dengan harga yang sangat terjangkau.
‘’Jadi misalnya wisatawan menginap di hotel A untuk berlibur, maka sudah include mendapatkan potongan makan di restoran dan kunjungan ke tempat-tempat wisata,’’ tutur Alfred.
Program diskon dan potongan harga ini dilakukan untuk mendongkrak kembali kunjungan wisatawan ke Bandung Barat yang semenjak libur lebaran lalu cenderung mengalami penurunan.
BACA JUGA: Ngatiyana Minta, Wilayah Perbatasan di Cimindi Bergabung dengan Kota Cimahi
Pihaknya juga meminta dukungan dari pemerintah daerah agar program ini dibantu untuk disebarluaskan.
Pemerintah daerah Bandung Barat sudah seharusnya turun untuk bersinergi membantu para pelaku usaha. Sebab, jika kunjungan wisatawan kembali ramai maka pendapatan di sektor pajak juga akan meningkat.
“PHRI berharap ada juga langkah dari pemerintah daerah pariwisata sebagai penopang perekonomian daerah (PAD) Bandung Barat,” Tandas Alfred. (edt).







