banner 500x188

Iwan Suryawan: Tiga Pilar Ini Jadi Penopang Kekuatan Ekonomi Jabar di Akhir 2025

Menjelang tutup tahun 2025, optimisme mengalir dari Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan. Ia menilai mesin ekonomi Jabar meningkat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan.

JuaraNews, Bandung – Menjelang tutup tahun 2025, optimisme mengalir dari Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan. Ia menilai mesin ekonomi Jabar berada pada jalur yang tepat untuk menorehkan kinerja impresif di penghujung tahun.

Jawa Barat, yang selama ini menjadi penyumbang sekitar 14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, disebut Iwan menunjukkan sinyal pemulihan kuat.

“Kita melihat geliat ekonomi yang bergerak lebih agresif, terutama sejak memasuki kuartal terakhir,” ujar Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan. Dikutip Senin (8/12/2025).

Baca Juga: Iwan Koswara Apresiasi Kegiatan Kewirausahaan di SMKN 2 Kabupaten Sumedang

Tiga Pilar Penguat Ekonomi Jabar

Iwan memaparkan bahwa kekuatan ekonomi Jabar di penghujung tahun ditopang oleh tiga pilar utama: stabilnya belanja pemerintah, meningkatnya daya beli masyarakat, dan ekspansi investasi yang terus berlanjut.

Peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat jelang libur panjang menjadi faktor penting. “Permintaan musiman ini sangat signifikan. Energi belanja masyarakat meningkat menjelang Desember,” ungkapnya.

Baca Juga: Fraksi PSI Usulkan Pembahasan Raperda DGPK Harus Komperhensip

Manufaktur Masih Jadi Raja

Sektor industri manufaktur, yang menyumbang sekitar 42 persen terhadap struktur ekonomi Jabar, tetap menjadi tulang punggung. Dukungan ini diperkuat oleh tren Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang konsisten berada di atas level 50 dalam beberapa bulan terakhir indikasi sektor industri masih berada pada fase ekspansif.

Sementara itu, PDRB Jabar pada 2024 diperkirakan telah melampaui Rp1.500 triliun berdasarkan data Bappeda Jabar dan BPS. Momentum ini diprediksi terus berlanjut hingga akhir 2025.

Baca Juga: BPOKK Demokrat Jabar Evaluasi DPC, Petakan Kekuatan dan Kinerja Partai

Kontribusi konsumsi rumah tangga yang menyentuh 55 persen terhadap PDRB diperkirakan menjadi pendorong utama. Pencairan bonus akhir tahun turut memberi dorongan tambahan.

“Daya beli masyarakat adalah bensin utama ekonomi kita. Kami memproyeksikan kenaikan perputaran uang di sektor ritel, akomodasi, dan transportasi mencapai 15-20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya,” tutur Iwan.

Baca Juga: APBD Perubahan 2025 Resmi Disahkan, Anggaran Pembelian Lahan Meningkat Pesat

Iwan juga menyoroti pentingnya realisasi belanja pemerintah. Target penyerapan APBD Jabar sekitar Rp31 triliun pada APBD murni dan Rp32,8 triliun pada APBD perubahan 2025 harus dikejar optimal agar mendorong pertumbuhan di kuartal empat.

Lonjakan Wisata Jadi Magnet Ekonomi

Selain konsumsi dan industri, sektor wisata diyakini menjadi lokomotif tambahan. Dengan posisi Jabar sebagai tujuan wisata domestik terbesar, mobilitas wisatawan diprediksi melonjak tajam.

Data historis Dinas Pariwisata menunjukkan pergerakan wisatawan domestik bisa menembus 60 juta kunjungan per tahun, dengan puncaknya selalu terjadi pada bulan Desember.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Jumat Terpantau Meningkat! Ini Daftarnya

“Bandung Raya, Bogor, hingga Cirebon, semuanya berpotensi mengalami lonjakan okupansi hotel dan kunjungan restoran. Ini sangat vital bagi PAD sektor pariwisata,” kata Iwan.

Di tengah optimisme itu, Iwan mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi akibat permintaan yang melonjak. Ia meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bergerak cepat menjaga pasokan, terutama pangan.

“Jangan sampai euforia akhir tahun melemah karena harga yang tidak terkendali. Kita harus memastikan inflasi tetap berada di kisaran aman 2-4 persen,” tegasnya.

Baca Juga: DPRD Jabar Tegaskan Jaga Kualitas Penilaian 10 CDPOB

Mengakhiri pemaparannya, Iwan memastikan DPRD Jabar akan terus mengawal realisasi APBD dan mengamati dinamika harga di lapangan hingga 31 Desember 2025.

Ia optimistis momentum positif ini menjadi fondasi kuat dalam menyongsong target pertumbuhan ekonomi 2026. (dsp)