banner 500x188

KAI Commuter Perkirakan Jumlah Penumpang Naik 3 Persen pada Nataru 2025–2026

PT KAI Commuter memproyeksikan peningkatan jumlah pengguna jasa selama masa angkutan Nataru 2025–2026 di Wilayah 2 Bandung. 
Saat kedatangan kereta api di stasiun. (Foto: JuaraNews/dasep rohimat)

JuaraNews, Bandung – PT KAI Commuter memproyeksikan peningkatan jumlah pengguna jasa selama masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 di wilayah operasional KAI Commuter Wilayah 2 Bandung.

Peningkatan mobilitas masyarakat pada libur akhir tahun menjadi faktor utama lonjakan tersebut, seiring tingginya aktivitas perjalanan untuk mudik, berlibur, serta mengunjungi keluarga dan kerabat di berbagai daerah.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyampaikan bahwa periode angkutan Nataru telah berlangsung sejak 18 Desember 2025 dan akan berakhir pada 4 Januari 2026.

Baca Juga: Awal Libur Nataru, Volume Penumpang Commuter Line Bandung Meningkat

Selama 18 hari masa layanan ini, KAI Commuter menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga kelancaran perjalanan.

“Untuk KAI Commuter Wilayah 2 Bandung, kami memproyeksikan peningkatan volume penumpang sekitar 3 persen pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru 2025–2026,” ujar Karina di Stasiun Bandung, Senin (29/12/2025).

Pada periode Natal tahun lalu, KAI Commuter Wilayah 2 Bandung melayani sekitar 1.136.000 penumpang. Tahun ini, jumlah tersebut diperkirakan meningkat hingga sedikitnya 1.176.000 orang seiring tingginya aktivitas liburan dan perjalanan keluarga.

Baca Juga: Hj Ratnawati Dorong PT Jasa Medivest Jadi BUMD Mandiri yang Profesional

Dari sisi operasional, KAI Commuter mengoperasikan 58 perjalanan kereta api setiap hari. Jumlah tersebut mencakup 38 perjalanan Commuter Line Bandung Raya, 10 perjalanan Commuter Line Walahar, 6 perjalanan Commuter Line Cibatu-Garut, serta 4 perjalanan Commuter Line Jatiluhur.

KAI Commuter juga mengatur kapasitas penumpang untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan. Untuk Commuter Line Bandung Raya, Walahar, dan Jatiluhur, perusahaan menetapkan batas okupansi maksimal sebesar 150 persen.

Sementara itu, pengaturan okupansi Commuter Line Cibatu–Purwakarta menyesuaikan jarak tempuh perjalanan.

Baca Juga: KAI Commuter Tegaskan Tiket KA Lokal Harus Sesuai Identitas Diri Penumpang

“Untuk tiga perjalanan dengan jarak tempuh di atas 100 kilometer, kami membatasi okupansi maksimal 120 persen. Sedangkan perjalanan dengan jarak di bawah 100 kilometer dapat mencapai 150 persen,” jelas Karina.

Dalam mendukung layanan selama Nataru, KAI Commuter menyiagakan lebih dari 696 personel di seluruh stasiun wilayah Bandung.

Petugas tambahan juga bersiaga di posko layanan, terutama di stasiun dengan tingkat kepadatan tinggi, guna membantu kelancaran arus penumpang.

Karina menambahkan, volume penumpang harian pada hari kerja di Wilayah 2 Bandung rata-rata mencapai 45.000 orang per hari.

Pada akhir pekan, angka tersebut meningkat hingga sekitar 67.000 penumpang per hari.

Baca Juga: Hari Kelima Angkutan Nataru, Penumpang Commuter Line Bandung Terus Meningkat

“Kami memprediksi peningkatan volume penumpang masih akan berlangsung hingga akhir pekan ini, seiring masa libur sekolah dan meningkatnya aktivitas masyarakat,” katanya.

Untuk menunjang kenyamanan, KAI Commuter menambah berbagai fasilitas di stasiun-stasiun padat. Langkah tersebut meliputi pemasangan tenda tambahan di Stasiun Bandung dan Stasiun Purwakarta, penambahan kursi tunggu, serta penyediaan toilet portabel.

Pada momentum angkutan Nataru, KAI Commuter mengimbau seluruh pengguna jasa, khususnya penumpang yang membawa anak-anak, agar selalu mengikuti arahan petugas di stasiun maupun di atas kereta demi keselamatan dan kelancaran perjalanan.

Baca Juga: KAI Commuter Bandung Siap Layani Mobilitas Pengguna Menuju Pusat Ibadah saat Natal

Terkait operasional, Karina mengungkapkan sempat terjadi genangan air di jalur Ciganeya–Purwakarta yang menahan dua perjalanan Commuter Line Cibatu.

Namun, petugas segera melakukan penanganan hingga perjalanan kembali normal pada pukul 17.30 WIB dengan penerapan pembatasan kecepatan.

“Setiap hari kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan menyiagakan petugas pengawas daerah selama 24 jam untuk memantau jalur yang berpotensi terdampak gangguan,” pungkasnya. (dsp)