banner 500x188

Osteoporosis Mengintai Tanpa Gejala, Perwatusi Ajak Warga Jaga Kekuatan Tulang

Osteoporosis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari penurunan kepadatan tulangnya.

JuaraNews, Bandung – Osteoporosis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari penurunan kepadatan tulangnya hingga mengalami patah tulang.

Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat membatasi aktivitas, menurunkan kualitas hidup, hingga mengurangi kemandirian, terutama pada usia lanjut.

Ancaman ini mendorong Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) memperkuat edukasi pencegahan osteoporosis sejak usia muda melalui peringatan Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026.

Perwatusi memperkirakan sekitar 3.000 warga akan memadati Bale Rame, Kabupaten Bandung, Minggu (25/10/2026), untuk mengikuti kampanye kesehatan tulang bertema Mendampingi Indonesia Bertulang Kuat.

Kegiatan yang mendapat dukungan Purnomo Yusgiantoro Center tersebut akan menghadirkan senam bersama, edukasi kesehatan dari para ahli, dan talkshow pencegahan osteoporosis. Penasihat Khusus Presiden, Purnomo Yusgiantoro, juga dijadwalkan hadir.

Ketua Umum Perwatusi, Anita A. Hutagalung, mengatakan HON 2026 menjadi momentum untuk memperluas kesadaran masyarakat bahwa kesehatan tulang perlu mendapat perhatian sejak dini, bukan hanya ketika memasuki usia lanjut.

“Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan komitmen dan panggilan bagi kita semua untuk bergerak bersama,” kata Anita dalam konferensi pers di TP PKK Jawa Barat, Kota Bandung, Sabtu (24/10/2026).

Anita mengungkapkan, satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas mengalami osteoporosis. Sementara pada laki-laki, diperkirakan satu dari tujuh orang menghadapi kondisi serupa.

Menurutnya, masyarakat perlu mewaspadai osteoporosis karena penurunan kepadatan tulang dapat berlangsung tanpa keluhan yang jelas. Banyak orang baru mengetahui kondisinya setelah mengalami patah tulang yang bisa membatasi aktivitas dan mengurangi kemandirian pada usia lanjut.

“Dari keropos tulang ini tentunya yang kita takutkan adalah patah tulang akibat osteoporosis. Itu yang selalu kita gaungkan, jaga tulang, jaga ototmu, kuatkan ototmu, agar kita dapat bahagia dan mandiri di hari tua,” ujarnya.

Baca Juga: Hari UMKM Nasional, Hj. Ratnawati Tegaskan UMKM Tulang Punggung Ekonomi Bangsa

Edukasi Tulang Tak Cukup Menunggu Lansia

Perwatusi mengembangkan program pencegahan osteoporosis untuk berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, ibu muda, hingga lansia. Edukasi di sekolah dan aktivitas fisik menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan menjaga kesehatan tulang sejak dini.

Bagi lansia, Perwatusi menyediakan latihan yang menyesuaikan kemampuan fisik, termasuk chair exercise atau senam menggunakan kursi.

Perwatusi juga mengembangkan senam virtual yang telah mencapai 925 episode dengan melibatkan sekitar 500 peserta dari Indonesia dan luar negeri, termasuk Malaysia serta Virginia, Amerika Serikat.

Untuk memperluas jangkauan edukasi, organisasi ini menargetkan pelatihan 500 instruktur setiap tahun. Para instruktur diharapkan mampu menyebarkan informasi dan mendorong aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan tulang di berbagai daerah.

Anita menegaskan, Jawa Barat menjadi salah satu fokus utama pengembangan program Perwatusi pada 2026. Meski demikian, edukasi pencegahan osteoporosis tetap menyasar masyarakat di wilayah lain agar kesadaran menjaga kesehatan tulang semakin merata.

Baca Juga: KBB Langganan Keracunan Program MBG, 18 Siswa SMP 4 Lembang Alami Gejala Pusing dan Muntah

Osteoporosis Bisa Berawal dari Kebiasaan yang Diabaikan

Ketua DPC Perwatusi Cirebon, dr. Lusiana S. Yulianti, Sp.OT, menjelaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan osteopenia dan osteoporosis.

Osteopenia merupakan kondisi ketika kepadatan mineral tulang mulai menurun, tetapi belum mencapai tingkat osteoporosis. Meski berbeda, keduanya perlu mendapat perhatian karena penurunan kepadatan tulang dapat meningkatkan risiko patah tulang.

Sejumlah faktor dapat memicu kondisi tersebut, antara lain kekurangan nutrisi, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, dan penggunaan obat-obatan tertentu.

“Osteoporosis dikenal sebagai silent disease atau penyakit yang kerap tidak disadari karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Penderitanya mungkin baru mengetahui kondisi tersebut ketika mengalami patah tulang,” kata Lusiana.

Ia menjelaskan, perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoporosis setelah menopause karena penurunan hormon estrogen. Karena itu, pemenuhan kebutuhan kalsium dan pembentukan cadangan mineral tulang perlu mendapat perhatian sejak usia muda.

Masyarakat juga perlu rutin melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh, menjaga berat badan, serta memperhatikan penggunaan obat-obatan yang berpotensi memengaruhi kesehatan tulang.

Baca Juga: Fraksi Gerinda Dukung Usulan 4 Raperda, Terutama Masalah Penyimpangan Seksual

Keluarga Jadi Benteng Pencegahan

Ketua TP PKK Jawa Barat sekaligus Ketua DPD Perwatusi Jawa Barat, Samantha Dewi, menilai keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat dan mencegah osteoporosis.

Melalui TP PKK, edukasi mengenai pemenuhan nutrisi dan pentingnya aktivitas fisik dapat ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Kebiasaan tersebut menjadi fondasi untuk menjaga kesehatan tulang hingga usia lanjut.

Dukungan juga datang dari Branch Group Manager Kalbe Nutritional, Dicky Sulaiman. Ia menegaskan, upaya menjaga kesehatan tulang tidak boleh menunggu seseorang memasuki usia lanjut.

“Tulang itu bukan hanya urusan nanti kalau sudah sepuh. Jadi, harus dimulai, dibangun, dilindungi, dan diperkuat sejak hidup. Dan mulai dari usia muda. Di kami sebagai salah satu produsen untuk nutrisi untuk kesehatan tulang, kami mendukung sekali program yang dicanangkan organisasi Perwatusi,” ujar Dicky.

Melalui HON 2026, Perwatusi ingin mengubah edukasi kesehatan tulang menjadi gerakan berkelanjutan. Pesannya jelas, pencegahan osteoporosis membutuhkan kebiasaan hidup sehat, aktivitas fisik teratur, dan pemenuhan nutrisi sejak dini agar masyarakat tetap aktif dan mandiri hingga usia lanjut. (dsp)