banner 500x188

Semarak Coklat Kita Silatusantren “Nikmatnya Ramadan” 2026

Ramadan menjadi bulan rahmat dan ampunan yang menyucikan jiwa sekaligus menguatkan silaturahmi dan kepedulian sesama.
Semarak Coklat Kita Silatusantren “Nikmatnya Ramadan” 2026. (Foto: juaranews/dasep rohimat)

JuaraNews, Ciamis – Ramadan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan yang tak hanya menyucikan jiwa, namun juga menjadi jembatan untuk mempererat silaturahmi serta menebar kepedulian antarsesama.

Pada Ramadan 1447 H tahun 2026, Coklat Kita kembali memaknai bulan suci dengan menjalin kebersamaan bersama ulama, santri, dan masyarakat pondok pesantren melalui program Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan.

Sebagai titik awal rangkaian kegiatan yang mengusung semangat silaturahmi, kebersamaan, serta penguatan nilai-nilai keislaman, kegiatan ini digelar di Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, pada Sabtu (28/2/2026).

Dalam suasana hangat dan sarat makna, Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan ini, tidak hanya berbagi takjil dan makanan untuk berbuka puasa, tetapi juga ingin berbagi ilmu dan juga wawasan untuk Mahasantri, Santri dan Santriyah, serta masyarakat melalui talkshow, bersama beberapa narasumber yang di hadirkan, seperti Zastrouw Al Ngatawi, Budi Dalton, dan Tokoh Ulama KH. Fadlil Yani Ainusyamsi (kang Icep).

Baca Juga: Lewat Silatusantren, Coklat Kita Edukasi Santri Kelola Sampah Jadi Bernilai

Acara semakin semarak dengan panduan Prima Ramadhan dan penampilan seni religi memukau dari Bhattara Sena yang menghadirkan kekhidmatan sekaligus harmoni bagi seluruh pengunjung.

Dalam pemaparannya, Budi Dalton menyebut pesantren sebagai bagian penting dari mata air kebudayaan di Indonesia yang menyimpan nilai, tradisi, dan sistem pengetahuan yang relevan bagi generasi muda.

“Pesantren merupakan mata air kebudayaan dan peradaban. Melalui silaturahmi pesantren, nilai, norma, dan tradisi itu direaktivasi agar tetap relevan menghadapi tantangan zaman.” ungkap Budi Dalton.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Zastrouw yang menilai pesantren sebagai inkubator “vaksin kultural”. Nilai-nilai pesantren dinilai mampu membentuk imunitas kultural generasi muda agar tetap terbuka terhadap budaya baru, tanpa kehilangan jati diri.

Baca Juga: Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam Sukses Satukan Santri dari Berbagai Pesantren

“Melalui silaturahmi pesantren, nilai-nilai itu dapat dieksplorasi dan diinjeksi kembali kepada anak-anak muda agar mereka memiliki daya tahan budaya yang kuat, sekaligus mampu berkolaborasi dan berinovasi,” ujarnya.

Budayawan Zastrouw Al Ngatawi dan Budi Dalton bersama pimpinan pesantren KH. Fadlil Yani Ainusyamsi (Kang Icep) serta perwakilan Coklat Kita Yudi Wate Angin, berfoto bersama dalam Semarak Coklat Kita Silatusantren “Nikmatnya Ramadan” 2026. (Foto: juaranews/dasep rohimat)

Dialog Budaya Libatkan Santri Secara Aktif

Dialog kebudayaan yang digelar dalam suasana Ramadan tersebut berlangsung hangat dan penuh makna. Para santri tidak hanya berperan sebagai pendengar, tetapi juga terlibat aktif menyampaikan pandangan, bertukar gagasan, serta mendiskusikan peran strategis pesantren dalam menjaga nilai-nilai tradisi di tengah perubahan sosial yang dinamis dan berbagai tantangan zaman modern.

Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi (kang Icep) mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnya, Silatusantren menjadi sarana penting untuk mereaktivasi nilai-nilai budaya pesantren yang selama ini menjadi fondasi peradaban.

“Sejak lama, pesantren ini membuka diri terhadap beragam aktivitas seni dan budaya sebagai bagian dari kehidupan santri. Silaturahmi santri kami maknai bukan hanya sebagai sebuah kegiatan seremonial, melainkan ikhtiar menumbuhkan keberkahan bagi umat. Pesantren pun kami harapkan hadir sebagai ruang yang dinamis, tempat nilai-nilai keagamaan berpadu dengan budaya, sehingga santri tumbuh dengan kepekaan sosial dan kultural yang kuat di tengah arus perubahan zaman,” tandasnya.

