JuaraNews, Bandung – Run For Humanity (RFH) 2026 akan kembali digelar di Kota Bandung dengan menghadirkan kategori lomba 5 kilometer dan 10 kilometer.
Event olahraga yang mengusung misi kemanusiaan ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 19 April 2026, dengan titik start dan finish terpusat di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Bandung.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia tetap mempertahankan sebagian besar rute seperti tahun sebelumnya, hanya saja lokasi start dan finish kini dipusatkan di kawasan Balai Kota untuk memudahkan pengaturan jalannya acara.
Race Director RFH, Eka Enani Putra, menjelaskan sekitar 70 persen rute masih mempertahankan jalur lama, hanya dilakukan penyesuaian pada posisi start dan finish yang kini berada di area Balai Kota.
Baca Juga: Reborn Indonesia Gelar Aksi Jaga Bandung, Serukan Damai dan Solidaritas
“Start dimulai dari sisi pintu keluar Balai Kota, kemudian peserta turun ke arah bawah gereja, belok kiri menuju Jalan Ir. H. Juanda (Dago), lalu mengikuti rute tersebut hingga kembali turun. Untuk kategori 5K nantinya akan keluar melalui kawasan Jalan Riau,” jelas Eka usai konferensi pers di kawasan Jalan Cipaganti, Kota Bandung, Sabtu (7/3/2026).
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menggunakan konsep fun run, pada tahun ini seluruh rangkaian Run For Humanity akan digelar dalam format race atau lomba kompetitif.
Keputusan ini diambil setelah melihat antusiasme peserta pada seri terakhir tahun lalu yang digelar dengan konsep lomba.
Selain itu, kata Eka dari sisi teknis akan melakukan peningkatan dengan menghadirkan timing system resmi untuk mencatat waktu lari peserta secara akurat. Sistem ini merupakan masukan dari para pelari yang ingin mengukur performa mereka secara lebih profesional.
Baca Juga: AHY Run 2025 Siap Digelar di Saparua, 6.000 Pelari Bakal Rebut 5 Paket Umroh Gratis
Jumlah Peserta Tahun Lalu Lampaui Target Panitia
Dari sisi partisipasi, Eka mengungkapkan antusiasme peserta pada tahun lalu melampaui target yang ditetapkan panitia. Dari target awal sebanyak 2.500 pelari, tercatat sekitar 2.800 orang ambil bagian dalam ajang tersebut.
“Melihat tingginya minat masyarakat, kami pun menaikkan target peserta pada tahun ini menjadi 3.000 pelari. Bahkan, kawasan Balai Kota Bandung di Bandung dinilai masih mampu menampung hingga sekitar 4.000 pelari,” tandas Eka.
Eka merencanakan Run for Humanity 2026 digelar di empat kota sepanjang tahun. Setelah Bandung, ajang ini kemungkinan berlanjut ke Surakarta (Solo), sementara dua kota lainnya masih dalam tahap penjajakan.
“Dengan konsep kompetisi baru dan target peserta yang lebih besar, RFH 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga mampu menggerakkan kepedulian sosial masyarakat secara lebih luas,” tandasnya.
Baca Juga: Pocari Sweat Run 2025 Kembali Digelar di Bandung, Ini Detailnya
Selain melibatkan pelari dari berbagai komunitas, Eka menyebut ajang Run For Humanity (RFH) juga berpotensi menarik partisipasi atlet nasional. Salah satu yang dipastikan ikut ambil bagian ialah Agus Prayogo, pelari maraton nasional yang selama ini dikenal aktif mendukung berbagai kegiatan lari di sejumlah daerah.
Agus Prayogo mengaku telah mengikuti dan mendukung kegiatan RFH sejak awal penyelenggaraannya.
“Event ini bukan hanya soal lari, tetapi juga memberi kontribusi nyata untuk pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan. Itu yang membuat banyak orang tertarik ikut berpartisipasi,” ujarnya.
Menurutnya, konsep olahraga yang dipadukan dengan misi sosial menghadirkan daya tarik tersendiri bagi para pelari, karena tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga ikut berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan.
Baca Juga: Pecatur Muda Bidik Rating dan Gelar di Turnamen Catur Internasional
Tak Sekadar Olahraga, RFH Hadirkan Gerakan Sosial

Sementara itu, Founder RFH, Dimas Seto menegaskan bahwa Run for Humanity tidak hanya menjadi ajang olahraga semata. Menurutnya, kegiatan ini juga mengusung misi sosial yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap isu kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan.
Dimas menyebut sebagian hasil dari penyelenggaraan RFH akan disalurkan untuk berbagai program sosial, termasuk bantuan kemanusiaan serta dukungan bagi pendidikan dan kesehatan masyarakat.
“Semangatnya sederhana. Lari bukan hanya untuk sehat, tapi juga menjadi cara untuk berbagi. Ketika kita sehat, kita juga bisa memiliki energi untuk peduli pada sesama,” ujar Dimas.
Dimas mengungkapkan di Kota Bandung sendiri, RFH juga berencana memberikan dukungan bagi anak-anak terlantar serta program sosial yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: AHY RUN 2025 Siap Digelar, Berhadiah 5 Paket Umroh
Bandung dipilih sebagai kota pembuka karena dinilai memiliki komunitas lari yang solid dan budaya olahraga yang kuat. Bahkan, menurut Dimas, hampir setiap pekan terdapat event lari yang digelar di Kota Bandung.
“Bandung itu salah satu kota paling aktif dalam olahraga lari. Komunitasnya guyub, masyarakatnya juga sangat terbuka terhadap kegiatan seperti ini,” pungkasnya. (dsp)







