banner 500x188

Klub Soroti Kinerja PSSI Jabar di Piala Soeratin 2026

Klub R2B Legend. (foto: dok r2b legend)

JuaraNews, Bandung – Sejumlah klub sepak bola di Jawa Barat menyoroti kinerja PSSI Provinsi Jawa Barat dalam penyelenggaraan Piala Soeratin Jabar 2026.

Beberapa persoalan yang menjadi sorotan di antaranya proses verifikasi melalui sistem SIAP hingga penunjukan venue pertandingan.

Selain itu, besarnya biaya pendaftaran yang harus dikeluarkan klub juga dinilai belum sebanding dengan kualitas penyelenggaraan. Klub menilai persoalan ini belum menunjukkan perbaikan berarti dari tahun ke tahun.

“Pelaksanaan pertandingan seharusnya dipersiapkan secara matang agar seluruh peserta dapat mengikuti kompetisi dengan nyaman dan sesuai regulasi,” kata Tony Supardi, Ofisial Tim sekaligus Pelatih Klub R2B Legend dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Tak Sekadar Turnamen, Soccer for Equality 2026 Bawa Misi Pendidikan untuk Anak NTT

Tony menilai persiapan yang dilakukan secara terburu-buru berpotensi menimbulkan berbagai persoalan ketika pertandingan berlangsung. Menurutnya, Bidang Kompetisi PSSI Jabar seharusnya memastikan seluruh aspek telah siap sebelum pertandingan digelar.

“Pada Piala Soeratin 2026 ini nampaknya belum siap untuk melaksanakan pertandingan. Seharusnya pertandingan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa,” ungkapnya.

“Khusus untuk lapangan perlu perhatian penyelenggara. Lapangan yang digunakan harus standar. Ini perlu direport karena lapangan yang kita gunakan saat ini tidak memenuhi standar,” ujarnya.

Kondisi Lapangan Kembali Jadi Sorotan

Kritik serupa disampaikan Manajer Tim Cimahi Putra, Dadan Rohimat. Menurutnya, kondisi lapangan menjadi salah satu persoalan dalam penyelenggaraan Piala Soeratin 2026 di Jawa Barat.

Baca Juga: ASICS Gelar Football Summer Camp 2026 di Bandung Sekaligus Luncurkan Sepatu JETRAY ELITE

Kualitas lapangan menurutnya memiliki peran penting dalam menentukan mutu sebuah kompetisi. Apalagi, pertandingan tingkat provinsi bukan sekadar mengejar terlaksananya agenda, tetapi juga harus menjamin kelayakan fasilitas demi keamanan dan kenyamanan para pemain muda.

“Yang pertama itu lapangan. Penunjukan tuan rumah selalu menjadi persoalan karena klub disarankan menjadi tuan rumah, dengan alasan anggaran tidak ada atau tidak cukup,” kata Dadan.

Persoalan lapangan menurutnya bukan hal baru, karena fasilitas yang belum memenuhi standar masih terus dirasakan klub peserta dari tahun ke tahun.

“Masalah lapangan ini dari tahun ke tahun masih saja sama. Minimal lapangan harus memenuhi standar. Bagaimana kompetisi mau bagus dan kualitas pertandingan meningkat kalau lapangannya tidak standar,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyoroti biaya pendaftaran yang dinilai semakin tinggi. Di tengah berbagai persoalan tersebut, ia berharap PSSI dapat lebih aktif mendampingi klub, bukan hanya berperan dalam menjalankan agenda kompetisi.

“Harapan saya, PSSI itu hadir di tengah-tengah klub, bukan malah seperti menjadi EO (Event Organizer). Kalau pihak swasta menjadi EO dan menarik biaya itu wajar, tetapi kalau PSSI, kami berharap lebih hadir mendampingi klub,” ungkapnya.

“Keluhan klub itu harus didengar. Jangan hanya sebatas menggugurkan kewajiban menerbitkan surat izin, tetapi nilai kehadirannya tidak dirasakan oleh klub,” tegasnya.

Pihaknya juga menyoroti kualitas kompetisi di tingkat provinsi jika dibandingkan dengan kompetisi yang digelar di tingkat kota maupun kabupaten.

“Kalau kompetisi berbayar, bisa dibilang PSSI tidak hadir. Di tingkat kota juga sama-sama berbayar, apalagi di kabupaten. Seharusnya, di tingkat provinsi pelaksanaannya bisa lebih baik,” ujarnya.

“Kenapa pelaksanaan di tingkat provinsi malah kurang dibandingkan di tingkat kota/kabupaten. Menurut saya, lebih baik Askot karena di tingkat kota atau kabupaten lapangannya justru bagus,” lanjut Dadan.

Cimahi Putra sendiri menurut tampil pada kategori U-15 dan U-17, dalam dua kategori itu biaya yang harus disiapkan mencapai Rp9,5 juta.

“Biaya tersebut menjadi tanggung jawab bersama antara manajemen klub dan orang tua pemain melalui sistem iuran. Mereka ikut urunan, kemudian sebagian kekurangannya ditambah oleh manajemen,” ungkapnya.

Dengan besarnya biaya pendaftaran, Dadan mengaku cukup keberatan apabila tidak dibarengi peningkatan kualitas penyelenggaraan.

“Ya, sangat keberatan. Setiap even tiba harus berbayar dengan biaya yang cukup mahal. Kalau memang berbayar mahal, kami berharap ada perubahan sistem, lapangannya bagus dan penyelenggaraannya lebih baik,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti format kompetisi. Menurutnya, sistem satu grup yang hanya berisi tiga tim membuat setiap klub hanya mendapatkan kesempatan bermain sebanyak dua pertandingan.

“Apalagi kalau sistemnya liga, seharusnya pertandingan lebih banyak. Ini satu grup hanya tiga tim, jadi kami hanya bermain dua kali. Untuk sebuah kompetisi pembinaan, menurut kami jumlah pertandingan itu masih sangat minim,” pungkasnya.