banner 500x188

Dirjen Bangda: Peningkatan Etos Kerja ASN Kunci Mewujudkan Welfare State Prabowo

Peningkatan motivasi dan etos kerja aparatur guna mendukung visi Presiden Prabowo Subianto mewujudkan negara kesejahteraan.

JuaraNews, Jakarta – Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Bangda) Kementerian Dalam Negeri, Restuardy Daud, menekankan pentingnya peningkatan motivasi dan etos kerja aparatur untuk menopang visi Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan negara kesejahteraan (welfare state).

Restuardy menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri acara Bangda Award 2025 di Gedung Serbaguna Ditjen Bangda Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Dalam agenda itu, Ditjen Bangda menyerahkan penghargaan serta melakukan penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2025 yang melibatkan Dirjen, Sekretaris, dan para Direktur di lingkungan Ditjen Bangda Kemendagri.

Baca Juga: Dirjen Bangda Tekankan Perencanaan Anggaran Terukur dan Berdampak bagi Daerah

Restuardy menegaskan bahwa perjanjian kinerja tidak boleh berhenti pada formalitas, tetapi harus mendorong peningkatan kinerja seluruh jajaran.

Ia mengingatkan masih munculnya perilaku aparatur yang hanya menyatakan kesiapan menjalankan tugas tanpa disertai pelaksanaan nyata di lapangan.

“Komitmen terhadap tugas itu mutlak. Jangan hanya terlihat patuh, tetapi pekerjaan tidak dijalankan,” tegasnya.

Baca Juga: SPM Jadi Kunci Peningkatan Layanan Dasar di Wilayah Timur

Dua Fondasi Manajemen SDM: Kompetensi dan Loyalitas Aparatur

Restuardy menjelaskan bahwa manajemen sumber daya manusia bertumpu pada dua aspek utama, yakni kompetensi dan loyalitas. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan teknis, sedangkan loyalitas tercermin dari kesungguhan dalam menjalankan amanah.

Ia menilai aparatur dapat meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas. Namun, pimpinan harus membangun loyalitas melalui pendekatan kepemimpinan dan motivasi berkelanjutan, sebagaimana kerap diterapkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Restuardy juga menguraikan berbagai karakter SDM dalam organisasi, mulai dari pegawai yang kompeten dan loyal hingga yang kompeten namun kurang loyal. Ia menilai pegawai dengan loyalitas tinggi tetap layak dipertahankan meskipun kompetensinya masih terbatas, karena organisasi dapat membangun kemampuannya melalui pembinaan.

Baca Juga: 15 Nasabah Pegadaian Kanwil Jabar Raih Hadiah di Program Badai Emas

“Kompetensi bisa diajarkan dan diasah, tetapi para pimpinan harus menumbuhkan loyalitas,” ujarnya.

Dalam memotivasi pegawai, Restuardy menyinggung teori kebutuhan Maslow yang menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar seperti gaji dan fasilitas kerja sebagai fondasi awal. Ia juga menekankan pentingnya lingkungan kerja yang adil dan kondusif.

Ia menyoroti ketimpangan beban kerja di birokrasi yang berpotensi menurunkan motivasi, seperti kondisi ketika sebagian pegawai bekerja maksimal sementara yang lain tidak menunjukkan kinerja sepadan. Menurutnya, pimpinan harus segera membenahi situasi tersebut agar organisasi mampu mencapai target kinerja.

Baca Juga: Menko AHY Dorong Percepatan Infrastruktur dan Sertifikasi Tanah saat Kunjungan ke NTT

Restuardy berharap jajaran Ditjen Bangda dapat memanfaatkan alokasi anggaran tahun 2026 secara optimal sebagai penggerak kinerja, bukan sekadar angka dalam dokumen perencanaan.

“Anggaran bukan hanya kontrak administratif, tetapi sumber daya untuk memastikan seluruh pekerjaan institusi berjalan dan terpantau dengan baik,” ujarnya.

Baca Juga: Radea Respati: Ketertiban Umum Jadi Tanggung Jawab Bersama Elemen Masyarakat

Ia menutup sambutan dengan menegaskan bahwa motivasi kerja tidak hanya bergantung pada aspek material, tetapi juga pada kemampuan pimpinan membangun soliditas dan kebanggaan tim dalam meraih prestasi institusi.

“Kita semua bertanggung jawab melaksanakan tugas negara sebaik-baiknya sesuai amanah yang diberikan,” pungkas Restuardy. (dsp)