banner 500x188

Silatusantren Coklat Kita, Hadirkan Inovasi Olah Sampah di Ponpes Nurul Iman

Silatusantren yang diinisiasi oleh Coklat Kita, Pontren Nurul Iman, menjadi titik ke-7 dari total 15 titik pesantren di Jabar.
Silatusantren, Coklat Kita Hadirkan Inovasi Olah Sampah di Ponpes Nurul Iman. (juaranews/dasep rohimat)

JuaraNews, Bandung – Dalam rangkaian program “Silatusantren” (Silaturahmi Berkesan ke Pondok Pesantren) yang diinisiasi oleh Coklat Kita, Pondok Pesantren Nurul Iman, Cibaduyut, Kota Bandung, menjadi titik ke-7 dari total 15 titik pesantren di Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (3/8/2025) bukan sekadar seremoni. Pemilihan pesantren ini karena sangat representatif untuk wilayah perkotaan dengan jumlah santri yang cukup besar, mencapai 2.000 orang.

Kegiatan ini menjadi momen penting dalam memperkenalkan pengelolaan limbah organik dan non-organik secara berkelanjutan kepada para santri dan masyarakat sekitar.

Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin menyampaikan alasan pemilihan lokasi ini karena memiliki potensi besar.

“Tempat ini sangat representatif di Kota Bandung, terutama dengan jumlah santri yang besar. Ini membuat target edukasi menjadi lebih luas dan efektif,” ujarnya kepada wartawan di sela acara, Minggu (3/8/2025).

Yudi menambahkan, Pontren Nurul Iman dianggap sebagai salah satu titik paling urban dari seluruh lokasi yang telah disambangi. Hal ini menjadi nilai tambah karena edukasi pengelolaan sampah di kawasan perkotaan dapat menjadi percontohan bagi pondok pesantren lainnya di lingkungan serupa.

Baca Juga: Lewat Silatusantren, Coklat Kita Edukasi Santri Kelola Sampah Jadi Bernilai

Respon Positif dari Pesantren

YUDI Wataangin, Perwakilan Coklat Kita (kedua dari kiri) dan Muhammad Fuad Syafi'i Dewan Pengasuh Potren Nurul Iman (kedua dari kanan) usai memberikan keterangan pers kepada media, Minggu (/3/8/2025) (juaranews/dasep rohimat)
YUDI Wataangin, Perwakilan Coklat Kita (kedua dari kiri) dan Muhammad Fuad Syafi’i Dewan Pengasuh Potren Nurul Iman (kedua dari kanan) usai memberikan keterangan pers kepada media, Minggu (/3/8/2025) (juaranews/dasep rohimat)

 

Muhammad Fuad Syafi’i, perwakilan dari Pesantren Nurul Iman, menyampaikan apresiasi dan antusiasme terhadap kehadiran Coklat Kita.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Selain menjadi ajang silaturahmi dengan pesantren lain di Kota Bandung, kami juga mendapatkan edukasi langsung dari para ahli mengenai pengelolaan sampah,” tuturnya.

Fuad menjelaskan bahwa dengan jumlah santri sekitar 2.000 orang, pengelolaan sampah menjadi tantangan tersendiri. Namun, melalui workshop ini, para pengurus dan santri mendapatkan pemahaman bahwa sampah bisa menjadi sesuatu yang bernilai apabila bisa mengolahnya dengan baik.

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Bahas Raperda Fasilitas Penyelenggaraan Pesantren

Dari Pilah Sampah Hingga Inovasi Pemanfaatan

Selain itu kata Fuad, untuk pengelolaan sampah di Pesantren Nurul Iman sebelumnya sudah berjalan dalam bentuk pemilahan sampah organik dan non-organik, serta adanya petugas kebersihan yang bertugas di area pondok. Namun, workshop yang Coklat Kita hadirkan memperkaya pendekatan yang sudah ada.

“Kami punya sekitar 10 pesantren unit dan komunitas masyarakat sekitar yang juga terlibat, kini tahu bahwa sampah tidak hanya bisa dipilah, tapi juga bisa dimanfaatkan lebih lanjut diolah menjadi produk bermanfaat, bahkan bernilai ekonomi,” ujar Syafi’i.

Baca Juga: Pegadaian Jabar Perkuat Sinergi Pengelolaan Bank Sampah di Bandung

Edukasi Didukung Akademisi dan Praktisi

Edukasi dalam program ini melibatkan banyak pihak, termasuk Klinik Tanaman dari Mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Pajajaran (UNPAD), pengolahan sampah dan limbah mempraktikkan langsung bersama para santri dan santriyah di Aula Pontren Nurul Iman.

Di semua titik program, mereka hadir tidak hanya dengan teori, tetapi juga dengan praktik langsung yang mudah di terapkan oleh para santri.

Yudi menambahkan, “Setiap pesantren yang kami pilih memiliki potensi menjadi model. Harapannya, pesantren ini bisa menjadi contoh untuk pesantren lain, bahkan masyarakat sekitarnya.” tandas Yudi.

Baca Juga: Kolaborasi Seskoad dan Pemkot Bandung Wujudkan Zona Bebas Sampah

Sejarah Singkat Pesantren Nurul Iman

Berdiri pada tahun 1997, Pondok Pesantren Nurul Iman sempat mengalami relokasi besar-besaran pada 2019 karena terdampak proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung.

Saat ini, pesantren berdiri kokoh di lahan baru yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya, lengkap dengan fasilitas pendidikan mulai dari TK sampai MA, hingga asrama santri.

Di bawah kepemimpinan K.H. Khoiruddin Aly, yang juga menjabat sebagai Rois Syuriyah Nahdlatul Ulama Kota Bandung, pesantren ini terus berkembang.

Kemudian di bawahnya ada Dewan Pengasuh di antaranya, K.H Sofyan Ali, Ustadz Aisyah dan Ustadz Asep Nur termasuk Muhammad Fuad Syafi’i turut aktif mendampingi kegiatan para santri sehari-hari.

Pada sesi malam acara Coklat Kita Silatusantren, hadir sejumlah tokoh penting dari Ponpes Sukamiskin, Ponpes Al Huda, Ponpes Nurul Iman, Ponpes Margasari Cijawura, Ponpes Daar At-Taubah, Ponpes Sirnamiskin.

Selain itu, Ponpes Khozinatul Rohman, Ponpes Al-Istiqomah Wanasari, Ponpes Al – Munawarah, Majelis Wakil Cabang se-Kota Bandung, PCNU Kota Bandung dan Kantor Kemenag Kota Bandung.

Puncaknya, acara malam berlangsung santai dan akrab, dipandu MC Prima. Kemunculan komedian Aman dan Amin dengan guyonan kocak sukses menghibur para santri dan santriwati. (dsp)