JuaraNews, Bandung – Di ujung selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Bulukumba, ada sebuah komunitas adat yang seakan tak tersentuh zaman, yakni: Suku Kajang Ammatoa.
Keunikan mereka tidak hanya terlihat dari pakaian dan gaya hidup, tetapi juga dari falsafah hidup yang ia pegang teguh secara turun-temurun.
Hidup di tengah hutan lindung dengan aturan adat yang ketat, mereka tetap mempertahankan cara hidup sederhana dan filosofi leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Di balik keteguhan itu, tersimpan berbagai keunikan yang membuat siapa pun penasaran untuk mengenal lebih dekat. Inilah beberapa keunikan yang ada di Suku Kajang Ammatoa:
Baca Juga: Chrisye: Ikon Budaya dan Legenda Musik Indonesia
1. Rumah Adat Menghadap ke Barat
Rumah adat Suku Kajang selalu dibangun menghadap ke arah barat. Meski bentuknya mirip rumah panggung khas Bugis-Makassar, arah bangunannya punya makna tersendiri.
Masyarakat Kajang percaya, rumah yang menghadap ke barat arah terbenamnya matahari akan membawa berkah dan kebaikan bagi penghuninya.
2. Pakaian Serba Hitam
Pakaian adat Suku Kajang hanya satu warna: hitam. Warna ini melambangkan persamaan derajat di hadapan Sang Pencipta, kesederhanaan, dan sifat netral.
Tidak ada perbedaan antara hitam tua atau hitam muda, semuanya dianggap sama seperti prinsip hidup mereka yang mengedepankan kesetaraan.
3. Menikah dengan Sesama Suku Kajang
Dalam adat Kajang, pernikahan idealnya harus dengan sesama anggota suku dan yang tinggal di wilayah adat. Jika menikah dengan orang luar, pasangan tersebut biasanya tinggal di luar kawasan adat, kecuali mereka bersedia sepenuhnya mengikuti aturan dan adat istiadat yang berlaku.
4. Taat Beragama
Suku Kajang memeluk agama Islam, yang dalam bahasa Konjo yaitu Sallam. Mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang terkenal dalam bahasa Konjo sebagai Turi’e A’rana. Ketaatan menjunjung tinggi dalam beribadah menjadi salah satu ciri khas bagi mereka.
5. Daya Tarik Wisata Budaya
Selain alamnya yang indah, kawasan adat Suku Kajang menjadi tujuan wisata budaya. Namun, ada aturan khusus bagi pengunjung, seperti mengenakan pakaian serba hitam dan tidak membawa alat elektronik ke dalam wilayah adat. Aturan ini tiada lain untuk menjaga kekhidmatan dan kelestarian budaya setempat.
Baca Juga: Obat Alami Zaman Dulu, Warisan Leluhur yang Tetap Abadi
Harmoni Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Berjalan di tanah adat Suku Kajang Ammatoa ibarat melangkah mundur ke masa lalu ke zaman di mana kesederhanaan, kesetaraan, dan ketaatan menjadi panduan hidup.
Keunikan yang mereka miliki bukan hanya layak untuk disaksikan, tetapi juga menjadi cermin bagi kita semua tentang bagaimana hidup bisa tetap harmonis meski jauh dari hiruk pikuk modernisasi.
Jadi, jika suatu saat Anda berkunjung ke Bulukumba, sempatkanlah melangkah ke wilayah adat Kajang, dan rasakan sendiri pesona budaya yang begitu kental di sana. (dsp)







