banner 500x188

IDI Jabar Imbau Warga Tak Panik Terkait Super Flu H3N2 Subclade K

IDI Jabar Imbau Warga Tak Panik Terkait Super Flu H3N2 Subclade K
IDI Jabar Imbau Warga Tak Panik Terkait Super Flu H3N2 Subclade K. (Foto:Ilustrasi/Net)

JuaraNews, Bandung – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat tidak panik pasca ditemukannya super flu atau H3N2 subclade K.

Diketahui, ada 10 warga Jabar positif terinfeksi super flu atau H3N2 subclade K, hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS).

Ketua IDI Jabar dr Moh Lutfhi mengatakan, data ini berasal dari Kementerian Kesehatan dan bukan hasil surveilans internal organisasi. Di mana kini datanya ada di Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan.

Baca Juga:KBB Langganan Keracunan Program MBG, 18 Siswa SMP 4 Lembang Alami Gejala Pusing dan Muntah

“Kalau data yang saya dapatkan sih di Jawa Barat itu ada 10 pasien yang diperiksa dan ternyata positif, dari pemeriksaan whole genome sequencing,” ujar Lutfhi dikutip, Senin (5/1/2026).

Super flu ini diakuinya memang tidak dikenal dalam dunia medis. Penyakit ini masuk dalam kelompok besar influenza like illness (ILI), yakni penyakit dengan gejala menyerupai flu. Menurutnya, ILI ini dapat disebabkan oleh berbagai virus, tidak hanya virus influenza.

“Nah, ini bisa disebabkan oleh virus influenza sendiri atau virus lain ya, seperti rhinovirus atau parainfluenza atau virus-virus yang lainnya,” paparnya.

Lutfhi menambahkan, untuk virus influenza, terdapat dua kelompok besar yang umum dikenal, yakni H1N1 dan H3N2. Di Indonesia, tipe H3N2 menjadi penyebab yang paling sering ditemukan.

Baca Juga:Dinkes KBB Ambil Sampel Makanan Penyebab Keracunan Massal

“Jadi sebetulnya H3N2 ini kan umum ya sebagai penyebab influenza dan tipe yang baru ini yang subclade K ini memang mutasi dari H3N2 tapi juga tidak lebih ekstrim gitu ya perubahannya ya hampir sama dengan virus yang lain,” terangnya.

Soal super flu ini, IDI Jabar meminta masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Dari sisi tingkat bahaya, penyakit ini dinilai hampir sama dengan flu biasa, meski penularannya relatif lebih cepat.

“Virus flu biasa saja sih sebetulnya. Tidak terlalu perlu dikhawatirkan seperti Covid gitu ya, berbeda sekali jenisnya.

Dan dari sisi apakah bahaya atau tidak hampir sama dengan virus-virus lainnya. Hanya memang lebih cepat menular,” katanya.

Baca Juga:Ini Jadwal Pekan 12 Super League 2025-2026, Persib Bandung tak Bermain

Menurut dia, virus influenza tipe A terbagi menjadi beberapa subtipe, di antaranya H1N1 dan H3N2. H1N1 dan H3N2 sama-sama merupakan virus influenza tipe A, tetapi memiliki perbedaan pada pola penularan dan dampak klinisnya.

H1N1 dikenal sebagai flu babi dan sering menimbulkan gejala flu ringan hingga sedang, terutama pada kelompok usia muda, meski tetap bisa berbahaya bagi kelompok rentan.

Sementara itu, H3N2 lebih sering ditemukan dalam kasus influenza musiman dan cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat, terutama pada lansia dan orang dengan daya tahan tubuh rendah. Dari pengalaman klinis, H3N2 lebih sering ditemukan.

Rhinovirus merupakan virus yang paling sering menjadi penyebab flu biasa atau pilek pada manusia. Virus ini menyerang saluran pernapasan bagian atas dan mudah menular, baik melalui percikan saat batuk atau bersin, maupun lewat tangan dan benda yang terkontaminasi.

Baca Juga:Super Chess Series III: FM Satria Duta Cahaya & Universitas Brawijaya Borong Gelar Juara

Sedangkan parainfluenza, meski gejalanya sering mirip, seperti demam, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Pada anak-anak, parainfluenza sering menjadi penyebab croup (batuk menggonggong), sedangkan pada orang dewasa biasanya menimbulkan gejala flu ringan

“Masalahnya sekarang, salah satu penyebab ILI yang paling sering ditemukan memang influenza, dan tipe yang dominan adalah H3N2,” katanya.

Di Jawa Barat, Luthfi mengakui angka kasus ILI tergolong tinggi. Faktor kepadatan penduduk dan mobilitas masyarakat dinilai turut berperan. Meski begitu, ia menekankan tidak ada lonjakan kasus yang ekstrem.

“Kasus ILI di Jawa Barat memang tinggi, untuk data mungkin bisa disampaikan oleh Dinkes, tapi tidak ada fluktuasi yang sangat tajam. H3N2 ini sering ditemukan sejak dulu, hanya saja saat ini kasusnya terlihat agak meningkat dibanding sebelumnya,” ucapnya.

Ia juga menyoroti faktor cuaca sebagai salah satu pemicu. Peralihan musim dan kondisi cuaca yang tidak menentu, dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga masyarakat lebih mudah tertular virus flu.

Terkait pencegahan, Luthfi menegaskan vaksin influenza masih efektif melindungi dari subtipe H1N1 maupun H3N2. Vaksinasi kata dia, dapat menurunkan risiko tertular dan meringankan gejala jika seseorang tetap terinfeksi.

“Vaksinasi influenza dianjurkan karena bisa mengurangi risiko tertular. Kalaupun tertular, gejalanya biasanya lebih ringan dan pemulihan lebih cepat,” katanya.

Kendati demikian, ia mengakui kesadaran masyarakat terhadap vaksin influenza masih perlu ditingkatkan.Dikatakannya, selama ini vaksin lebih banyak diprioritaskan untuk kelompok tertentu seperti pasien dengan daya tahan tubuh rendah, penderita autoimun, dan pasien kanker.

“Belum sepenuhnya tersosialisasi ke masyarakat luas. Padahal, terutama untuk usia lanjut, vaksin ini penting karena daya tahan tubuhnya lebih rendah dan risikonya lebih tinggi,” tuturnya.

Dia mengimbau masyarakat, untuk tetap menerapkan pola hidup sehat, mulai dari menjaga asupan makanan, istirahat cukup, hingga menerapkan etika kesehatan.

Baca Juga:Ratusan Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis di Alfamidi Podomoro Super Bandung

“Kalau sehat, jaga pola hidup sehat dan gunakan masker saat berada di kerumunan. Kalau sedang sakit, terapkan etika batuk, rajin cuci tangan, dan gunakan masker saat berinteraksi. Vaksinasi influenza juga bisa menjadi pertimbangan, terutama bagi kelompok rentan,” katanya.

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan RI memastikan virus influenza A(H3N2) subclade K atau yang kerap disebut super flu sudah ditemukan di Indonesia.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. (*)