Baca Juga: Coklat Kita Silatusantren, Sukses Hibur dan Edukasi Santri Ponpes Al-Ma’mun

Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, menyampaikan bahwa Silatusantren Nikmatnya Ramadan merupakan kelanjutan dari program Silatusantren yang telah berjalan sejak 2025. Pada Ramadan tahun ini, kegiatan difokuskan pada penguatan kebersamaan dan kepedulian sosial.

Yudi menjelaskan bahwa pemilihan Pesantren Darussalam memiliki posisi strategis dan pengaruh yang signifikan di wilayah Jawa Barat, terutama jika menilik besarnya kuantitas santri yang menimba ilmu di sana serta besarnya kontribusi sosial-budaya yang telah mereka berikan kepada masyarakat luas.

“Pesantren Darussalam ini adalah pesantren besar dengan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang kuat. Kami melihat pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan nilai dan karakter. Karena itu, Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan kami mulai dari sini, agar silaturahmi ini benar-benar menyentuh akar komunitas santri,” ujarnya.

Program Inklusif Bernuansa Edukatif

Ia menambahkan, program ini dirancang sebagai ruang kebersamaan yang memadukan edukasi, kepedulian sosial, dan hiburan yang bernilai. Setelah Ciamis, rangkaian kegiatan akan berlanjut ke Pondok Pesantren Al Hikamussalafiyah Cipulus, Purwakarta dan Pondok Pesantren Al-Ittihad, Cianjur.

Baca Juga: Coklat Kita Silatusantren Ajak Pesantren Nurul Anwar Mubtadi’ien Kelola Sampah Bernilai Ekonomis

Kegiatan yang berlangsung di Ciamis ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Ciamis Andang Firman Triyadi dan Ketua DPRD Ciamis Nanang Permana, serta turut mengundang para perwakilan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang merepresentasikan berbagai lintas agama.

Melalui kegiatan ini, Coklat Kita dan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi ruang kolaborasi yang hidup antara dakwah, pendidikan, dan budaya, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di bulan suci Ramadan.

Doni Rizwanto dan Kayla Azka Nadhifah, dua di antara santri Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis. (Foto: juaranews/dasep rohimat)

Respons Positif dari Lingkungan Pesantren

Sejumlah santri dan pengurus menyampaikan kesan positif atas kolaborasi tersebut yang dinilai sejalan dengan karakter Darussalam. Salah satunya disampaikan Doni Rizwanto, santri sekaligus pembimbing di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis.

Sejak 2019, Doni telah menjadi bagian dari Pesantren Darussalam Ciamis. Kini ia berperan ganda sebagai pembimbing santri sekaligus mahasiswa.

Baca Juga: Silatusantren Coklat Kita, Hadirkan Inovasi Olah Sampah di Ponpes Nurul Iman

Ketertarikannya pada kekhasan dan rekam jejak sejarah kampus tersebutlah yang memantapkan hati putra asli Rancah ini untuk tetap bertahan dan mengabdi.

“Darussalam memiliki ciri khas tersendiri dan dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Kabupaten Ciamis. Santrinya datang dari berbagai daerah hingga mancanegara, dan alumninya banyak berkiprah di berbagai bidang. Itu yang membuat saya tertarik mondok di sini,” ujar Doni.

Kesan serupa disampaikan Kayla Azka Nadhifah, santriwati asal Sukadana, Ciamis. Kayla telah mondok selama empat tahun di Darussalam. Ia merupakan alumni MTs Darussalam dan kini melanjutkan pendidikan di jenjang Madrasah Aliyah (MAN) di lingkungan pesantren tersebut.

Baca Juga: Tritan Point Jadi Saksi Sejarah, Hellprint United Day 9 Edisi ke-15 Sukses Mengguncang Bandung

“Saya tahu Darussalam dari keluarga. Banyak saudara saya mondok di sini, dan Darussalam dikenal memiliki lulusan yang berkualitas,” ujarnya.

Menurutnya, Coklat Kita bukan pertama kali hadir di Darussalam, namun selalu menampilkan konsep yang menarik.

“Persiapannya terlihat sangat effort, acaranya menarik, dan sesuai dengan dakwah Darussalam yang banyak melalui musik religi dan kebudayaan,” kata Kayla. (dsp)