banner 500x188

Abad ke-2 NU dan Tantangan Disrupsi Digital

Abad ke-2 NU dan Tantangan Disrupsi Digital
Bendera NU. (Foto:NU Online)

SEBENTAR lagi ormas Islam terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-35 pada 27-31 Agustus 2026 di Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jawa Timur. Dalam lintasan hostorisnya, NU memiliki jam terbang yang sangat panjang dalam menavigasi berbagai pergolakan serta dinamika kebangsaan di Indonesia.

Pada fase awal berdirinya, NU hadir sebagai respons terhadap eskalasi perubahan dunia Islam global, khususnya merespons lahirnya dominasi politik puritan Wahabi di Timur Tengah. Selain itu, rekam jejak NU juga teruji dalam melewati krisis besar Perang Dunia II, ketegangan geopolitik Perang Dingin antara kekuatan kapitalis dan komunis, hingga kompleksitas dinamika politik domestik pascakemerdekaan.

Ketangguhan NU kembali dibuktikan melalui keterlibatan aktifnya dalam menghadapi berbagai gejolak dunia pasca reformasi, mulai dari masalah demokrasi, terorisme di dunia Islam hingga krisis kesehatan global seperti pandemi Covid-19 serta mitigasi berbagai isu internasional mutakhir lainnya sperti ketegangan geopolitik akhir-akhir ini.

Pada abad pertama, NU menjaga akidah Aswaja di Indonesia dengan membendung gerakan Wahabi. Di abad kedua, tantangannya berubah: digitalisasi. Infrastruktur dan pola pikir manusia berubah. Misi utama NU sekarang harus siap berfokus pada tata kelola yang jauh lebih kompleks dan menganyam ekonomi dalam dunia disrupsi digital, semua diniatkan semata demi kemaslahatan umat.

Baca Juga:Perkuat Sinergi Ulama dan Wakil Rakyat, Jenal Aripin Serap Aspirasi Muslimat NU di Rawamerta

Ketika melangkah memasuki abad ke-2 nya, eksistensi NU langsung dihadapkan pada tantangan baru (new challenge) era disrupsi digital ditambah lonjakan demografi dari Generasi Zillenial dan Generasi Alpha. Barangkali, kedua generasi ini memang sejak kecil sudah dibesarkan bersama informasi digital, seperti kecerdasan buatan (AI), CapCut, Instagram, TikTok, Facebook, X (Twitter), YouTube, dan aplikasi digitalisasi lain.

Fenomena tersebut otomatis menciptakan ruang kompetisi global yang tidak bisa dibendung, gelombang transformasi digital secara agresif mempengaruhi seluruh lini kehidupan masyarakat. Realitas mutakhir ini tidak hanya mengubah cara orang berinteraksi, tetapi juga regulasi hingga perputaran lingkaran ekonomi.

Hal ini menjadi tantangan strategis lanjutan bagi NU agar dapat tetap adaptif di tengah percepatan teknologi digital. Realitas ini didasarkan pada fakta bahwa dunia digital sekarang sudah bertransformasi menjadi dirigen utama yang menyetir arah perekonomian global.

Laporan dari Harvard Business Review mengonfirmasi bahwa dalam kurun waktu seperempat abad terakhir, penetrasi teknologi digital memang menjelma menjadi faktor paling deterministis dalam peta kompetisi global. Maka, indikator perkembangan teknologi yang dirilis oleh Digital Planet tahun 2026 Indonesia ditempatkan dalam klaster negara berkembang dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi digital yang paling dinamis. Posisi ini membuat Indonesia sejajar dengan beberapa negara lain seperti India, Thailand, Armenia, dan Vietnam yang sedang mengalami lompatan serupa.

Daya pikat berupa ruang ekspansi ekonomi yang masih terbuka lebar ini secara otomatis membuat pasar domestik kita terlihat prospektif dan sangat menarik di mata para investor asing.

Baca Juga:Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Investasi Masa Depan Bangsa

Masih menurut laporan tersebut, secara akumulasi modal Indonesia masih berada di level break out (belum setara dengan negara-negara dengan kemapanan ekonomi maju atau stand out) plus infrastruktur digital tingkat tinggi, seperti Amerika Serikat, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Irlandia, Estonia, Uni Emirat Arab (UEA), Israel, Republik Ceko, Malaysia, Lithuania, Latvia, Polandia, Tiongkok, Italia, Arab Saudi, atau Qatar, momentum pertumbuhan yang dimiliki Indonesia tetap menunjukkan tren yang positif.

Negara-negara mapan tersebut memang pada dasarnya merupakan pionir yang sukses mengoptimalkan inovasi serta membangun sistem yang berkelanjutan (sustainable).

