banner 500x188

Maknai Kesaktian Pancasila, Pendaki Nandi Bawa Pesan Kebangsaan dari Puncak Nusantara

Nandi. (Foto:Istimewa)

JuaraNews, Bandung  – Menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, pegiat alam terbuka sekaligus penulis, Nandi, membagikan refleksi mendalam mengenai arti penting persatuan bangsa dari atas puncak-puncak tertinggi Indonesia.

Melalui rangkaian Ekspedisi Langit Biru Mandala Nusantara, kreator konten di balik akun @nandiid ini menegaskan bahwa aktivitas mendaki gunung dan menjaga keutuhan bernegara memiliki prinsip dasar yang sama: merundukkan ego dan memperkuat gotong royong.

Baca Juga:Wakili Pendaki Gen Z, Nandi Apresiasi Peluncuran Aplikasi ‘Ayo ke Taman Nasional’ dan Titipkan Harapan Pengembangan Sistem

Bagi Nandi, perjalanan melintasi belantara ekstrem mulai dari kerapatan hutan hujan Gunung Kerinci di Sumatra hingga jalur batuan purba Gunung Agung di Bali memberikan sudut pandang yang jernih tentang posisi manusia di tengah alam dan bangsa.

“Mendaki gunung itu sejatinya bukan proses menaklukkan alam. Gunung terlalu agung untuk ditundukkan oleh ego manusia yang rapuh. Saat menyusuri rimba basah Kerinci atau menapak di batuan suci Gunung Agung, yang kita lakukan sebenarnya adalah tapa sebuah perjalanan mengikis kesombongan diri,” ujar Nandi dalam keterangannya, Rabu (30/9).

Ia menambahkan, pengalaman menghadapi cuaca ekstrem di ketinggian memperlihatkan betapa pentingnya fondasi yang kuat agar tidak runtuh diterpa badai, sebuah analogi yang sangat relevan dengan perjalanan sejarah Indonesia.

Baca Juga:Peringatan Hari Lahir Pancasila, Hj. Ratnawati Ajak Masyarakat Jabar Perkokoh Persatuan Menuju Indonesia Raya

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Indonesia berdiri di atas jalur Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif. Kondisi geologi yang dinamis ini berbanding lurus dengan kemajemukan sosial Indonesia yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasa.

Menurut Nandi, kerentanan geografis dan sosial tersebut hanya bisa direkatkan oleh ideologi yang kuat dan mengakar.

“Secara geologi dan sosial, bentang alam kita memang rawan guncangan. Namun, bangsa ini tetap berdiri tegak karena memiliki prana—napas kehidupan bernama Pancasila. Layaknya pohon cantigi di batas vegetasi puncak Kerinci yang diterpa angin tanpa henti, nilai-nilai Pancasila adalah akar yang menahan bangsa ini agar tak tercabut dari tanah airnya,” tuturnya.

Ia juga menyoroti bagaimana dinamika di jalur pendakian merefleksikan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika secara nyata. Saat berada di alam liar, keselamatan seluruh anggota tim tidak ditentukan oleh seberapa mahal perlengkapan yang dibawa, melainkan oleh rasa empati dan saling percaya.

Baca Juga:Peringati Hari Lahir Pancasila, A. Yamin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dalam Keberagaman

Melalui Ekspedisi Langit Biru Mandala Nusantara, Nandi berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memaknai Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebagai kompas navigasi dalam kehidupan berbangsa dan merawat lingkungan.

“Merawat alam dan merawat kebangsaan adalah dua dharma yang tak bisa dipisahkan. Selama kita menjaga agni persatuan di dalam dada dan merawat bumi yang kita pijak, Langit Biru Mandala Nusantara akan terus menaungi langkah bangsa ini,” kata Nandi menandaskan. (*)