JuaraNews, Bandung – Pada era 1950-an, peselancar California yang bosan saat laut tenang mencari cara agar adrenalin tetap mengalir.
Mereka memasang roda pada papan kayu dan lahirlah skateboard. Awalnya hanya berupa papan sederhana dengan roda roller skate, namun anak-anak dan remaja langsung memainkannya di jalanan dengan gaya “sidewalk surfing.”
Memasuki 1960-an, perusahaan seperti Roller Derby dan Makaha mulai memproduksi skateboard secara massal. Desainnya berevolusi dari bentuk kotak menjadi lebih aerodinamis, sementara materialnya beralih dari kayu solid ke plywood yang lebih kuat dan ringan.
Baca Juga: Ribuan Massa Padati Aksi Bela Palestina di Bandung
Puncak kejayaan skateboard muncul pada 1970-an. Roda polyurethane menggantikan roda logam dan tanah liat, membuat skateboard lebih nyaman dan lincah untuk trik.
Munculnya skatepark dan kompetisi resmi semakin mengangkat popularitasnya di kalangan anak muda.
Skateboard Bukan Sekedar Olahraga
Baca Juga: Pegadaian Wilayah X Bersama DKP Jabar Tanam Ribuan Mangrove
Legenda seperti Tony Alva, Stacy Peralta, dan kelompok Z-Boys membawa skateboard melampaui olahraga. Mereka menjadikannya bagian dari budaya populer lewat film, musik, hingga fashion.
Kini skateboard terus berkembang dengan teknologi dan desain modern. Namun, semangat aslinya tetap sama: kebebasan, kreativitas, dan keberanian menantang batasan.
Baca Juga: Situ Cileunca, Antara Keceriaan Wisata dan Cerita Mistis
Dari jalanan California hingga kota-kota di seluruh dunia, skateboard berdiri sebagai simbol gaya hidup yang tak lekang oleh waktu. (dsp)