Lompatan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia saat ini sudah berada di tingkat yang sangat tinggi.Ini, menjadi kode keras bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti NU agar tidak tertinggal dan harus bergerak cepat dalam menyusun strategi ekonomi digital.

Jika memakai data survei Alvara. Anggaplah ada 140 juta warga Nahdliyyin yang punya gadget aktif. Terus, masing-masing dari mereka ngeluarin rata-rata Rp50.000 kebutuhan data kuota. Berapa perputaran uangnya ? Secara kolektif, budget yang berputar dari konsumsi digital warga NU bisa tembus Rp.7 triliun sebulan! Flexing data ini membuktikan kalau basis massa NU punya kekuatan ekonomi riil yang strategis dan powerful dalam ekosistem digital.

Gus Yahya menjalankan program transformasi digital di PBNU. Meski fokusnya belum menyentuh ekonomi digital, tapi mengubah budaya kerja manual menjadi sistem digital butuh perjuangan. PBNU mengaku sudah dua tahun bongkar pasang tim demi membangun ekosistem digital yang solid.Hasilnya adalah DIGDAYA (Digitalisasi Data dan Layanan Nahdlatul Ulama). Platform ini menyatukan persuratan, keuangan, manajemen aset, dan layanan untuk warga Nahdliyin dalam satu sistem. (Suaedy, 2025:57).

Platform digital ini mempercepat reformasi birokrasi di internal NU. Warga NU butuh langkah taktis begini pas organisasi resmi masuk abad kedua, biar gak ketinggalan laju inovasi teknologi dan ekonomi global yang bergerak cepat. Apalagi transformasi digital sekarang menyentuh hardware, bukan cuma software. Permintaan global untuk cip mikro melonjak karena server cloud butuh cip ini buat mengolah data AI dalam volume besar. Jumlah pengguna perangkat pintar juga naik tiap tahun. Industri global sekarang bergantung pada ekosistem digital yang cepat dan efisien. Harga memori cip dan SSD saat ini melambung tinggi.

Baca Juga:Komisi II DPRD Jabar Evaluasi Kinerja OPD dalam Pembahasan LKPJ 2025

Kata seorang investor global dan penasihat strategis Divergent Technologies Inc, Paul Achleitner dalam The Economist (2026). Ia memaparkan fakta bahwa arsitektur perangkat lunak dan infrastruktur perangkat keras memiliki hubungan simbiosis mutual (saling ketergantungan ) yang tidak dapat dipisahkan.

Menurutnya, saat ini sedang terjadi pergeseran tren pasar yang ekstrem (market shift). Di era digital saat ini, pembuatan atau kepemilikan perangkat lunak berbasis kode sudah menjadi hal yang lumrah dan tidak lagi langka karena dapat digandakan secara masif dengan mudah. Sebaliknya, hal yang akan menjadi barang langka sekaligus sektor bisnis yang sangat potensial menurut Achleitner justru adalah sektor perangkat keras berperforma tinggi.

Hal ini terjadi karena perkembangan fungsi perangkat lunak masa kini seperti komputasi awan (cloud computing), pengolahan data besar (big data), hingga algoritma AI, makin membutuhkan daya pemrosesan yang besar. Perangkat lunak tersebut memerlukan dukungan daya pemrosesan (processing power), memori penyimpanan, dan teknologi sensor fisik yang jauh lebih kuat agar performanya tidak mengalami hambatan sistem (bottleneck).

Oleh karena itu, Achleitner menegaskan bahwa keberadaan perangkat keras memiliki peran yang sangat krusial dan tidak boleh disepelekan. Untuk membangun infrastruktur fisik seperti pusat data (data center), pabrik manufaktur, jalur listrik, hingga robot canggih, diperlukan lahan, pasokan energi yang besar, tenaga kerja ahli, perizinan yang rumit, serta waktu yang cukup lama.

Hambatan fisik ini secara otomatis memicu munculnya biaya tambahan (marginal cost) yang tidak dapat dihindari, serta waktu tunggu (lead time) yang lama. Seiring berjalannya waktu, perangkat lunak mengalami komodifikasi yang membuatnya kehilangan keunikan di pasar. Kini, perhatian pasar kembali tertuju pada ranah perangkat keras sebagai barang yang langka dan diperebutkan. Dalam arti yang lebih luas, perangkat keras di sini mencakup infrastruktur utama, sistem pengelolaan energi, ketersediaan bahan baku, kapasitas pabrik, transportasi, hingga jaringan rantai pasok (supply chain).

