JuaraNews, Bandung – Festival 76 Indonesia Adalah Kita menutup rangkaian tur di empat kota dengan meriah di kawasan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pusenif), Jalan Supratman, Kota Bandung, Sabtu (24/10/2026).
Gelaran yang memadukan musik dan budaya ini menyedot lebih dari 8.000 pengunjung sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas dan semangat pantang menyerah.
Festival yang melibatkan sekitar 100 komunitas di Bandung ini menghadirkan beragam aktivitas street culture, mulai dari skateboard, BMX, inline skate, mural, hingga pertunjukan hip-hop.
Sejumlah musisi ternama turut memeriahkan Festival 76 Indonesia Adalah Kita, di antaranya S.I.D, Rebellion Rose, Rosemary, DT09 dan pelaku hip hop, penampilan mereka sukses menambah kemeriahan acara sekaligus menghibur para pengunjung yang hadir dengan sajian musik penuh energi.
Marketing Manager brand Djarum 76, Ronald Theo Lesmana, mengatakan Festival 76 Indonesia Adalah Kita merupakan puncak rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak Februari 2026. Setelah menyambangi Tangerang, Semarang, dan Surabaya, Bandung menjadi kota terakhir dalam perjalanan festival tersebut.
Menurut Ronald, festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya menghadirkan ruang bagi komunitas street culture untuk berkembang sekaligus menanamkan nilai pantang menyerah kepada generasi muda.
“Melalui street culture, kami ingin generasi muda belajar tentang arti pantang menyerah. Seorang skater pernah mengatakan kepada saya, keberhasilan melakukan sebuah trik bukan ditentukan oleh seberapa sering kita jatuh, melainkan seberapa banyak kita mau bangkit kembali,” kata Ronald.
Ia menilai filosofi tersebut relevan dengan perjalanan anak muda dalam meraih keberhasilan. Setiap keterampilan membutuhkan latihan, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba meski berulang kali menghadapi kegagalan.
“Generasi muda adalah masa depan Indonesia. Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan membutuhkan proses dan usaha. Nilai pantang menyerah inilah yang ingin kami bawa melalui street culture,” ujarnya.
Ronald menjelaskan, setiap kota yang menjadi lokasi festival memiliki karakter dan identitas street culture tersendiri. Perbedaan tersebut menjadi kekuatan untuk mempertemukan komunitas, memperluas jejaring, serta membuka peluang bagi anak muda untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Ia berharap festival ini dapat berlangsung setiap tahun dan menjangkau komunitas di luar Pulau Jawa. Dengan begitu, semangat pantang menyerah dapat tumbuh lebih luas dan memberikan dampak positif bagi generasi muda di berbagai daerah.
“Kami berharap nilai ini tidak hanya terkoneksi di Pulau Jawa, tetapi juga bisa kami bawa ke daerah lain. Masa depan Indonesia ditentukan oleh mentalitas generasi mudanya,” tutur Ronald.
Baca Juga: Distorsi Tanpa Sekat, Supermusic Kecil Tapi Party Jilid 3 Pecah di Soreang

Obstacle Besar Jadi Daya Tarik
Salah satu daya tarik Festival 76 Indonesia Adalah Kita di Bandung adalah arena obstacle atau lintasan rintangan berukuran 24 x 30 meter.
Arena tersebut menjadi tempat bagi komunitas street culture untuk menunjukkan keterampilan sekaligus menikmati aktivitas bersama tanpa harus selalu berorientasi pada kompetisi.
Vokalis sekaligus gitaris Rosemary, Indra Gatot, mengapresiasi penyelenggaraan festival yang melibatkan berbagai komunitas tersebut. Ia menilai ukuran obstacle yang dihadirkan menjadi salah satu keistimewaan acara.
“Festival ini sangat keren karena melibatkan banyak komunitas street culture. Apalagi obstacle-nya sangat besar. Sejauh yang saya tahu, ukuran seperti ini belum pernah ada di Indonesia,” ujar Indra.
Baca Juga: Tritan Point Jadi Saksi Sejarah, Hellprint United Day 9 Edisi ke-15 Sukses Mengguncang Bandung
Sebagai musisi sekaligus pelaku skateboard, Indra melihat festival tersebut memberikan kesempatan bagi atlet profesional maupun pemula untuk terlibat dan menikmati aktivitas street culture.
Pengunjung juga dapat menyaksikan langsung keterampilan atlet profesional, sehingga berpotensi menumbuhkan minat generasi muda terhadap olahraga ekstrem.
“Intinya, yang penting mereka happy. Tidak semuanya harus serius atau berorientasi pada prestasi. Yang terpenting, mereka punya kesempatan untuk berpartisipasi dan menikmati kegiatan ini,” tuturnya.
Dalam penampilannya, Rosemary membawakan delapan lagu, termasuk lagu nasional Tanah Air. Band asal Bandung yang diperkuat Akbari Hakim pada terompet, Fajar Jualiandri pada bass, dan Denny Hsu pada drum itu turut mengisi seluruh rangkaian tur Festival 76 Indonesia Adalah Kita, mulai dari Tangerang, Semarang, Surabaya, hingga Bandung.
Penampilan energik Rosemary menambah semarak suasana ketika ribuan pengunjung memadati area festival. Perpaduan musik dan aktivitas komunitas menjadikan acara ini bukan hanya panggung hiburan, tetapi juga ruang pertemuan bagi anak muda dengan beragam minat dan kreativitas.
Baca Juga: Jambore Royal Enfield 2026 Perkuat Spirit of Brotherhood, Ratusan Rider Deklarasikan Bandung Kondusif

Selaraskan Semangat Sumpah Pemuda
Marketing Officer brand 76, Yeconia Davy Santoso, mengatakan pemilihan Oktober sebagai puncak rangkaian festival juga berkaitan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.
Menurut Davy, semangat Sumpah Pemuda sejalan dengan upaya mendorong generasi muda untuk terus berkarya dan menghadirkan perubahan positif bagi bangsa.
“Kami memilih Oktober karena ingin menyelaraskan kegiatan ini dengan semangat teman-teman muda menjelang Hari Sumpah Pemuda. Kami berharap mereka terus memiliki semangat untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi negara,” ujar Davy. (dsp)







