JuaraNews, Bandung – Acara Meet & Greet film Sadali di Ciwalk, Kota Bandung, Minggu (1/2/2026), berlangsung hangat dan disambut antusiasme tinggi dari para penonton.
Acara ini menjadi momen spesial bagi para penonton untuk bertemu langsung dengan para pemeran utama film yang diproduksi oleh MVP Pictures.
Sejumlah pemain utama film Sadali hadir dalam kegiatan ini yakni Adinia Wirasti, Ajil Ditto, Deasy Natalia, Faiz Fishal.
Film kelanjutan cerita dari “Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu” yang dirilis 2024 ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.
Sadali melanjutkan kisah yang telah menyentuh banyak penonton melalui film sebelumnya, Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu.
Film ini kembali membawa penonton menyelami konflik perasaan yang belum usai dalam hubungan cinta segitiga antara Sadali, Mera, dan Arnaza.
Sadali masih mengejar dan menyimpan harapan untuk kembali bersama Mera, sementara Arnaza pun belum mampu melepaskan cintanya kepada Sadali.
Di tengah tarik-ulur perasaan tersebut, ketiganya dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah mereka akan menemukan cinta masing-masing, atau justru terjebak dalam kisah yang tak pernah selesai?
Disutradarai oleh Kuntz Agus, Sadali dikemas dengan pendekatan penceritaan yang intim dan sinematografi yang puitis.
Film ini menyoroti sisi rapuh seorang pria ketika kehilangan sosok perempuan yang dicintainya, sekaligus menggambarkan bagaimana cinta dapat menjadi sumber harapan sekaligus luka.
Pengalaman Pemain saat Syuting

Kekuatan cerita juga diperkuat oleh gaya khas penulis Pidie Baiq, yang kembali menghadirkan dialog-dialog penuh rasa dan “gombalan” sederhana namun membekas di hati penonton.
Ajil Ditto ditemui setelah kegiatan meet and greet mengungkapkan pengalamannya terutama saat beradu akting dengan Adinia Wirasti.
Apalagi, kedua terpaut usia yang cukup jauh. Meski demikian, seiring berjalannya waktu keduanya bisa menemukan chemistry sehingga tak menemui kendala berarti.
“Ternyata (perbedaan) umur itu malah ngebantu di film yang pertama. Karena gap umurnya juga jauh kan antara Sadali dan Mbak Mera,” ungkap Ajil Ditto.
“Jadi gimana caranya si groginya itu ya coba kita translate ke dalam adegan film, ke acting. Jadi dia sedikit banyaknya ngebantu, terus makin lama ngobrol, akrab. Jadinya makin dekat terakhir-terakhir sudah nyantai banget,” ucapnya.
Sedangkan Adinia Wirasti mengatakan, salah satu tantangan saat syuting film ini yakni harus menginterpretasikan hubungan Sadali dan Mera.
“Sebenernya yang paling sulit itu sejauh kemarin kami syuting itu adalah bagaimana menginterpretasikan keintimannya Sadali dan Mera dengan cukup dewasa,” ungkapnya.
“Karena kan sebenernya kalau kita bicara mengenai hubungan antara perempuan dan laki-laki dan perempuan yang lebih tua, itu kan kesannya tuh konotasinya banyak sekali yang negatif,” ujarnya.
Sutradara Kuntz Agus menurut Adinia Wirasti, bisa mengemas film ini dengan pendekatan penceritaan yang intim dan sinematografi yang puitis.
“Dan ini kami mas Kuntz juga sangat menjaga, supaya memang hubungan mereka tuh manis, tapi dalem. Secara emosional mereka memang nyambung,” jelasnya.
Melalui Sadali, para pembuat film berharap dapat menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman emosional yang membekas.
Selain itu membuka ruang refleksi bagi penonton tentang cinta, pilihan, dan keberanian untuk merelakan.







