banner 500x188

Lewat Silatusantren, Coklat Kita Edukasi Santri Kelola Sampah Jadi Bernilai

Penanganan sampah di Jawa Barat masih menjadi tantangan serius yang belum terselesaikan sampai saat ini yang semakin meningkat.
Para santri dan pengasuh ponpes Miftahul Hasanah Al Musri, di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat saat mengikuti kegiatan Silatusantren Coklat Kita. Minggu (27/7/2025). (juaranews/dasep rohimat)

JuaraNews, Bandung – Penanganan sampah di Jawa Barat masih menjadi tantangan serius yang belum terselesaikan sepenuhnya. Volume sampah yang terus meningkat, terutama di wilayah padat penduduk dan kawasan urban.

Menyikapi hal tersebut Coklat Kita meluncurkan sebuah program yang di beri nama Silatusantren (Silahturahmi Berkesan ke Pondok Pesantren). Untuk meningkatkan kesadaran kebersihan dan pengelolaan sampah di pesantren.

Program ini dirancang untuk mengedukasi para santri dan warga sekitar pesantren tentang pentingnya pengelolaan dan pemanfaatan sampah agar tidak menjadi masalah, melainkan membawa manfaat ekonomi.

Langkah perdana program ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Miftahul Hasanah Al-Musri, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Minggu (27/7/2025).

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Bahas Raperda Fasilitas Penyelenggaraan Pesantren

Disini, para santri mendapatkan pembekalan langsung tentang cara mengelola sampah secara berkelanjutan, sekaligus praktik membuat kompos dan budidaya maggot dua metode ramah lingkungan yang berpotensi menjadi sumber penghasilan.

Perwakilan Coklat Kita untuk wilayah Bandung Barat, Renggi Prasetyo mengatakan program ini lahir dari kepedulian terhadap meningkatnya volume sampah seiring bertambahnya jumlah santri di pesantren.

“Kalau dibiarkan, sampah bisa jadi masalah serius. Tapi kalau dikelola dengan baik, ia bisa menjadi berkah,” ujarnya kepada wartawan di Ponpes Miftahul Hasanah Al-Musri, Minggu (27/7/2025).

Silatusantren tak hanya berhenti di satu tempat. Renggi menegaskan bahwa program ini akan berlanjut di 14 kota/kabupaten lainnya di Jawa Barat, khususnya di lingkungan pondok pesantren.

“Kami ingin mengubah cara pandang terhadap sampah. Bukan beban, tapi potensi. Silatusantren adalah langkah nyata kami untuk mendorong perubahan dari dalam,” tegasnya.

Baca Juga: Pegadaian Jabar Perkuat Sinergi Pengelolaan Bank Sampah di Bandung

Dari kiri Perwakilan Coklat Kita untuk wilayah Bandung Barat, Renggi Prasetyo Tim pelaksana DSO Bandung Barat Coklat Kita Farid Fauzan Adima dan Muhammad Iyadullah, pengasuh Pondok Pesantren Al-Musri.
Dari kiri Perwakilan Coklat Kita untuk wilayah Bandung Barat, Renggi Prasetyo Tim pelaksana DSO Bandung Barat Coklat Kita Farid Fauzan Adima dan Muhammad Iyadullah, pengasuh Pondok Pesantren Al-Musri

Pondok Pesantren Jadi Titik Awal Perubahan

Dipilihnya Ponpes Miftahul Hasanah Al-Musri sebagai lokasi pertama bukan tanpa alasan. Farid Fauzan Adima dari tim pelaksana Coklat Kita DSO Bandung Barat menjelaskan bahwa pesantren ini aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki lebih dari 500 santri.

“Dengan jumlah santri mencapai 500 orang dan akses yang mudah dijangkau, pesantren ini representatif untuk wilayah Bandung Barat,” ujar Farid.

Pelatihan ini dipandu oleh mahasiswa. Universitas Padjadjaran (Unpad) yang menjadi mitra kolaboratif dalam kegiatan ini.

Dengan gaya penyampaian yang interaktif, para peserta diajak memahami siklus sampah, nilai ekonomis dari daur ulang, serta manfaat ekologis dari pengelolaan limbah berbasis komunitas.

Tak hanya menebar edukasi, kehadiran Coklat Kita di Pontren Miftahul Hasanah Al-Musri juga memberikan vibes kemeriahan dengan adanya beragam acara menarik.

Dipandu MC kocak, Prima yang menuai gelak canda, Silatusantren kali ini menjadi hiburan tersendiri bagi para santri dan warga sekitar Bongas, Bandung Barat.

Baca Juga: Kolaborasi Seskoad dan Pemkot Bandung Wujudkan Zona Bebas Sampah

Muhammad Iyadullah, pengasuh Pondok Pesantren Al-Musri, menyambut baik inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga perintah agama.

“Kebersihan itu sebagian dari iman. Tapi seringkali hanya jadi slogan. Lewat program ini, kami berharap nilai itu benar-benar diterapkan oleh para santri,” ucapnya.

Sejak didirikan pada tahun 1992, pesantren ini telah melahirkan lebih dari 1.000 alumni, bahkan beberapa telah mendirikan lembaga pendidikan di daerah lain seperti Medan.

Muhammad Yadulloh berharap agar edukasi yang telah diberikan mampu menambah kualitas dan semangat para santri dalam menjaga kebersihan, sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

Baca Juga: DLH Kota Bandung Turun Tangan Bersihkan 80 Ton Sampah di Pasar Gedebage

Langkah Menuju Pesantren Berbasis Lingkungan

Program Silatusantren dari Coklat Kita membuktikan bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari lembaga pendidikan agama.

Melalui pendekatan kolaboratif dan nilai-nilai gotong royong, Coklat Kita ingin menciptakan gerakan pesantren peduli lingkungan yang mandiri, bersih, dan berdaya.

Setelah sukses di Cililin, program ini akan dilanjutkan ke berbagai pesantren lainnya di Jawa Barat, membawa misi yang sama.

Menjadikan pesantren sebagai pusat edukasi dan praktik nyata dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. (dsp)