JuaraNews, Bandung – Ozzy Osbourne, salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik rock dan heavy metal, telah menghembuskan napas terakhirnya pada 22 Juli 2025 dalam usia 76 tahun di kediamannya di Inggris.
Kabar duka ini mengakhiri perjalanan panjang musisi yang terkenal sebagai Prince of Darkness. Sosok yang tak hanya mengubah arah musik dunia, tapi juga menjadi simbol ketahanan hidup di tengah badai kontroversi dan tantangan pribadi.
Lahir dengan nama John Michael Osbourne pada 3 Desember 1948 di kota industri Birmingham, Inggris, Ozzy tumbuh dalam lingkungan keluarga pekerja.
Kehidupan sederhana semasa kecil tidak menghalanginya untuk bermimpi besar. Inspirasi dari The Beatles dan musik rock 60-an mengantar Ozzy pada keputusan untuk mengejar karier sebagai musisi.
Baca Juga: Chrisye: Ikon Budaya dan Legenda Musik Indonesia
Black Sabbath: Lahirnya Sang Prince of Darkness
Pada akhir 1960-an, Ozzy membentuk Black Sabbath bersama Tony Iommi, Geezer Butler, dan Bill Ward. Band ini menciptakan warna baru dalam musik rock dengan tema gelap, riff berat, dan atmosfer menyeramkan.
Album seperti Paranoid dan Master of Reality melambungkan nama mereka sebagai pionir heavy metal dunia. Suara khas Ozzy dan penampilan panggungnya yang intens menjadikannya simbol dari generasi pemberontak.
Namun, ketenaran membawa konsekuensi. Ozzy mulai tenggelam dalam penyalahgunaan alkohol dan narkoba, yang berujung pada pemecatannya dari band pada tahun 1979.
Tak butuh waktu lama bagi Ozzy untuk bangkit. Bersama istri sekaligus manajernya, Sharon Osbourne, ia merilis album solo debut Blizzard of Ozz (1980).
Lagu-lagu seperti Crazy Train, Mr. Crowley, dan Goodbye to Romance membuktikan bahwa Ozzy tetap relevan dan bahkan lebih berbahaya secara musikal di luar Black Sabbath.
Karier solonya bertahan selama puluhan tahun, menghasilkan belasan album studio dan tur dunia yang sukses besar. Ia menjadi ikon lintas generasi baik bagi penggemar lawas maupun anak muda yang mengenalnya lewat tayangan televisi.
Kehidupan pribadi Ozzy penuh warna. Ia terkenal karena aksi-aksi ekstrem, termasuk insiden menggigit kepala kelelawar di atas panggung sebuah momen yang melekat dalam sejarah musik.
Selain itu, sisi lain dari Ozzy muncul dalam acara reality show The Osbournes (2002–2005) yang menayangkan kehidupan keluarganya.
Tayangan ini memperlihatkan sosok ayah yang jenaka, emosional, dan kadang kikuk membuat semua publik luas semakin mencintainya.
Baca Juga: The Beatles! Ketika Mimpi Besar Tak Lagi Satu Suara
Masa Tua dan Kesehatan Menurun
Memasuki usia 70-an, Ozzy mulai menghadapi berbagai masalah kesehatan serius. Ia didiagnosis Parkinson pada tahun 2020, menjalani operasi tulang belakang, dan mengalami komplikasi akibat jatuh.
Beberapa tur dan jadwal panggung pun ia batalkan. Meski begitu, ia tetap sempat merilis album Patient Number 9 pada 2022 yang disambut positif.
Dalam wawancara terakhirnya, Ozzy menyampaikan harapan agar dikenang bukan hanya karena kontroversi, tapi karena kecintaannya pada musik dan perjuangan hidupnya.
Baca Juga: Gombloh, Seniman Jalanan yang Menjadi Legenda Musik Indonesia
Tutup Usia dan Penghormatan Dunia Musik
Dunia musik langsung berduka. Dari musisi rock senior hingga generasi muda, semuanya memberikan penghormatan.
Black Sabbath, Metallica, Foo Fighters, hingga Billie Eilish menyampaikan rasa kehilangan mereka atas kepergian sosok yang telah menginspirasi begitu banyak orang.
Ribuan penggemar memadati jalanan di Birmingham dan London untuk menyalakan lilin dan menyanyikan lagu-lagu favorit mereka.
Konser penghormatan bertajuk “Bark at the Moon Forever” digelar sebagai tribut abadi bagi pria yang pernah mengatakan, “Aku bukan pahlawan, hanya seseorang yang mencintai musik.”
Baca Juga: Bob Marley! Ikon Reggae dan Suara Perlawanan Dunia
Warisan yang Abadi
Ozzy Osbourne meninggalkan lebih dari sekadar diskografi ikonik. Ia meninggalkan pelajaran hidup, bahwa dari kegelapan bisa lahir cahaya, bahwa perubahan itu mungkin, dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwa.
Kini, sang Prince of Darkness telah berpulang. Tapi suaranya, semangatnya, dan warisannya akan terus bergema dalam setiap dentuman riff dan jeritan penonton di seluruh penjuru dunia. (dsp)







