Oleh: Rudi K. Erawan, S.Sos., M.M.
Founder MASAGI Insight
BANDUNG kota sejuta julukan. Mulai dari “Kota Kembang”, “Kota Kreatif”, sampai label yang paling modern: Smart City. Tapi, di balik semua slogan itu, hari-hari ini kita dipaksa menelan realitas pahit: gunungan sampah di TPS, bau menyengat dan hiruk pikuk logistik pengangkutan sampah yang lebih mirip plot sinetron daripada sistem manajemen kota kreatif.
Walikotana pinter, bageur, jeung seleb. Gubernurna jago Ngonten, nu bakal mawa Jawa Barat istimewa. Rakyat boga hak : naha pinter jeung populer cukup lamun gunung sampahna geus jadi ikon anyar kota?
Bahasa Cinta Urban: Dari Smart City ke Sampah City?
Dalam dunia NLP (Neuro-Linguistic Programming), bahasa punya kekuatan membentuk persepsi. Kata “kreatif”, “smart”, “inovatif” membangun narasi yang menjual mimpi. Tapi mimpi tanpa landasan realita adalah ilusi. Dan Bandung hari ini sedang dikoyak oleh ilusi yang dibayar mahal oleh warganya sendiri.
Baca Juga: Obat Alami Zaman Dulu, Warisan Leluhur yang Tetap Abadi
Kang Farhan sebagai Walikota yang piawai di panggung entertainmen perlu dibantu untuk menjadikan kota Bandung keluar dari darurat sampah, kadang kita lupa bahwa bau sampah itu tidak bisa disensor kamera. Bahwa angka tipping fee (biaya pengelolaan sampah per ton) terus membengkak tapi efisiensinya tidak ikut naik.
Data Tidak Pernah Bohong (Walau Bisa Diolah).
Perpres No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah menargetkan 30% pengurangan dan 70% penanganan sampah tahun 2025. Tapi bagaimana pencapaian kita hari ini?
Data Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat (2024):Produksi sampah Bandung Raya > 2.000 ton/hari, 40% belum terangkut secara rutin, TPS Sarimukti nyaris kolaps
Proyek TPPAS Legok Nangka molor bertahun-tahun, Bandung, kota yang katanya cerdas, malah terlihat bingung menghadapi gunungan hasil konsumsi harian warganya sendiri.
Pola Pikir Lama di Bungkus Narasi Baru.
Masalahnya bukan hanya teknis. Ini soal paradigma. Kota ini butuh lebih dari sekadar branding kreatif. Butuh systems thinking, bukan photo opportunity. Butuh public accountability, bukan gimmick kampanye.
Apakah kita terlalu sibuk membangun pencitraan kota tanpa membangun karakter kotanya? Apakah kota ini sedang diarahkan ke arah pencapaian “viral”, bukan sustainable?
Saatnya Warga Naik Panggung
Penulis percaya, perubahan datang dari keberanian berpikir beda. Dialektika “nalar séhat” menuntut kita mengulik, mengkritisi, dan memaksa akal sehat kembali naik ke panggung.
Baca Juga: Data Warga Jabar Diduga Bocor, Hacker Tampilkan Bukti di Dark Web
Warga Bandung tidak pada posisi objek pembangunan. Mereka subjek perubahan. Sudah saatnya komunitas, kampus, media, dan publik pedulu dan bangkit bersama:
Seperti apa teknologi yang dipakai oleh PLTSa, Kawal transparansi tipping fee & alokasi APBD, Dorong pengelolaan sampah berbasis komunitas (zero waste, circular economy), Kritis terhadap keterlambatan proyek TPPAS Legok Nangka, bila perlu usulkan audit secara independen
Bandung, Anu urang Sararea Urang kudu Sadar.
Bandung, kota seleb ini, sedang menuju tipping point. Kalau kita masih ingin menyebut kota ini sebagai kota masa depan, maka nalar publik harus bangkit hari ini.
Teu kudu sarjana, teu kudu aktivis, teu kudu seleb. Cukup warga nu daek nanya:
“Naha kota kreatif bisa kebobolan logika?”. (Bas)