Pada akhirnya, perangkat keras ini menjelma menjadi aktor utama atau pilar yang paling menentukan dalam ekonomi global. Poros kekuatan ekonomi zaman sekarang tidak lagi dilihat dari seberapa estetis sebuah desain kode digital, melainkan dari komoditas yang pasokannya paling terbatas atau langka. Fluktuasi harga minyak dunia yang tidak menentu serta mahalnya biaya pengiriman laut saat ini menjadi bukti nyata bahwa hambatan fisik di wilayah tertentu, seperti jalur logistik vital di Selat Hormuz dapat membuat ekonomi global langsung mengalami guncangan hebat.

Dari penjelasan laporan The Economic di atas, menunjukan bahwa dunia digital yang telah mengubah cara hidup manusia di dunia dan terutama pada Indonesia modern, dan bahkan secara otomatis termasuk warga NU sendiri, pergolakan tersebut suka atau tidak wajib direspons dan dinavigasi secara cermat dan cepat. Hal ini mengingat basis massa NU di Indonesia sangat besar dan signifikan. Mereka memiliki potensi besar untuk menjadi penentu arah utama ekonomi dunia digital di Indonesia, dari yang tadinya sekadar eksis (break out), menjadi aktor yang paling menonjol (stand out).

Baca Juga:Jawa Barat Jadi Model Penerapan SMK Go Global

Kita tidak tahu, bahwa siapa tahu dalam memasuki abad ke-2 NU, para pengurus yang akan datang mengembangkan dan mampu memiliki server tersendiri untuk mengola big data warganya, sebuah ekosistem digital yang langsung terintegrasi, seperti yang telah dijalankan perusahan raksasa digital NVIDIA di Amerika Serikat yang membangun ekosistem digital melibatkan warga langsung ke jantung akar rumput.

Oleh sebab itu, dalam aspek dakwah saat ini, sangat penting bagi NU untuk menunjukkan identitas mereka di ruang digital. Aktualisasi diri tersebut harus dikemas menggunakan pendekatan modern yang relevan dengan dinamika gen z dan alpa, sebab generasi masa kini tidak dapat lagi didekati dengan cara klasik yang kaku (rigid).

Meskipun metodologi dakwah kitab kuning dimodernisasi, esensi Islam khas NU tetap konsisten dengan keadaan otentiknya. Pengajaran kitab kuning yang dulunya berbasis pesantren dan dianggap rumit oleh masyarakat perkotaan, kini harus menembus ruang-ruang Muslim perkotaan (Muslim Kota) daring melalui transformasi dakwah lisan yang sederhana. Penetrasi ini didukung oleh sistem dakwah yang modern, terstruktur, dan dijalankan secara konsisten (istiqomah).

Dunia digital memiliki ritme kehidupan yang serba cepat. Pada dasarnya, masyarakat digital membutuhkan asupan dakwah yang dikemas secara ringkas dan sederhana tanpa mengurangi bobot isinya. Mereka mencari substansi agama yang mudah dicerna dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui integrasi metode modern-klasik di ruang digital tersebut.

Akan tetepi, jika melihat pergerakan saat ini, santri-santri kalangan NU sebenarnya sudah jauh lebih membaur dengan kondisi kontemporer dan melangkah lebih maju. Selain aktif melakukan diskusi mendalam (deep talk) dan berkarya melalui kitab turats peninggalan ulama Nusantara, mereka juga ikut serta membangun ekosistem sekaligus platform digital sebagai wadah informasi dan dakwah Islam. Dengan demikian, NU tidak akan kehilangan momentum di era teknologi ini.

Namun demikian, dalam ekosistem ekonomi digital dan energi terutama, NU itu masih tertinggal jauh, juga penguasaan terhadap STEM pun masih merayap. Pada aspek ini penting karena saling berkelindan sebagaimana dijelaskan Paul Achleitner tadi. Kelindan tersebut basisnya tidak ada lain semangat menghidupkan kembali tradisi keilmuan dan ekonomi sebagaimana telah ditanamkan idenya oleh salah satu Muassis NU KH. Wahab Chasbullah dengan Taswirul Afkar dan Nahdlatul Tujjar.

Baca Juga:Saeful Bachri Ajak Masyarakat Jadikan Tahun Baru Islam Momentum Hijrah Menuju Kebaikan

Maka dengan demikian, Muktamar NU-35 di Tambak Bersas menjadi sangat penting dan krusial untuk melahirkan nahkoda baru NU dalam menghadapi tantangan dunia disrupsi digital dan lonjakan demografi gen z serta alpha.

Selamat Bermuktamar NU ke-35 di Tambak Beras Jawa Timur. (*)

Penulis: WS Abdul Aziz (jurnalis lepas dan sekretaris Forum Jurnalis Jabar).