DINGINNYA udara Bandung dan sekitarnya seolah menyatu dengan kabar duka yang kembali menyergap ruang rasa dan batin masyarakat. Di tengah selimut hujan yang turun tanpa jeda, bencana longsor kembali terjadi dan meninggalkan luka mendalam bagi banyak keluarga.
Peristiwa memilukan itu terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Longsor terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, saat sebagian besar warga tengah terlelap dalam tidur. Dalam hitungan menit, tanah bergerak dan merenggut rasa aman, bahkan nyawa, meninggalkan kepedihan yang sulit terucap.
Dalam beberapa hari terakhir, kondisi cuaca memang tidak bersahabat. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut hampir sepanjang waktu. Warga yang selamat mengungkapkan, sebelum longsor terjadi sempat terdengar suara gemuruh dari perbukitan. Namun, kesiapsiagaan tidak bisa hadir secara instan terutama ketika ancaman datang di tengah malam.
Baca Juga: Dugaan Nepotisme di PDAM Tirtawening, DPRD Bandung Dorong Audit Menyeluruh
Menakar Kesiapsiagaan Bencana Masyarakat
Tragedi ini sejatinya menjadi cermin besar untuk menakar sejauh mana kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan tempat tinggalnya. Kesiapsiagaan idealnya dibangun berdasarkan jenis dan tingkat risiko bencana yang mengintai wilayah tersebut.
Di sisi lain, pemerintah melalui dinas dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga memikul tanggung jawab besar. Pengawasan terhadap risiko bencana harus dilakukan secara berkelanjutan, berbasis data yang valid dan mutakhir.
Dengan pemetaan risiko yang akurat, pemerintah dapat melakukan edukasi dini kepada masyarakat, bahkan menertibkan aktivitas yang berpotensi memperbesar peluang terjadinya bencana.
Baca Juga: Komisi V Dorong BPBD Perkuat Kesiapsiagaan Ancaman Bencana di Jabar
Peristiwa longsor di Pasirlangu menegaskan bahwa edukasi kesiapsiagaan bencana dan pengawasan aktivitas masyarakat masih perlu diperkuat. Wilayah ini diketahui memiliki aktivitas ekonomi berbasis pertanian yang cukup intens.
Namun, di balik upaya mencari nafkah tersebut, tersimpan risiko besar akibat metode pengelolaan lahan yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek keamanan, terutama saat hujan deras berkepanjangan.
Pemerintah tentu berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, keselamatan lingkungan dan warga harus dijaga. Di sisi lain, masyarakat juga tengah berjuang mempertahankan hidupnya.
Baca Juga: Erwin Ajak Warga Bandung Bangun Budaya Siaga Bencana Sejak Dini
Terlebih, belum semua daerah mampu menyediakan alternatif lapangan pekerjaan bagi para penggarap lahan apabila aktivitas mereka harus dihentikan demi keselamatan bersama.
Pentingnya Audit Lingkungan
Di sinilah audit lingkungan menjadi sebuah keniscayaan. Audit lingkungan harus dilaksanakan secara konsisten dan terstruktur, mulai dari tingkat RT, RW, desa atau kelurahan, kecamatan, hingga pengambil kebijakan tertinggi. Dari proses ini, akan diperoleh data akurat yang menjadi pijakan penting bagi OPD terkait dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
Audit lingkungan memungkinkan pemerintah memetakan risiko secara komprehensif sekaligus menyusun berbagai opsi kebijakan untuk meminimalkan kemungkinan terburuk. Tanpa audit yang serius, bencana hanya akan terus berulang dan meninggalkan duka yang sama.
Baca Juga: Pemprov Jabar Imbau Pemda Siaga Hadapi Bencana
Pentingnya Kerja Kolaborasi Lintas Sektor
Setiap keterbatasan dalam penanganan bencana sejatinya dapat diatasi melalui kerja kolaboratif lintas sektor. Kolaborasi akan berjalan efektif ketika setiap pihak memahami peran dan kapasitasnya, bergerak dalam satu komando, dan mengedepankan kepentingan kemanusiaan.
Keberhasilan kolaborasi tercermin dari cepatnya pelayanan kepada korban bencana, sekaligus terkoordinasinya berbagai bentuk bantuan baik material, tenaga relawan, maupun dukungan moral.
Baca Juga: 2.500 Personel Gabungan Disiagakan Antisipasi Bencana di Jabar
Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mencurahkan tenaga, waktu, dan kepeduliannya di lokasi bencana. Setiap bencana, di balik kepedihannya, selalu menghadirkan potret indah tentang kebersamaan sebagai satu bangsa. Simpati dan empati mengalir dari berbagai penjuru, membuktikan bahwa nilai kemanusiaan masih hidup dan menyala.
Semoga bencana serupa tidak kembali terulang. Karena sejatinya, bangsa yang bijak adalah bangsa yang mau belajar dari setiap peristiwa. Dan yang terpenting, kita tidak boleh kembali “diremedial” oleh bencana yang sama, akibat kelalaian dan pembiaran yang terus berulang.
Oleh: Rahmat Suprihat, S.Pd – Pendidik dan Aktivis Peduli Lingkungan Jabar (Pelija)







