banner 500x188

Inilah Wujud Kaset Pita yang Pernah Merajai Dunia Musik

Sebelum era digital merajai dunia musik, kaset pita atau kaset tab pernah menjadi primadona yang sangat fenomenal bagi para penikmat lagu.
Inilah bentuk kaset pita zaman dulu yang menjadi primadona kala mendengarkan lagu. (foto: juaranews/dasep rohimat)

JuaraNews, Bandung – Sebelum era digital merajai dunia musik, kaset pita atau kaset tab pernah menjadi primadona yang sangat fenomenal bagi para pencinta dan penikmat lagu.

Media penyimpanan pita magnetik yang sanggup merekam suara ini, lahir pertama kali di Eropa tahun 1963 lewat inovasi Philips.

Kaset ini terbuat dari pita magnetik yang berputar melalui roda kecil di dalam kotak plastik. Dengan sistem side A dan side B, kaset bisa diputar dari kedua sisi. Umumnya, satu album kaset berisi 9 hingga 12 lagu.

Baca Juga: Chrisye: Ikon Budaya dan Legenda Musik Indonesia

Setahun berselang, kaset pita menembus pasar Amerika Serikat dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1970–1990-an, bahkan berhasil menggeser popularitas piringan hitam.

Produksi massal pertama berlangsung di Hanover, Jerman, tahun 1964. Perkembangan teknologi Dolby dan penggunaan pita oksida logam pada 1970-an menjadikan kualitas suara kaset semakin baik hingga layak dipakai secara serius dalam industri musik.

Era keemasan kaset semakin bersinar pada 1980-an, ketika hadir pemutar portabel legendaris seperti Sony Walkman.

Baca Juga: Ozzy Osbourne: Perjalanan Sang Legenda hingga Tutup Usia

Industri musik Indonesia sempat bertumpu pada piringan hitam rilisan Lokananta, sebelum akhirnya kaset hadir dan mendominasi. Dari era inilah lahir deretan album legendaris milik Dewa 19, Jamrud, hingga Padi yang laris jutaan kopi pada masa itu.

Kaset pada masanya hadir dalam dua pilihan. Versi original tampil eksklusif dengan sampul berisi lirik lagu dan ucapan terima kasih musisi, sedangkan versi bajakan menawarkan harga murah tetapi kualitas seadanya.

Di era 2000-an, harga kaset original berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000, sementara bajakan hanya Rp5.000. Selain kaset album, kaset kosong juga populer karena penggemar bisa merekam lagu favorit dari radio atau meminjam kaset teman.

Era kaset juga menyimpan kisah tentang pensil yang akrab di tangan para pendengarnya. Dengan pensil, pita kusut bisa kembali rapi tanpa harus menekan tombol rewind (RW) atau fast forward (FF) dua tombol favorit yang ada di radio kaset.

Baca Juga: The Beatles! Ketika Mimpi Besar Tak Lagi Satu Suara

Kaset, Musik, dan Gaya Hidup Ikonik di Masa Lalu

Hadirnya Kaset pada masa itu bukan sekadar media musik, melainkan bagian dari gaya hidup pada masanya. Banyak orang membawa radio kaset ke mana-mana, bahkan memanggulnya di pundak sambil berjoget.

Walkman pun muncul sebagai simbol anak gaul era 1990-an, meski pita kaset kerap putus dan harus menyambungnya dengan lem atau solatip, daya tariknya tetap melekat kuat di hati para penggemarnya.

Kini, kaset tak lagi jadi raja, tetapi jejaknya tetap bersemayam di hati penggemarnya, sebagai bagian penting dari sejarah musik dunia. (dsp)