JuaraNews, Bandung – Pemkot Bandung terus mempercepat perbaikan infrastruktur guna mewujudkan kota yang lebih nyaman, aman, dan tertata.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi menjelaskan, penataan infrastruktur di Kota Bandung berfokus pada tiga indikator utama, yakni peningkatan kemantapan jalan, pengembangan trotoar inklusif, serta pengurangan titik genangan air.
Menurutnya, Program ini merupakan bagian dari visi besar Wali Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas layanan publik.
Baca Juga:Pemkot Bandung Akselerasi Pembersihan Drainase, Antisipasi Banjir di Musim Hujan
“Indikator utama kami adalah tingkat kemantapan jalan, persentase trotoar inklusif yang bisa diakses semua kalangan, serta penurunan titik genangan. Ini menjadi arah kebijakan utama yang terus kami dorong,” ujar Rizki dikutip, Jumat (1/5/2026).
Pada tahun 2026, DSDABM menjalankan dua skema utama, yaitu pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan rutin dilakukan oleh enam Unit Pelaksana Teknis (UPT) wilayah untuk menangani perbaikan minor, seperti jalan berlubang, kerusakan trotoar ringan, hingga drainase yang terganggu.
Sedangkan pemeliharaan berkala berskala lebih besar dan dilakukan melalui skema kontraktual. Hingga tahap awal, sebanyak 10 paket pekerjaan telah berjalan, dan akan disusul 12 paket pekerjaan berikutnya.
“Beberapa ruas jalan yang saat ini sudah dan sedang ditangani di antaranya Jalan Sunda, Jalan Tamansari, Jalan Wastu Kencana, serta menyusul Jalan Gunung Batu dan kawasan Dago,” kata Rizki.
Baca Juga:PRIME PARK Hotel Bandung Hadirkan Promo “April at Prime – Simply Better Stay”
Selain perbaikan jalan, Pemkot Bandung juga terus mendorong pembangunan trotoar yang inklusif. Saat ini, panjang trotoar yang telah terbangun mencapai sekitar 230 kilometer atau 66 persen dari total kebutuhan. Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan, seperti keterbatasan lebar lahan hingga keberadaan utilitas dan pohon yang menghambat pengembangan trotoar.
“Standar ideal trotoar minimal 1,5 meter, namun di beberapa lokasi masih kurang dari itu. Ini menjadi pekerjaan rumah yang terus kami benahi secara bertahap,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi jalan di Kota Bandung saat ini masih menyisakan sekitar 71 kilometer yang mengalami kerusakan ringan hingga berat dari total panjang jalan sekitar 984 kilometer. Kerusakan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, terutama curah hujan tinggi dan sistem drainase yang belum optimal.
“Air yang melimpas ke badan jalan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan. Karena itu, penanganan drainase menjadi bagian penting dari penataan infrastruktur,” tambahnya.
Rizki mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas kewenangan dalam penanganan jalan. Pasalnya, tidak seluruh ruas jalan di Kota Bandung berada di bawah kewenangan Pemkot, melainkan juga pemerintah provinsi dan pusat.
Baca Juga:Hari Pelanggan Nasional, PLN Bandung Tingkatkan Layanan Lewat Pemeliharaan di GI Rancakasumba
“Koordinasi terus kami lakukan, baik dengan pemerintah provinsi maupun pusat. Jika ada laporan masyarakat terkait jalan rusak, kami segera tindak lanjuti sesuai kewenangan, bahkan jika perlu dilakukan penanganan sementara,” ujarnya.
Melalui berbagai upaya tersebut, Pemkot Bandung optimistis penataan infrastruktur akan semakin merata dan berdampak langsung pada kenyamanan mobilitas warga.
“Target kami, seluruh jalan di Kota Bandung dapat terpelihara dengan baik secara bertahap, didukung trotoar yang nyaman dan sistem drainase yang optimal,” tuturnya. (*)







