JuaraNews, Bandung – Momen bahagia menjemput buah hati justru berubah menjadi pengalaman mencekam bagi seorang ibu asal Cimahi.
Insiden yang terjadi di ruang perawatan bayi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) ini memunculkan kekhawatiran serius terkait pengawasan pasien, khususnya bayi.
Nina Saleha (37) mengaku hampir kehilangan bayinya saat proses kepulangan dari ruang NICU. Bayinya sebelumnya menjalani perawatan selama lima hari karena mengalami penyakit kuning, setelah dirujuk dari rumah sakit lain.
Baca Juga: Penjualan Bayi Terungkap, DPRD Tegaskan Bahaya Pernikahan Dini dan Pergaulan Bebas
Peristiwa bermula ketika Nina dan suaminya meninggalkan ruangan sejenak untuk makan, sambil menunggu proses administrasi selesai. Namun, saat kembali, situasi yang mereka temui jauh dari dugaan.
“Saat saya kembali, saya lihat bayi saya sudah dibawa oleh orang lain. Padahal saya hafal betul selimut dan pakaiannya,” ujar Nina, Kamis, (9/4/ 2026).
Panik, Nina langsung menghampiri perempuan yang menggendong bayi tersebut untuk memastikan. Ia mengaku mengenali dengan jelas wajah dan perlengkapan bayinya. Namun, hal yang membuatnya semakin khawatir adalah tidak adanya gelang identitas pada bayi tersebut.
Baca Juga: Skema Beasiswa Jabar Berubah, DPRD Pastikan Tepat Sasaran untuk Warga Miskin
“Saya bilang, itu anak saya. Saya yang merawat, saya yang tahu bajunya. Tapi saat saya lihat, gelang namanya sudah tidak ada,” katanya.
Dalam kondisi panik, Nina memanggil perawat dan sempat berteriak karena takut bayinya akan dibawa pergi. Dari penjelasan petugas, bayi tersebut diserahkan kepada pihak lain setelah nama Nina dipanggil namun tidak ada respons.
“Susternya bilang sudah memanggil nama saya, tapi karena tidak ada, bayinya diberikan begitu saja,” ungkapnya.
Baca Juga: Ibu Muda di Subang Bunuh Anak Usai Cekcok dengan Suami
Proses Penyerahan Harus Aman
Padahal, bayi tersebut masih berusia sekitar satu minggu dan baru saja menjalani perawatan intensif. Kondisi ini seharusnya menuntut pengawasan ekstra ketat, termasuk dalam proses penyerahan kepada keluarga.
Insiden ini meninggalkan trauma mendalam bagi Nina dan suaminya. Mereka berharap pihak rumah sakit memberikan penjelasan terbuka serta melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga kini, pihak RSHS belum memberikan keterangan resmi. Meski demikian, Nina menyebut pihak rumah sakit telah menghubunginya secara langsung dan menyampaikan permintaan maaf setelah peristiwa tersebut menjadi perhatian publik. (dsp)







